Translate

Monday, May 22, 2017

Liburan Hari Kelima: Toyohashi dan Higashi Okazaki

Pukul 5 pagi, bus Willer yang kami naiki tiba di stasiun Toyohashi. Saat turun dari bus, rupanya pak supir sudah menunggu di luar dan memberi hormat kepada kami sambil menunduk beliau berterima kasih dan mengucapkan salam perpisahan. Saya pun balas menunduk dan mengucapkan terima kasih. Betapa ramah dan sopannya orang Jepang, sangat menghargai orang lain. Dan ternyata penumpang yang turun di Toyohashi hanya kami bertiga ๐Ÿ˜‚. 

Hari masih gelap dan hujan turun deras, udara jadi sangat dingin. Saya dan si kakak saling bertatapan dan ketawa ngakak karena nggak nyangka akan menggigil kedinginan seperti ini hahahah. Kami bergegas masuk ke stasiun kereta agar tidak kebasahan sekalian mencari petugas untuk bertanya.

Karena masih jam 5 pagi, suasana dalam stasiun sangat sepi. Horor juga sih, kebayang seandainya dari ujung lorong muncul sadako ๐Ÿ˜จ. Kebetulan ada seorang bapak sepertinya petugas kebersihan, saya pun bertanya dimana letak Toyotetsu Terminal Hotel. Beliau pun tampak bingung, beliau menyarankan kepada saya untuk menuju ke sebuah pintu keluar yang terdapat pos polisi di sisi lain stasiun. Kami mampir di toilet sebentar untuk membasuh muka, aje gile baru sadar klo tampang kami benar-benar lusuh karena baru bangun tidur hahhaha.

Saat menuju pintu keluar kami bertemu lagi dengan seorang wanita petugas kebersihan, beliau mengetahui letak hotel lalu memberi kami petunjuk jalannya. Syukurlah ternyata tidak jauh dari stasiun, di dekat Family Mart. Lucunya lagi justru pelayan toko di Family Mart sendiri tidak tahu letak hotel tersebut, padahal hanya berjarak sekitar 20 meter disamping Family Mart hahaha.

Setelah ketemu gedung hotelnya, ternyata resepsionis berada di lantai 6. Saya melapor kepada resepsionis hotel bahwa saya akan check-in siang ini di hotel tersebut, namun karena belum tiba waktu check-in maka saya akan kembali lagi siang nanti. Saya juga memberitahu bahwa koper saya baru akan tiba sekitar jam 12 siang, sehingga saya meminta mereka untuk menyimpan koper saya hingga saya kembali nanti. Saya pun memperlihatkan bukti pengiriman dari Kuroneko Yamato. Pak resepsionis mengerti dan mereka bersedia menyimpan koper saya sampai saya kembali ke hotel.

Saya menghubungi teman saya Roger, mengatakan bahwa kami sudah tiba di hotel. Roger mengatakan bahwa dia pulang kerja lebih awal jadi dia akan menjemput kami lebih cepat yaitu pukul 7:30 pagi di depan Starbucks tak jauh dari hotel. Sudah pukul 6 pagi saat itu, saya pun meminta izin kepada resepsionis untuk menunggu di lobby sebentar dan beliau pun mempersilakan. Si kakak sudah tertidur di kursi lobby sambil mendekap adiknya. Saya mengambil beberapa foto stasiun dari jendela hotel. Hujan masih turun saat itu.
Suasana sekitar stasiun Toyohashi dari jendela lobby hotel
Pukul 7:20 saya memutuskan untuk turun menuju Starbucks dan menunggu Roger di sana. Keluar dari gedung hotel, angin kencang dan udara dingin langsung menerpa kami. Wow dingin sekali anginnya bbrrrr. Para pekerja lalu lalang sambil memandang kami, beberapa dari mereka ada yang sibuk rebutan payung sama angin karena payungnya hampir diterbangkan angin hahhaha... 13 menit kemudian Roger pun datang dan kami naik ke mobilnya. Saya masih tak percaya akhirnya bisa bertemu muka dengannya setelah sekian tahun kami berteman di dunia maya.

Roger mengajak kami sarapan di sebuah restoran keluarga bernama Gusto. Kami ngobrol banyak disitu, si dede yang masih belum familiar dengan Roger pada awalnya akhirnya bisa akrab juga. Setelah sarapan, kami menuju ke taman dekat stasiun kereta untuk melihat sakura. Namun sayangnya begitu tiba di taman, hujan masih cukup deras. Akhirnya kami pergi berbelanja ke supermarket saja.
Hujan deras di Taman Toyohashi
Hujan masih deras saat kami menuju supermarket

Tiba di supermarket si kakak semangat 45 mencari vitamin rambut, karena vitamin rambut yang dia bawa ditahan petugas bea cukai di Bandara Soekarno Hatta. Ternyata tidak ada merk yang biasa ada di Indonesia. Akhirnya si kakak beli yang merk Jepang saja. Swalayan di Apita juga tersedia bermacam-macam bento dan onigiri. Di lantai atas ada toko pakaian dan toko buku. Saya pun membeli jaket buat si dede seharga 5292 yen dengan diskon 60% karena sudah lewat musim dingin sehingga harganya menjadi 2116 yen. Saya juga beli syal buat kami masing-masing seharga 1080 yen.

Selesai belanja, Roger pun mengantar kami kembali ke hotel. Saya berterima kasih kepadanya karena sudah meluangkan waktu untuk mengantar kami jalan-jalan di tengah kesibukannya. Roger pun tersenyum dan menyuruh kami bergegas masuk hotel karena hujan semakin deras. Tiba di lobby hotel, saya diberitahu oleh resepsionis bahwa koper saya sudah tiba dan boleh diambil. Saya mencoba menanyakan bisakah kami check-in lebih awal karena saat itu sudah jam 11:30. Dan ternyata boleh, saya lega sekali rasanya karena jarang ada hotel yang memperbolehkan early check-in di Jepang.

Hotel ini saya pesan melalui situs booking.com. Fasilitas di hotel ini cukup lengkap, ada TV, kulkas, kursi, private bathroom, toiletries, meja rias, hair dryer, electric kettle dan teh, tapi tidak tersedia air mineral jadi saya harus membeli di vending machine seharga 110 yen per botol ukuran sedang. Harga kamar yang saya dapat saat itu adalah 8086 yen per malam untuk kamar double room. Saya dan si kakak tidak sempat tidur, kami hanya mandi dan berdandan karena harus bergegas ke Higashi Okazaki untuk bertemu Bibi Mariko (kenalan si kakak).

Sekitar jam 1 siang kami meninggalkan hotel dan menuju stasiun Toyohashi. Hujan sudah reda tapi angin masih bertiup kencang, untungnya saya sudah beli syal jadi tidak kedinginan. Kami naik kereta Meitetsu line seharga 550 yen per orang ke stasiun Higashi Okazaki, perjalanan sekitar setengah jam. Tiba di stasiun Higashi Okazaki, kami sudah disambut oleh bibi Mariko. Si kakak dengan girangnya berlari memeluk bibi Mariko. Bibi Mariko lalu menyuruh kami memakai jaket tebal yang sudah dia persiapkan karena cuaca di luar sangat dingin. Benar saja, sedang turun hujan meski tidak deras tapi suhunya dingin banget.

Bibi pun mengajak kami ke toko oleh-oleh yaitu Daiso. Daiso disini memang cukup besar seperti yang dikatakan oleh bibi Mariko. Hampir semua produk harganya 108 yen sudah termasuk pajak, kecuali beberapa produk yang harganya 300 yen. Saya sampai bingung mau beli apa hahaha... akhirnya beli kaos kaki, gantungan kunci berbentuk aneka sushi, nori, serta mainan buat si dede. Lagi-lagi pulpen shinkansen tidak saya temukan disini. susah bener ya nyari si pulpen ini. Si kakak yang paling kalap belanja oleh-olehnya, total belanjaannya sampai hampir 3000 yen๐Ÿ˜ฑ. Saya dikasih oleh-oleh sup miso dan abon dari Bibi Mariko hehhe.

Nggak cukup cuma di Daiso, bibi Mariko pun mengajak kami ke tempat oleh-oleh lainnya yaitu 100 yen (Hyaku-en) shop dan Book Off Bazaar di Seiyu Department Store. Jaraknya tidak jauh dari Daiso, kami berjalan kaki meski hujan rintik-rintik. Di Perjalanan menuju Seiyu ketemu lagi dengan sakura. 

Si kakak dengan tas belanjaannya hahaha

Sempat-sempatnya foto sama sakura
selfie dulu sama sakura meski muka kusut hehee
Di Seiyu kami mampir di McD untuk makan siang, sayangnya bibi Mariko tidak bersedia ditraktir karena beliau sudah makan siang sebelumnya. Di Hyaku-en Shop saya membeli beberapa oleh-oleh juga. Selesai belanja, saya sempatkan berfoto dengan beliau. Hari semakin sore dan hujan semakin deras. Bibi Mariko mengantar kami ke stasiun JR Okazaki. Setelah membeli tiket kereta, saya memeluk erat beliau. Sedih rasanya berpisah dengan beliau meski baru kenal. Bibi Mariko berjanji akan datang ke Bali 1 setengah tahun lagi. Saatnya untuk pergi, kami saling melambaikan tangan. Sampai jumpa lagi Bibi, senang sekali bisa bertemu anda...

Kami kembali ke Toyohashi untuk beristirahat. Bersiap untuk petualangan esok hari menaklukkan kastil Nagoya ๐Ÿ˜„.



Friday, May 19, 2017

Liburan Jepang Gunung Fuji dan Kachi-Kachi Ropeway


Petualangan hari keempat kami adalah Fujiyama alias Fuji-san alias Gunung Fuji. Rasanya belum "afdol" kalau ke Jepang tapi tidak mengunjungi Gunung Fuji. Sebenarnya akan lebih efisien kalau perjalanan dimulai lebih pagi sekitar jam 7 pagi, karena lama perjalanan menuju ke Gunung Fuji (stasiun Kawaguchiko) dari stasiun Tokyo menggunakan kereta rapid adalah sekitar 3 jam dengan dua kali transit yaitu di Takao dan Otsuki. Tapi karena si kecil bangunnya sekitar jam 8, akhirnya kami baru bisa pergi pada jam 10 setelah membayar tiket bus willer ke Toyohashi di Family Mart, mengirimkan koper dan sarapan pagi sebentar di Seven Eleven.

Saya membeli tiket bus malam Willer Express ke Toyohashi melalui situs Willer Express. Namun sebelum bisa membeli tiket, kita diwajibkan mendaftar terlebih dahulu sebagai member. Setelah mendaftar dan memilih tiket, kita bisa melakukan pembayaran melalui Lawson atau Family Mart jika tidak memiliki kartu kredit. Panduan pembayaran bisa dilihat di situs Willer Express, sangat lengkap dan terperinci kok. 

Setelah selesai, kami pun menuju stasiun Tokyo untuk melanjutkan perjalanan ke Kawaguchiko.Dari Stasiun Tokyo kami naik JR Chuo Line rapid for Takao, dari Takao naik JR Chuo Line for Kofu ke Otsuki lalu naik Fujikyu Railway ke Kawaguchiko. Harga tiket dari stasiun Bakurocho ke Otsuki adalah 1660 yen, sedangkan dari Otsuki ke Kawaguchiko adalah 1140 yen. Ada juga kereta limited express yang lebih cepat dan tentunya lebih mahal harganya, harga dan jadwal keretanya bisa dilihat di situs HyperDia.

Di sepanjang perjalanan kami disuguhkan oleh pemandangan alam pegunungan dan pedesaan khas jepang yang sangat asri. Saya sempat memotret pohon sakura di beberapa stasiun yang kami singgahi. Keretanya juga beberapa kali melewati terowongan yang sukses bikin telinga saya seperti berada berjam-jam di atas pesawat terbang hahhaa...
Deretan bunga Sakura di sepanjang rel kereta
Sakura di stasiun Fujino
Maaf kalau yang ini saya lupa tempatnya :)
hanami
Sakura di depan stasiun Otsuki
Maaf, bukan maksud Pak Masinis menghalangi Gunung Fuji hehehe

Fujisan station
Gunung Fuji di stasiun Fujisan

Tiba di Kawaguchiko saya kedinginan karena tidak bawa syal, sarung tangan apalagi topi kupluk padahal suhu saat itu adalah 8⁰C. Kami pun mampir minum kopi di kantin stasiun Kawaguchiko, Gateway Fujiyama. Selain cappuccino seharga 450 yen, saya juga pesan tempura udon yang harganya 700 yen karena penasaran ๐Ÿ˜„. Rasanya yah lumayanlah, si dede juga suka udonnya. Si kakak lebih beruntung karena pesan caramel cappuccino yang lebih manis dari kopi saya. Meski saya sudah ambil beberapa gula sachet untuk ditambahkan ke kopi, tetap saja masih pahit hahaha... Mungkin saya ditakdirkan diet gula selama di Jepang.

Setelah makan, kami jalan-jalan sebentar disekitar stasiun lalu naik bis berkeliling Gunung Fuji. Jujur saja setelah tiba di Kawaguchiko, tiba-tiba otak saya jadi blank nggak tau mau kemana hahaha... Ditambah tidak ketemu signal wifi, saya pun pakai jurus terakhir, ikutin turis lain sajah hahahaa... Beberapa pemberhentian terlewati, saya masih belum yakin mau turun dimana, padahal dari Indonesia sudah ngebayangin foto disamping pohon sakura dengan latar Gunung Fuji ๐Ÿ˜„. Memang dasar ibu-ibu rempong kalau sudah ribet dengan anak jadi lupa tujuan awal hahaha... Akhirnya tiba di satu pemberhentian dan banyak penumpang yang turun, hampir setengah isi bus. Saya pun memberi kode ke si kakak untuk bergegas turun juga dan memang tidak mengecewakan karena kami turun di Kachi-kachi Ropeway yang terkenal itu. Jadilah kami beli tiket roundtrip untuk naik Kachi-kachi Ropeway seharga 800 yen per orang. Wow! antrian lumayan panjang, tapi nggak apa-apa karena tak lama kemudian kami sudah bisa naik. Pemandangan dari atas Ropeway cukup indah, tapi sayang karena saat itu hari sudah agak berkabut.
kachi-kachi ropeway
Danau Kawaguchi dari atas Ropeway
Hanya sekitar 3 menit naik ropeway, kami pun sampai di atas. Gunung Fuji lebih jelas terlihat dari tempat ini. Suhu juga lebih rendah sehingga tangan dan lutut saya menjadi kram. Saran saya jika anda akan berkunjung ke gunung Fuji, carilah info cuaca sebelum berkunjung dan persiapkan semua perlengkapan. Bagi yang muslim, sebaiknya membawa bekal karena agak susah menemukan menu halal. Kalaupun ada, tidak akan cukup waktu untuk wara wiri mencarinya.
Kawaguchi-ko
Gunung Fuji dari tempat Observasi
 
Gunung Fuji dan Fuji-Q Highland 
Gunung Fuji di sore hari dari stasiun Kawaguchiko
Hari menjelang malam ketika kami kembali ke stasiun Kawaguchiko. Sebelumnya saya sempat membeli oleh-oleh manisan apel dan manisan buah ume, saya suka manisan umenya. Di stasiun Kawaguchiko saya langsung membeli tiket kereta Fujikyu ke Otsuki.Tiba di Otsuki, saya bingung karena sudah jam 7 malam. Padahal saya harus tiba di Tokyo sebelum jam 10 malam karena harus naik bis ke Toyohashi. Saya bertanya ke petugas JR di loket dan rekomendasi dari petugas tersebut adalah kereta Limited Express Kaiji yang berangkat pukul 19:33 menuju Shinjuku, lalu berganti ke kereta rapid menuju Tokyo. Waktu kami hanya beberapa menit lagi sebelum kereta tersebut tiba. Saya pun setuju dan segera membeli tiket kereta tersebut. Karena mengejar waktu saya dan si kakak berlari menuju track yang sudah diberitahu oleh petugas.
Tiket Kereta Limited Express Kaiji
Di Dalam Kereta Limited Express Kaiji menuju Shinjuku
Setelah naik kereta, hati saya baru bisa lega. Si dede sudah tertidur karena kecapean, saya pun berusaha tidur karena lama perjalanan ke Shinjuku adalah 1 jam. Dari Shinjuku kami naik JR chuo line ke stasiun Tokyo. Bisa juga naik JR Yamanote line. Tiba di stasiun Tokyo sudah jam 9 malam, saya sempatkan membeli susu dan cemilan untuk si dede dan membeli kaos kaki di outlet Uniqlo. Bulan April cuaca masih dingin dan lembab, kaos kaki cepat lembab dan bau. Jadi saya sarankan membawa banyak stok kaos kaki agar kaki dan sepatu tidak bau.

Kami mencari pintu keluar South Yaesu untuk menuju ke Kajibashi parking lot, tempat bus Willer Express berada. Keluar dari stasiun saya bingung karena tidak melihat tempat parkir yang dimaksud. Akhirnya ketemu pak polisi ganteng bersepeda yang rela mengantarkan hehehe. Terima kasih pak, jasamu tidak akan terlupakan๐Ÿ˜Š. Pak polisi bahkan rela menunggu saya memotret beberapa pohon sakura di tepi jalan dan mengajak saya ngobrol. Dari pintu keluar South Yaesu, tinggal belok kanan lalu lurus saja menyusuri trotoar. Setelah ketemu lampu merah, lurus lagi dan itulah Kajibashi Parking lot. Pak polisi tadi mengantarkan kami sampai di lampu merah. Sayang sekali saya lupa selfie dengan beliau hehehe.

Memasuki area parkir saya melihat petugas bus Willer sedang sibuk memberi arahan kepada calon penumpang agar masuk ke ruang tunggu yang telah tersedia agar bisa memperhatikan pengumuman bus yang akan tiba dan akan berangkat. Tapi karena ruang tunggunya tampak sesak saya memutuskan untuk menunggu diluar.

Tak lama ada seorang bule yang tidak bisa bahasa Jepang sedang bertanya kepada petugas tersebut tentang jadwal bus dan beberapa informasi lainnya. Si petugas yang juga tidak terlalu fasih berbahasa Inggris jadi bingung. Mereka berdebat cukup lama. Saya pun mendekati petugas dan membantu menjelaskan maksud si pria bule. Dengan Bahasa Jepang seadanya saya bilang bahwa si bule ingin tahu jika jadwal busnya sudah tertera di papan pengumuman, dia harus melapor kepada siapa untuk bisa naik ke bus. Si petugas akhirnya mengerti lalu mengatakan kepada saya bahwa dia hanya perlu memperhatikan nomor tempat parkir dan mendatangi bus yang parkir di nomor tersebut, supir bus akan menunggu penumpang di samping bus. Jadi dia hanya perlu melapor kepada supir bus saja. Saya lalu menerjemahkan apa yang dikatakan oleh petugas tadi kedalam bahasa Inggris kepada si bule. Si bule pun ngangguk-ngangguk tanda mengerti. Dan case closed hahaha. Si bule berterima kasih kepada saya, begitu pun petugas yang menunduk sambil bilang arigatou gozaimashita. Saya balas menunduk dan bilang iie douitashimashite.

Masih 40 menitan lagi jadwal bis saya, saya dan si kakak memutuskan untuk jalan-jalan diluar tempat parkir mencari mini market. Ketemu Lawson, karena barang yang dicari si kakak tidak ada akhirnya kami jalan-jalan saja. Ketemu beberapa pohon sakura yang cantik, saya sempatkan memotretnya.
Cantik sekali sakura di Yaesu pada waktu malam
Yaesu
Bersih sekali kota Tokyo
Setelah puas jalan-jalan, kami kembali ke Kajibashi dan mencari info kedatangan bus. Masih belum muncul di papan pengumuman. Kami pun kembali menunggu di luar, kali ini ketemu dengan orang Indonesia yang sedang membawa keluarganya liburan. Kami mengobrol panjang lebar, sampai akhirnya tiba giliran mereka naik bus. Tak lama kemudian kami pun naik bus menuju Toyohashi.

Selamat tinggal Tokyo, sampai jumpa lagi nanti ya... 

Thursday, May 18, 2017

Liburan Jepang Hari Ketiga: Shibuya

Jalan-jalan hari ketiga kami hanya ke Shibuya karena si kecil rewel dan hari itu hujan lebat disertai angin kencang. Akhirnya kami yang sudah siap-siap dari jam 9 pagi, terpaksa tetap tinggal di hostel saja. Saya pun memutuskan untuk laundry pakaian saja.

Di Planetyze Hostel terdapat coin laundry, beruntung saat itu mesin sedang menganggur jadi saya leluasa menggunakannya. Namun saya lupa beli deterjen, celingak-celinguk akhirnya nemu deterjen cair dalam bentuk pods di samping mesin cuci. Entah milik siapa, karena ada banyak saya berasumsi pasti disediakan oleh pihak hostel. Seperti yang telah saya jelaskan di artikel sebelumnya, mesin cuci koin ini tidak ribet pengoperasiannya karena sudah otomatis. Tinggal masukkan deterjen dan baju lalu masukkan koin 200 yen dan mesin pun bekerja selama 30 menit. Setelah itu saya menggunakan mesin Dryer di atasnya. Saat itulah datang dua org bule yang juga pengen laundry. Mereka mencoba membuka pintu ruang laundry yang saya sengaja kunci dari dalam :). Begitu saya buka mereka terkejut kemudian bilang sorry sorry... Saya hanya tersenyum dan menawarkan mesin cuci yang memang sudah kosong. Mereka berdua tersenyum gembira.

Setelah semua pakaian dimasukkan ke mesin si bule bingung nyari deterjen, lantas saya bilang bahwa saya menggunakan deterjen cair yang ada di samping mesin. Si cewek bule pun mengambilnya.Deterjennya harum sekali, sepertinya sudah sekaligus dengan pewangi. Si bule memasukkan koin 200 yen lalu bingung mau mencet tombol yang mana, akhirnya dia mencet tombol yang ada ikon airnya. Ternyata saat berada di Jepang, semua orang bisa kumat kekatroannya gara-gara huruf kanji dan hiragana hehhe.

Pukul 3 sore hujan sudah mulai reda, saya membangunkan si kakak yang sedang lelap tertidur. Kami bersiap menuju Shibuya. Kami naik kereta JR Sobu Line dari Stasiun Bakurocho ke Stasiun Tokyo lalu berganti ke JR Yamanote Line menuju Stasiun Shibuya. Tiba di Stasiun Shibuya ternyata ramai sekali, saya dan si kakak sibuk memperhatikan petunjuk pintu keluar Hachiko Exit. Suasana setelah keluar dari Hachiko Exit ternyata super ramai dan penuh sesak. Mata saya langsung tertuju pada Shibuya Pedestrian Cross yang terkenal itu, wow ramai sekali!
Suasana saat keluar dari Stasiun Shibuya
Saya dan si kakak jadi semangat sambil senyum-senyum kami berdua mencari si patung Hachiko, tidak sabar pengen selfie hehehe. Ternyata si Hachiko terhalang sebuah bus yang dijadikan semacam pusat informasi (maaf pemirsah saya lupa namanya heheh). Di sekeliling patung sudah banyak turis yang antri untuk berfoto, saya dan kakak Shinji terpaksa harus rela menunggu giliran.
Kakak Shinji sudah tak sabar memotret Hachiko
Si dede main serobot antrian, malah nongkrong dibawah patung hehehe
Akhirnya kesampaian juga si Kakak foto sama Hachiko
Selfie dengan sakura di depan stasiun Shibuya :)

Puas foto-foto dengan Hachiko, kami pun menyeberang ke arah Shibuya 109 lalu menyusuri jalan menuju Don Quijote Shibuya. Kenapa tidak mampir di Shibuya 109? karena perut sudah lapar sekali jadi kami menyusuri jalan mencari KFC atau McD yang menurut peta adanya di sekita situ. Yup ketemu juga akhirnya di sebuah lorong di seberang Yamada Denki LABI. Pertama kali makan di McD Jepang, pesan nasi ternyata tidak tersedia nasi, hanya ada kentang goreng, paket ayam, serta burger. Okelah kami pesan dua jenis Beef Burger, kentang goreng dan pepsi. Kami naik ke lantai dua sudah penuh kursinya, akhirnya naik lagi ke lantai tiga alhamdulillah masih ada kursi kosong. Saya menatap sekeliling tidak terlihat pelayan, lalu ada pelanggan yang telah selesai makan membawa sendiri nampannya dan membuang sisa makanan serta perlengkapan makan di tempat sampah yang sudah disediakan. Wow luar biasa tertib dan disiplinnya orang Jepang.

Selesai makan kami lanjut ke Don Quijote, toko oleh-oleh paling populer selain Daiso. Karena si kakak pengen berpencar akhirnya saya naik ke lantai atas untuk mencari oleh-oleh titipan Mr. Hubby yaitu pulpen berbentuk Shinkansen. Sibuk muter-muter, akhirnya ketemu juga tempat alat tulis. Sayang sekali, setelah bertanya kepada pelayan toko rupanya tidak ada pulpen yang dimaksud. Akhirnya beli 2 set eraser unik berbagai macam bentuk seperti pesawat, kapal dan alat-alat pemadam kebakaran. Si dede tampak girang dengan mainan barunya. Si kakak yang dari tadi muter-muter masih belum menemukan apa yang dicari. Petualangan di Don Quijote harus berakhir karena tiba-tiba si dede "pup" dan di toko itu tidak tersedia toilet.Kami pun bergegas ke sebuah Mall di seberangnya, bukan untuk belanja tapi hanya numpang ke toilet. Harga produk di mall tersebut bisa membuat saya bangkrut mendadak hahahah...

Hari semakin malam, dan kami pun berjalan kembali ke stasiun. Tapi eits, ketemu H&M saya dan si kakak pun mampir sebentar. Dan jadilah kami beli dua jaket masing-masing seharga 1999 yen. Dalam perjalanan menuju stasiun kami bertemu iring-iringan mobil cosplay Mario Bross yang sedang konvoi di Shibuya, kebetulan mereka berhenti di lampu merah sehingga suasana semakin riuh oleh para fans yang sibuk mengambil foto maupun berselfie dengan mereka. Si kakak tidak ketinggalan turut mengabadikannya.

Malam itu kami pulang dengan hati gembira walau hanya bisa pergi ke Shibuya. (^-^)


Wednesday, April 26, 2017

Liburan Jepang: Menikmati Rintik Hujan di Asakusa, Sumida River, Ueno Koen, serta Uniknya Harajuku

Setelah istirahat full di hari Pertama, kami pun memulai petualangan di Jepang pada hari kedua yaitu sabtu 8 April 2017. Malam sebelumnya saya sudah janjian dengan salah satu mantan Manager saya di perusahaan dulu yaitu Fujisaki san mengenai jadwal tempat yang akan saya kunjungi agar disesuaikan dengan waktunya. Dan kami pun berjanji untuk bertemu di Asakusa Kaminarimon Gate.

Keluar dari hostel menuju stasiun Higashi Nihombashi. Lho? kok bukan Bakurocho??? yup begitulah pemirsah, Bakurocho tidak terhubung ke Asakusa tapi jalurnya ke Ryogoku. Jadi saya ke Higashi Nihombashi yang langsung menuju stasiun Asakusa. Di luar hostel hujan gerimis menanti kami, tapi tidak basah kuyup kok, hanya gerimis. Jalan ke Higashi Nihombashi lumayan juga, hampir nyasar karena ketemu perenaman bukan perempatan atau simpang lima lagi tapi simpang enam ahahah.. Untunglah ada bapak-bapak gaul yang nunjukin jalan hehehe...
Foto ditengah gerimis sebelum menuju ke Stasiun Higashi Nihombashi

Di stasiun Higashi Nihombashi, kekatroan saya kumat lagi, kenapa? karena salah mencet jumlah orang di mesin tiket jadinya saya beli 2 tiket dewasa dan 1 tiket anak. ya sudah lah... Tiba di stasiun Asakusa saya bingung lagi karena nggak bisa wifi-an buka maps mo ke kaminarimon.. akhirnya ketemu papan informasi dan yup ikuti aja petunjuknya, kelihatan deh Kaminarimon Gate yang very very famous itu... sugoi! Di pintu masuk menuju kuil Senso-ji itu, sudah ramai dipadati wisatawan, saya dan Fujisaki san janjian disitu. Karena saya sampai 30 menit lebih awal, meranalah saya menunggu selama 30 menit hahaha... Daripada bengong mending kami selfie saja disitu bersama para wisatawan lain.

Asakusa
Selfie di Kaminarimon Gate
Orang yang ditunggu akhirnya muncul juga, Fujisaki san masih belum banyak berubah, masih seperti 12 tahun yang lalu. Setelah bersalaman kami ngobrol sejenak di Kaminarimon Gate, lalu melangkah masuk menyusuri Nakamise dori. Banyak penjual souvenir yang cantik-cantik tapi harganya juga cantik hehehe. Saya menyempatkan masuk ke salah satu toko untuk membeli kaos kaki lucu, gunting berkarakter wanita Jepang dan sarung tangan anak saya. Mendekati Hozomon Gate, berjejer pohon sakura yang sangat indah. Ada beberapa wisatawan china yang pakai kimono, lucu lihatnya.
Asakusa
Deretan pohon sakura di Kuil Senso-ji
Wisatawan China yang memakai kimono :)
Kemudian kami tiba di Hozomon Gate, karena belum sarapan kami ditraktir chicken karaage oleh Fujisaki san. Bentuknya seperti ayam krispi tapi bumbunya enak banget. Puas banget makannya, walaupun sambil berdiri karena memang nggak disediaiin tempat. Hanya disediain tempat sampah sisa makanan dan kemasan saja heheehee. Sayang sekali saya lupa foto ayam karaagenya, mungkin karena saking fokus menikmati kelezatannya. Tapi ada koq produk lokalnya di Indonesia, cari aja di swalayan.

Asakusa
Hozomon Gate Senso-ji, Asakusa

Asakusa
Foto bareng Fujisaki san
Saya nggak masuk ke dalam kuil Senso-ji karena ada banyak orang yang beribadah dan ada banyak wisatawan juga di dalam. Saya hanya memperhatikan halaman kuil ada satu tempat bernama Mikuji yang dipadati wisatawan, setelah bertanya pada Fujisaki san ternyata itu tempat ramalan nasib hehehe pantas saja. Diseberangnya ada tempat membeli Omamori (jimat).
Mikuji
Asakusa
Tempat membeli Omamori
Setelah puas melihat-lihat, kami pun meninggalkan kuil Senso-ji menuju Sekai Cafe untuk makan siang. Salah satu tempat makan Halal di Asakusa adalah Sekai Cafe. Namun sayang karena kurang info, saat tiba di Sekai Cafe, hanya tersedia Pizza halal hahaha. Saya bertanya ke pelayan cafe yang berjilbab dan wajahnya seperti orang Indonesia menggunakan bahasa Jepang, karena penasaran saya tanya juga apakah dia bisa bahasa Indonesia dan ternyata memang orang Indonesia hahhaha.. Akhirnya kami makan Pizza aja dan minum jus.

Setelah puas bersantai di Sekai Cafe, kami melanjutkan perjalanan ke Tokyo Sky Tree, menara tertinggi di Jepang. Sayangnya Sky Tree tertutup kabut jadi hanya kelihatan setengah, akhirnya kami hanya foto-foto dan menikmati sakura di Sumida river saja.
Sumida river
Tokyo Sky Tree yang tertutup kabut di belakang gedung Asahi Flame

Sumida river
Shinji chan dan Hyuga kun sedang asik sendiri
Kakak Shinji sibuk foto-foto

Ibu dan Hyuga kun juga pengen selfie di bawah pohon sakura di Sumida River
Melihat deretan pohon sakura di tepi sungai Sumida, kami pun kalap untuk foto-foto hahhaha... Mimpi saya untuk melihat sakura secara dekat pun menjadi nyata... Karena gerimisnya semakin lama semakin deras, maka setelah puas foto-foto, kami pun kembali ke stasiun asakusa untuk menuju taman Ueno (Ueno koen). Kali ini beli tiketnya dibantu Fujisaki san jadi nggak salah lagi hehehe...

Tiba di Ueno koen wisatawan tambah padat, jalan menuju taman saja harus berdesak-desakan. Di dalam taman sudah jangan ditanya lagi situasinya, semua tempat full booked! Ternyata karena ini hari libur, jadi banyak warga Jepang yang sedang hanami di taman Ueno. Akhirnya kami hanya jalan-jalan berkeliling taman, lalu menuju tempat belanja di Ameyayoko-cho.
Ueno Taito
Padatnya taman Ueno karena Hanami
Walaupun hujan gerimis, Hyuga kun tetap semangat keliling taman
Ueno
Ameyayoko-cho
Menyusuri lorong kaki lima di Ameyayoko-cho hujan semakin deras, akhirnya saya memutuskan untuk membeli payung seharga 350 yen. Di sini saya juga sempat membeli es krim seharga 120 yen untuk ukuran kecil. Hujan-hujan makan es krim? yah begitulah kalau bawa anak hehehe... Kami hanya berkeliling disini, tidak ada niat untuk belanja karena yang saya temui justru banyak toko pakaian untuk cowok heheh...

Lelah jalan-jalan, Fujisaki san mengajak kami bersantai di Lotteria dekat stasiun Ueno. Full booked juga rupanya disini, tapi setelah menunggu sebentar, kami dapat tempat duduk juga akhirnya... Si Hyuga sudah tertidur karena capek. HP saya sudah menunjukkan signal kritis, akhirnya saya tanya ke Fujisaki san dimana tempat beli adaptor untuk charger HP saya karena saya lupa beli di Jakarta. Di Jepang colokannya pipih tidak seperti Indonesia. Akhirnya saya dikasih charger pipih oleh Fujisaki san... Tasukarimashita!!! Senangnya hatiku... Karena sudah sore, Fujisaki san tidak bisa menemani kami ke Harajuku. Kami pun berpisah di stasiun Ueno. Beliau kembali ke Fukushima dan kami lanjut ke Harajuku, tempat impian kakak Shinji hahaha...

Harajuku
Takeshita dori
Harajuku
Padatnya Takeshita dori
Keluar dari stasiun Harajuku, langsung nampak Takeshita dori di seberang. Alamak padatnya... Setelah menyebrang dan mulai masuk ke Takeshita dori rasanya tambah semangat. Walau berdesak-desakan tetap saja kami senang...Karena HP saya sudah lowbet akhirnya saya nggak bisa foto-foto lagi hahaha... Nebeng HP kakak Shinji saja. Karena niatnya pengen belanja disni akhirnya saya beli kaos dengan gambar kucing seharga 1500 yen dan kaos kaki panjang seharga 500 yen untuk kakak Shinji. Hyuga kun dapat mainan ice krim seharga 400 yen. Si Kakak sempet-sempetnya foto bareng si penjaga toko yang nyentrik abis hahaha...
Si Penjaga toko nyentrik :)
Jalan sampai ke ujung Takeshita dori, kami lalu berbelok ke Meiji dori melewati Forever 21 store dan H&M. Diseberangnya saya melihat ada Line Friends store, pengen kesitu tapi malas jalan lagi. Bener-bener capek. Kami hanya nongkrong di tepi jalan bersama para wisatawan lainnya. Si kakak gemes sama anjing milik wanita Jepang yang kebetulan lewat, sampai pake selfie segala. Akhirnya karena lapar kami balik ke stasiun, mampir di Yoshinoya disebelah pintu masuk Takeshita dori tadi. Di depan Yoshinoya saya dan si kakak agak ragu, tapi karena bingung HP dah lowbet dan saya dengar banyak orang Indonesia yang makan di sini akhirnya saya meyakinkan si kakak untuk makan di Yoshinoya saja.

Tiba di lantai atas (saya lupa lantai 2 atau 3) sudah saya duga ada orang Indonesia ahahah... Pada pelayan restonya saya bertanya menu yang nggak pakai babi. Saya bilang bahwa kami tidak bisa makan babi, jadi adakah menu lain selain babi. Lalu dengan sigap si pelayan restoran menyodorkan menu berbahasa Inggris (sebelumnya saya ambil menu berbahasa Jepang, gubrakkk!). Jadilah kami pesan beef bowl, menu favorit orang Indonesia saat makan di Yoshinoya hahahaa... Rasanya... hmmm lumayan lah. Saat sedang asik makan, datanglah rombongan turis Indonesia, lalu duduk disebelah meja kami. Mereka lagi bingung karena menunya dalam bahasa Jepang. Si Ibu yang sedang ngotot bilang dulu dia pernah makan menu babi di Yoshinoya tapi dia nggak ingat gambar yang mana. Lalu tanpa basa basi, saya memberi menu berbahasa Inggris kepada meraka. Saya bilang "Maaf bu, ini ada menu bahasa Inggrisnya" :). Si Bapak dengan senyum ramah mengambil menunya dan bilang terima kasih. Selesai makan kami segera pulang (tak lupa bayar di kasir tentunya heheh). Saat turun, kami berpapasan lagi dengan sekelompok cewek Indonesia berjilbab yang mau makan di Yoshinoya. Tuh kan memang Yoshinoya tempat favorit orang Indonesia di Jepang hahaha...

Di depan stasiun Harajuku, saya termenung memandangi papan jalur kereta, bukan karena papannya nyentrik seperti toko-toko di Takeshita dori, tapi karena tulisannya nggak ada bahasa Inggris hiks :'( sedih hati saya pemirsah... Mana HP saya lowbet, HP kaka Shinji juga nggak nemu signal wifi... akhirnya pake insting... Karena dah hafal letak stasiun saya dari stasiun Tokyo akhirnya saya beli tiket sesuai harga yang tertera di situ saja hehhehe... Toh kalau pun kurang kan ada mesin adjusment fare. Dan pulanglah kami dengan selamat naik JR Yamanote line for Tokyo lalu transfer ke JR Sobu line ke Bakurocho.

Demikianlah petualangan kami hari ini, walaupun rencana awal pengen ke Shibuya dan Odaiba, apa daya pemirsah kaki kami sudah nggak mampu lagi melanjutkan petualangan... Semoga petualangan hari ini bisa memberikan informasi yang bermanfaat bagi pembaca sekalian. Saatnya rehat untuk petualangan hari ketiga...

Jangan lupa ya selipkan pertanyaan atau komentarnya.... (^-^)v

Tuesday, April 25, 2017

Liburan Jepang Narita Airport & Planetyze Hostel

Pertama kali ke luar negeri membuat saya sedikit gugup dan khawatir. Karena takut telat tiba di bandara, saya ke bandara 3jam sebelum jadwal keberangkatan hahaha dan alhasil counter check-in belum dibuka. Sebelum check-in, bagasi kita akan dicek oleh petugas dengan alat khusus yang ditusuk ke dalam koper atau tas. Dan alhamdulillah bagasi saya semuanya aman. Proses pemeriksaan di Immigrasi juga berjalan lancar dan tanpa antrian panjang, mungkin karena penerbangan dini hari tidak sepadat siang hari. Petugasnya juga tidak banyak bertanya. Siapkan saja Paspor dan boarding pass saat mengantri di loket Immigrasi.

Penerbangan dengan maskapai JAL (Japan Airlines) juga lancar, hanya si kecil yang agak rewel saat akan landing. Bawalah cemilan yang membuat si kecil bisa mengunyah saat take off maupun landing agar telinganya tidak sakit. Sebagai penumpang muslim, saya tidak lupa memesan Halal Meal dan Child Meal untuk anak saya. Anak saya mendapatkan child meal yang cukup komplit.
Halal meal
Halal Meal
JAL Child Meal
Child Meal dari JAL

Tiba di bandara Narita, tempat pertama yang saya cari adalah toilet hahha.. Toilet di bandara Narita sangat bersih, dan ada banyak tombol-tombol. Ada tombol bidet buat cewek dan itu yang saya cari heheh karena di pesawat tidak ada. Setelah itu kami berjalan menuju Immigrasi untuk pengecekan paspor dan visa. Sebelumnya di pesawat telah dibagikan kartu Custom Declaration dan Disembarkation Card for Foreigner oleh pramugari. Nah kedua kartu tersebut diisi sesuai data dan tujuan anda. Tiba di loket Immigrasi Jepang antrian sudah sangat panjang, sehingga saya dan penumpang lainnya diarahkan ke loket Immigrasi lainnya di bagian Immigrasi khusus warga Jepang. Di loket Immigrasi, sidik jari dan mata kami dipindai oleh petugas lalu paspor kami distempel dan kami pun bisa turun satu lantai untuk mengambil bagasi. Setelah mengambil bagasi kami menuju bagian Custom dan menyerahkan kartu Custom Declaration tadi. Bagasi saya sudah tidak dicek lagi. Petugas hanya memeriksa kartu Custom Declaration tadi dan memperbolehkan kami keluar.

Di dekat pintu keluar terdapat Tourist Information Center dan loket pembelian tiket kereta JR dan Keisei. Saya sedikit bingung harus naik apa dari bandara ke hostel di Bakurocho, padahal sebelumnya sudah lihat di Hyperdia kalau bisa naik NEX (Narita Express) milik JR atau pun kereta Keisei Line. Loket NEX dan Keisei berdampingan, saya jadi tambah galau mau beli yang mana. Keisei main line lebih murah tapi harus transit beberapa kali. Kalau NEX hanya sekali transit di stasiun Tokyo dan berganti kereta JR Rapid ke Bakurocho. Melihat koper dan tas tentengan yang lumayan bikin ribet akhirnya saya beli tiket NEX roundtrip seharga 4000 yen/orang karena lebih murah daripada beli tiket oneway seharga 2300 yen. Celakanya saya lupa kalau saya nanti pulangnya dari Chiba jadinya saya rugi 1700 yen hahahah... Kereta NEX memang nyaman dan lega, koper kami berdua masih bisa nyelip di depan kaki. 

Tiba di stasiun Tokyo saya bingung gimana mau lanjut ke Bakurocho, penyakit kedernya kumat hahahaa... Saya lupa kalau seharusnya tadi saya beli tiket terusan ke Bakurocho jadi nggak bingung transfer kereta. Akhirnya saya menuju pintu keluar untuk kereta NEX, lalu bingung karena nggak nemu mesin tiket kereta atau loket hahahah...Akhirnya nanya ke petugas polisi dalam stasiun Tokyo, dan diantar ke loket JR (baik sekali pak polisinya hehehe).

Saya bertanya ke petugas loket gimana cara ke Bakurocho. Dia bilang silakan beli tiket JR di mesin tiket di samping loket. Jiaaah tambah bingung saya... Gimana caranya pakai mesin yang isinya huruf kanji semua itu?? Secara saya nggak lulus ujian kanji hahahha... Saya balik lagi ke loket kasih tau kalau saya nggak tahu cara pakai mesin itu, si petugas masih ngotot nyuruh saya pakai itu mesin, katanya ikuti saja petunjuknya. Ajegile, mungkin si petugas pikir karena saya ngobrol sama dia pakai bahasa Jepang, jadi saya bisa baca kanjinya hahahaa... Akhirnya saya ngintip aja orang Jepang yang sedang beli tiket. Yes! saya tahu juga caranya hahaha... Saya tidak perhatikan ternyata di pojok kanan atas ada menu bahasa Inggrisnya hahaha...
Peta jalur dan harga tiket kereta

Jadi untuk jalur dalam kota, kita bisa membeli tiket di mesin tiket. Sedangkan untuk jalur luar kota atau untuk kereta Shinkansen, belilah di konter tiket. sebelum menggunakan mesin tiket, lihatlah dulu keatas mesin tiket ada papan besar yang berisi peta jalur yang telah tertera harga tiket dan nama stasiun kereta dari masing-masing stasiun tujuan yang anda tuju, misalnya dari stasiun Tokyo ke Bakurocho harga yang tertera adalah 140 yen dan jalur yang digunakan adalah JR sobu line rapid.

Setelah membeli tiket, kami menuju pintu masuk sesuai jurusan/ line di tiket. saya mencari gate untuk JR sobu/Chuo line, masukkan tiket ke mesin di pintu masuk, tiket akan keluar di ujung mesin, ambil tiket dan masuklah, simpan tiket untuk mesin tiket di pintu keluar nanti. Saya mengikuti petunjuk yang ada platform jurusan tempat tujuan saya. Kadang kita harus turun ke bawah atau naik ke lantai atas sesuai petunjuk jurusan yang anda tuju. Lihat nomor track kereta anda, misalnya di nomor 3 maka berdirilah di jalur nomor 3, ada tulisan keterangan jurusan/ line di setiap jalur. Kereta rapid biasanya bebas naik di gerbong mana saja, jadi antrilah di garis yang telah disediakan. Selalu berdiri di belakang garis kuning demi keselamatan anda. Saya selalu bertanya kembali kepada orang yang di sekitar saya mengenai jalur/track yang benar menurut tiket saya, dan mereka selalu dengan senang hati menjelaskan.

Ketika kereta datang, tunggulah hingga semua penumpang yang turun selesai turun barulah anda boleh naik. Sopan santun di kereta wajib dijaga. Matikan suara telepon genggam anda dan jangan mengobrol di dalam kereta karena akan menggangu ketenangan orang lain. Di Tokyo kereta sangat hening, kalau pun ada yang berbicara biasanya hanya bisik-bisik. Perhatikan pengumuman stasiun tujuan yang biasa diumumkan dalam bahasa Jepang dan bahasa Inggris. Saking seringnya saya fokus dengan pengumuman hingga saya hafal pengumuman dalam bahasa Jepangnya hahahaa... Atau bisa dibaca di monitor di atas pintu kereta. Bersiaplah di depan pintu sesaat sebelum kereta tiba di stasiun tujuan. Dan turunlah ketika sampai di tujuan. Cari petunjuk pintu keluar jalur anda, jangan sampai salah keluar dari jalur seperti yang saya alami, akhirnya tiket saya keluar lagi hahaha.. Ketika keluar di pintu keluar masukkan tiket anda, tiket tidak akan keluar lagi dan pintu akan terbuka. Di stasiun ada beberapa pintu keluar dari gedung stasiun, carilah pintu terdekat ke tempat tujuan anda. Saya mencari pintu keluar C6 yang paling dekat dengan hostel saya. 
Planetyze Hostel Tokyo
Cuaca di tokyo saat saya tiba adalah 9°C, dan saya hanya pakai baju 2 lapis ditambah jaket. Anak saya juga hanya mengenakan baju dua lapis (kutang dan kaos) ditambah rompi rajut dan jaket fleece, sepertinya dia nggak menunjukkan tanda-tanda kedinginan hehe. Ketika keluar dari stasiun Bakurocho tempat hotel saya berada, angin malam berhembus kencang dan anginnya sangat sangat dingin. Memang benar yang dibilang suami saya bahwa sebenarnya yang dingin adalah anginnya. Kami bertiga kedinginan karena nggak bawa sarung tangan dan syal hahaha... akhirnya mampir di seven eleven beli roti, ayam krispi dan teh hangat karena perut sudah lapar. Teh di Jepang itu seperti iklan, nggak ada manis-manisnya gituh ahahaha... nyesel belinya karena tidak bisa saya minum hahaha...

Tiba dihostel Planetyze sudah jam 9 malam, langsung check-in dan resepsionisnya ramah banget. Kamarnya bersih dan toiletnya walaupun buat rame-rame tapi bersih dan ada bidet-nya. Ada Coin laundry di beberapa lantai, 200 yen untuk sekali mencuci dan 100 yen untuk 20menit pengering. Cara penggunaan coin laundry juga nggak ribet, tinggal masukkan pakaian dan deterjen, tutup dan masukkan koin 200 yen di tempat koin dan mesin langsung jalan. kalau mau mengunci penutup mesinnya tinggal tekan tombol yang ada di mesin saya lupa yang sebelah mana hahha.. Dryer juga begitu, masukkan baju, tutup dryernya, lalu masukkan koin 100, 200 atau 300 yen sesuai keinginan anda dan mesin akan langsung jalan. Gampang kan? Saya sih biasanya kalau pakai dryer menghabiskan 400 yen karena pakaian saya banyak hehehe...
Mesin Coin Laundry dan Dryer di Planetyze Hostel
Tersedia air minum dan air hangat gratis di lobby hostel. Lumayan karena harga air mineral di vending machine adalah 110 yen. Malam pertama di tokyo kami habiskan dengan istirahat full. Persiapan jalan-jalan besok pagi dengan Fujisaki san di Asakusa.