Translate

Showing posts with label sakura. Show all posts
Showing posts with label sakura. Show all posts

Tuesday, July 18, 2017

Liburan Jepang Hari kesembilan: Indahnya taman Osaka Zouheikyoku, Osaka Castle, Umeda Sky Building

Hari ini kami berencana untuk melihat bunga sakura di taman Zouheikyoku, berkunjung ke Osaka Castle, dan Umeda Sky Building. Sebenarnya saya ingin ke Tsutenkaku Tower tapi karena lokasi makan malam nanti akan lebih dekat dari Umeda Sky Building, maka acara ke Tsutenkaku saya batalkan. 

Tepat jam 10 pagi, saya sudah bersiap untuk turun ke lobby hotel dan menunggu kedatangan Tsurufuji san dan Tahara san. Saya kangen sekali dengan mereka. sudah lama sekali tidak bertemu. Tak lama kemudian Tsurufuji-san muncul dari pintu lobby. Tampak sedang membaca pesan teks di HPnya. Saya menyapa beliau dengan gembira. Tsurufuji san mengatakan bahwa Tahara san sedang berjalan menuju ke hotel ini. Kami pun duduk menunggu Tahara san di lobby hotel. Saya mengeluarkan beberapa gantungan kunci sebagai oleh-oleh dan mempersilakan Tsurufuji san untuk memilih salah satu yang disukai. Tiba-tiba muncul Tahara san dari pintu lobby dengan nafas terengah-engah. Beliau langsung protes kepada saya karena jarak dari stasiun ke hotel sangat jauh hahahha. Tahara san membawa banyak oleh-oleh untuk saya, saya senang sekali ๐Ÿ˜.

Kami naik taksi dari hotel menuju ke taman Zouheikyoku di Temma Kita-ku. Di pintu gerbang taman antrian sudah sangat panjang. Kami berjalan menuju gerbang taman sesuai arahan pak polisi. Ramai sekali pengunjung yang datang. Pada musim semi taman ini dibuka selama 1 minggu pada pertengahan April. Beberapa larangan selama berada di taman ini adalah; kita tidak diperbolehkan untuk makan dan minum, dilarang merokok, dilarang melewati area yang dibatasi oleh tali, dilarang membawa hewan peliharaan, dan dilarang membawa sepeda atau sepeda motor ke dalam taman. Tidak tersedia tempat parkir, jadi kita sebaiknya menggunakan kendaraan umum saat datang ke tempat ini.
Pintu masuk taman Zouheikyoku

Hanami in osaka
Pak Polisi sedang mengatur pengunjung
Terdapat sekitar 350 pohon sakura dengan 134 jenis yang bisa kita nikmati di jalur sepanjang 560 meter dari pintu selatan hingga pintu utara. Meski sangat ramai, para pengunjung sangat tertib mengikuti arahan pak polisi. Bunga sakura di taman ini memang sangat cantik hampir menyerupai bunga mawar. Saya bahkan melihatnya seperti bulu domba yang sedang menempel di ranting pohon hahaha. Saya merasa beruntung bisa berkunjung ke taman ini. Jenis-jenis sakuranya bisa dilihat di link berikut http://www.mint.go.jp/enjoy-eng/sakura-eng/eng-chart-cherry.html.
Best Smile
variety of sakura
Beberapa verietas bunga Sakura
green sakura
Ada yang warna hijau juga ๐Ÿ˜
Shidarezakura
hanami 2017
Love this place
Banyaknya varietas bunga sakura di sini membuat saya terkagum-kagum. Mendekati pintu keluar, hujan mulai gerimis. Kami bergegas meninggalkan Zouheikyoku dan mampir untuk makan siang di sebuah restoran bernama Yayoiken. Selesai makan siang, hujan masih gerimis hingga kami pun memutuskan untuk naik taksi ke Kastil Osaka.
Foto bersama di jalan masuk gerbang Otemon Kastil Osaka

Otemon gate
Otemon Gate
Kami masuk melalui Otemon Gate. Pohon sakura berukuran besar menyambut kami begitu memasuki gerbang Otemon. Kompleks Kastil Osaka ini sangat luas. Tamannya sangat asri dan cantik.Saya sangat suka suasananya. Wisatawan yang berkunjung sangat banyak. Saya juga melihat beberapa rombongan turis Indonesia.
Taman yang asri dan apik
Saya tidak sabar ingin melihat Kastil Osaka sehingga kami langsung menuju ke halaman bagian dalam. Saat memasuki halaman kastil, si kakak melihat ada yang menjual ice cream matcha. Lagi-lagi dia heboh pengen beli ice cream itu, jadi ya saya beli saja ice cream seharga 350 yen tersebut. Kini Kastil Osaka sudah tepat dihadapan saya. Tanpa menunggu lama, langsung saja saya memotret kemegahan Kastil Osaka ini. 
Istana Osaka
Osaka Castle
Mulutnya masih belepotan ice cream matcha ๐Ÿ˜‚
Sayang sekali kami tidak jadi masuk ke dalam kastil karena antrian di loket tiket sangat panjang sekali. Saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Umeda Sky Building saja. Akhirnya kami berjalan menuju stasiun terdekat melalui Yamazatomon Gate di bagian belakang kastil. Keluar dari Yamazatomon Gate, kita bisa melihat Uchibori (parit bagian dalam). Terdapat kapal wisata Gozabune Boat yang mengitari Uchibori ini.
Osaka castle gate
Yamazatomon Gate
Osaka Castle inner moat
Uchibori
Setelah dari Yamazatomon Gate, kami pun melewati Osaka Castle Hall menuju stasiun Osakajokoen. Saya sempat bercanda dengan Tahara san dan Tsurufuji san bahwa mungkin pada saat perang dulu banyak prajurit yang mati bukan disebabkan karena bertarung tapi karena kelelahan. Tahara san lalu bertanya kenapa bisa begitu? saya spontan menjawab sebab baru berjalan melewati halaman kastil ini saja saya sudah hampir mati lemas dan kehabisan nafas. Tahara san tertawa mendengar jawaban saya hahahha. Kenyataannya halaman kastil ini memang sangat luas.

Kami pun naik kereta JR rapid menuju ke stasiun Osaka, lalu berjalan kaki menuju Umeda Sky Building. Lagi-lagi dilema melanda karena Umeda Sky Building sudah kelihatan tapi ternyata untuk sampai kesana kami harus berjalan cukup jauh. Kalau naik taksi mungkin supirnya menolak karena terlalu dekat. Akhirnya dengan sisa tenaga kami pun berjalan kaki ke Umeda Sky Building. Agar tidak terasa pegalnya, kami sesekali bersenda gurai dan tertawa. 
Miniatur Umeda Sky Building
Tiba di Umeda Sky Building kami lalu mencari lift untuk naik ke lantai atas yaitu lantai 35. Dari lantai 35 kami naik mid-air escalator ke lantai 39 untuk menuju  Floating Garden Observatory.  Di lantai ini terdapat restoran dan toko oleh-oleh Shop Sky 39.
Penampakan Mid-air Escalator dari luar.
Umeda Sky Building
Mid-air escalator
Kami naik satu lantai lagi ke lantai 40 dengan eskalator biasa. Dari lantai ini kita bisa lihat kota Osaka dengan jelas serta tersedia banyak tempat duduk untuk bersantai menikmati pemandangan kota. Lalu kami naik lagi ke Roof Top untuk menikmati udara terbuka. Disini terdapat Heart Lock Fence alias pagar gembok cinta, gemboknya bisa dibeli di lantai 40 tadi. Pemandangan dari atap ini tidak kalah keren. Saya berkesempatan memotret beberapa foto.
Umeda sky building
Kota Osaka dari Floating Garden Observatory
Kota Osaka dan Sungai Yodo dari Roof Top Umeda Sky Building

Umeda Sky building
Roof Top Umeda Sky Building
Umeda sky building
Heart Lock Fence
Umeda ky Building ini buka dari jam 10:00 - 22:30. Biaya masuk untuk dewasa 1000 yen, siswa SMP dan SMA 700 yen, SD 500 yen, anak-anak 4 - 6 tahun 200 yen, lansia di atas 65 tahun 800 yen. Biaya parkir 400 yen/jam. Saya sempat mampir di lantai 39 untuk membeli oleh-oleh sapu tangan seharga 360 yen. Setelah itu kami pun meninggalkan Umeda Sky Building untuk jalan-jalan di sekitar Stasiun Osaka. Saya mampir membeli oleh-oleh buat suami di Yodobashi camera mall. Karena saya bawa paspor, saya dapat harga tax free hehehe. 


Setelah itu kami berkeliling di kawasan Umeda seperti Umeda Hankyu Main Store dan  Hanshin Department store. Setelah puas berkeliling kami pun menuju ke tempat kami janjian untuk makan malam yang telah dipesan sebelumnya oleh Furuya san. Restorannya bernama Ganko yang terletak tak jauh dari Stasiun Umeda Hankyu. Kami tiba lebih awal di restoran dan disambut oleh seorang pria yang mirip sekali dengan Furuya san, ternyata beliau adalah adik dari Furuya san yang bekerja di restoran tersebut๐Ÿ˜.  Beliau kemudian mempersilakan kami untuk memasuki sebuah ruangan. 

Setelah Furuya san tiba kaami pun makan malam. Segala menu makanan dipesan oleh mereka untuk menjamu kami. Saya jadi bingung mau makan yang mana. Saya pesan ayam karaage untuk si Alban soalnya takut dia tidak bisa makan sushi. Karena tidak ada menu nasi, kami pun pesan kentang goreng. Malam itu saya pertama kali mencoba makan sushi, dan rasanya lumayan enak walau terasa agak aneh di lidah karena saya belum terbiasa. Malam itu kami habiskan dengan canda tawa dan obrolan ringan. Saya jadi rindu masa lalu. 
Semoga bisa bertemu lagi
Selfie di depan Restoran Ganko
Kami berfoto ria sebelum pulang ke tempat masing-masing. Furuya san mengantar kami sampai ke hotel. Saya memberikan salam perpisahan sebelum beliau pergi. Terima kasih kepada semuanya. Malam ini saya tidur sambil tersenyum.

Bagi teman-teman yang suka artikel-artikel saya jangan lupa kasih komentar ya.

Friday, July 14, 2017

Liburan Hari Kedelapan: Indahnya Hanami di Utsubo Park Osaka

Meninggalkan Oak Hostel Nara, perjalanan kami berlanjut ke Osaka. Kami naik kereta Kintetsu Line dari Nara ke Hommachi transit di Ikoma harga tiketnya 810 yen. Untuk menuju ke arah hotel, kami harus melalui pintu keluar nomor 28, dan untuk menuju pintu keluar kami harus berjalan cukup jauh. Tiba di pintu keluar saya ikuti arah di peta dan tinggal berjalan lurus ke arah hotel. Namun ternyata jarak dari stasiun ke hotel cukup jauh, apalagi dengan acara geret-geret koper itu "SESUATU" sekali hahaha. Kalau tahu akan sejauh itu saya pasti sudah naik taksi.

Saya memesan kamar di City Route Hotel ini untuk dua malam. Resepsionisnya cukup ramah dan fasih berbahasa Inggris. Kami tidak diperbolehkan untuk check-in lebih awal karena masih jam 12 jadi kami hanya check-in untuk menitipkan barang lalu pergi jalan-jalan ke taman Utsubo hingga jam 2 siang. Sebelum ke taman kami memutuskan untuk makan siang di restoran hotel karena tidak tahu tempat makan disekitar hotel. Restorannya ada di lantai dua, ada tangga naik dari depan hotel. Selesai makan, kami pun berjalan ke arah taman yang tak jauh dari hotel. 

Taman Utsubo cukup rindang dan ada taman bermain untuk anak. Alban senang banget bisa bermain sepuasnya. Ada banyak bangku untuk duduk dan bersantai, sehingga kami tidak jenuh menghabiskan waktu di taman ini. Sementara saya dan Alban asik bermain, si kakak duduk santai dan mengerjakan tugas kuliahnya. Ada banyak orang tua yang sedang menemani anaknya bermain.
Playing in utsubo park
Senangnyaaa :)
Kami berjalan ke sisi lain taman dan wow ada baaanyaak sekali bunga sakura. Wah saya jadi semangat untuk foto-foto. Banyak sekali keluarga dan remaja yang sedang berpiknik di taman ini. Mereka menggelar tikar di bawah rindangnya pohon sakura. Beberapa remaja sedang asik bermain kejar-kejaran di tengah lapangan sambil sesekali tertawa. Saya sangat suka pemandangan di taman ini. 
Hanami Utsubo park Osaka
Cantiknya sakura di Taman Utsubo
Sakura Hanami Utsubo Park Osaka
Menikmati hanami di Utsubo Park
Hanami April 2017 osaka
Alban pun menikmati hanami
Hanami osaka 2017
Kakak masih sibuk sama tugas kuliahnya :)
Puas bersantai di taman, kami pun kembali ke hotel untuk istirahat. Ada Seven Eleven di samping hotel, kami mampir untuk membeli cemilan dan air minum kemasan 2liter karena harganya jauh lebih murah hanya 108yen sudah termasuk pajak. Murah, kan? 

Malam harinya saya dan si kakak sibuk mencari tempat makan disekitar hotel melalui google maps. Dan bingo! Saya berhasil menemukan sebuah restoran  Izakaya yang menyediakan menu takoyaki. Awalnya saya sempat khawatir kalau takoyakinya menggunakan babi, namun si penjual menyakinkan saya bahwa takoyaki nya tidak menggunakan daging babi tapi daging gurita. Saya senang sekali akhirnya bisa makan takoyaki yang merupakan makanan khas Osaka. Mungkin lebih tepatnya cemilan hehehe. Satu porsi takoyaki sudah cukup membuat saya kenyang. 

Si kakak memesan yakisoba (mie goreng) yang juga sangat lezat. Saya pernah membaca bahwa Izakaya merupakan tempat makan para karyawan kantor. Tak heran jika di bagian dalam restoran sangat ramai dan berisik.  Karena di dalam sudah penuh maka kami dipersilakan duduk di meja paling depan dekat si koki. Saya bisa melihat dengan jelas betapa cekatannya si koki membuat takoyaki. Si kakak bahkan memesan satu porsi takoyaki untuk dibawa pulang ke hotel. 

Awal yang menyenangkan di Osaka. Disambut oleh taman yang rindang dan indah serta makanan yang lezat. It's perfect!! I love Osaka.

Wednesday, April 26, 2017

Liburan Jepang: Menikmati Rintik Hujan di Asakusa, Sumida River, Ueno Koen, serta Uniknya Harajuku

Setelah istirahat full di hari Pertama, kami pun memulai petualangan di Jepang pada hari kedua yaitu sabtu 8 April 2017. Malam sebelumnya saya sudah janjian dengan salah satu mantan Manager saya di perusahaan dulu yaitu Fujisaki san mengenai jadwal tempat yang akan saya kunjungi agar disesuaikan dengan waktunya. Dan kami pun berjanji untuk bertemu di Asakusa Kaminarimon Gate.

Keluar dari hostel menuju stasiun Higashi Nihombashi. Lho? kok bukan Bakurocho??? yup begitulah pemirsah, Bakurocho tidak terhubung ke Asakusa tapi jalurnya ke Ryogoku. Jadi saya ke Higashi Nihombashi yang langsung menuju stasiun Asakusa. Di luar hostel hujan gerimis menanti kami, tapi tidak basah kuyup kok, hanya gerimis. Jalan ke Higashi Nihombashi lumayan juga, hampir nyasar karena ketemu perenaman bukan perempatan atau simpang lima lagi tapi simpang enam ahahah.. Untunglah ada bapak-bapak gaul yang nunjukin jalan hehehe...
Foto ditengah gerimis sebelum menuju ke Stasiun Higashi Nihombashi

Di stasiun Higashi Nihombashi, kekatroan saya kumat lagi, kenapa? karena salah mencet jumlah orang di mesin tiket jadinya saya beli 2 tiket dewasa dan 1 tiket anak. ya sudah lah... Tiba di stasiun Asakusa saya bingung lagi karena nggak bisa wifi-an buka maps mo ke kaminarimon.. akhirnya ketemu papan informasi dan yup ikuti aja petunjuknya, kelihatan deh Kaminarimon Gate yang very very famous itu... sugoi! Di pintu masuk menuju kuil Senso-ji itu, sudah ramai dipadati wisatawan, saya dan Fujisaki san janjian disitu. Karena saya sampai 30 menit lebih awal, meranalah saya menunggu selama 30 menit hahaha... Daripada bengong mending kami selfie saja disitu bersama para wisatawan lain.

Asakusa
Selfie di Kaminarimon Gate
Orang yang ditunggu akhirnya muncul juga, Fujisaki san masih belum banyak berubah, masih seperti 12 tahun yang lalu. Setelah bersalaman kami ngobrol sejenak di Kaminarimon Gate, lalu melangkah masuk menyusuri Nakamise dori. Banyak penjual souvenir yang cantik-cantik tapi harganya juga cantik hehehe. Saya menyempatkan masuk ke salah satu toko untuk membeli kaos kaki lucu, gunting berkarakter wanita Jepang dan sarung tangan anak saya. Mendekati Hozomon Gate, berjejer pohon sakura yang sangat indah. Ada beberapa wisatawan china yang pakai kimono, lucu lihatnya.
Asakusa
Deretan pohon sakura di Kuil Senso-ji
Wisatawan China yang memakai kimono :)
Kemudian kami tiba di Hozomon Gate, karena belum sarapan kami ditraktir chicken karaage oleh Fujisaki san. Bentuknya seperti ayam krispi tapi bumbunya enak banget. Puas banget makannya, walaupun sambil berdiri karena memang nggak disediaiin tempat. Hanya disediain tempat sampah sisa makanan dan kemasan saja heheehee. Sayang sekali saya lupa foto ayam karaagenya, mungkin karena saking fokus menikmati kelezatannya. Tapi ada koq produk lokalnya di Indonesia, cari aja di swalayan.

Asakusa
Hozomon Gate Senso-ji, Asakusa

Asakusa
Foto bareng Fujisaki san
Saya nggak masuk ke dalam kuil Senso-ji karena ada banyak orang yang beribadah dan ada banyak wisatawan juga di dalam. Saya hanya memperhatikan halaman kuil ada satu tempat bernama Mikuji yang dipadati wisatawan, setelah bertanya pada Fujisaki san ternyata itu tempat ramalan nasib hehehe pantas saja. Diseberangnya ada tempat membeli Omamori (jimat).
Mikuji
Asakusa
Tempat membeli Omamori
Setelah puas melihat-lihat, kami pun meninggalkan kuil Senso-ji menuju Sekai Cafe untuk makan siang. Salah satu tempat makan Halal di Asakusa adalah Sekai Cafe. Namun sayang karena kurang info, saat tiba di Sekai Cafe, hanya tersedia Pizza halal hahaha. Saya bertanya ke pelayan cafe yang berjilbab dan wajahnya seperti orang Indonesia menggunakan bahasa Jepang, karena penasaran saya tanya juga apakah dia bisa bahasa Indonesia dan ternyata memang orang Indonesia hahhaha.. Akhirnya kami makan Pizza aja dan minum jus.

Setelah puas bersantai di Sekai Cafe, kami melanjutkan perjalanan ke Tokyo Sky Tree, menara tertinggi di Jepang. Sayangnya Sky Tree tertutup kabut jadi hanya kelihatan setengah, akhirnya kami hanya foto-foto dan menikmati sakura di Sumida river saja.
Sumida river
Tokyo Sky Tree yang tertutup kabut di belakang gedung Asahi Flame

Sumida river
Shinji chan dan Hyuga kun sedang asik sendiri
Kakak Shinji sibuk foto-foto

Ibu dan Hyuga kun juga pengen selfie di bawah pohon sakura di Sumida River
Melihat deretan pohon sakura di tepi sungai Sumida, kami pun kalap untuk foto-foto hahhaha... Mimpi saya untuk melihat sakura secara dekat pun menjadi nyata... Karena gerimisnya semakin lama semakin deras, maka setelah puas foto-foto, kami pun kembali ke stasiun asakusa untuk menuju taman Ueno (Ueno koen). Kali ini beli tiketnya dibantu Fujisaki san jadi nggak salah lagi hehehe...

Tiba di Ueno koen wisatawan tambah padat, jalan menuju taman saja harus berdesak-desakan. Di dalam taman sudah jangan ditanya lagi situasinya, semua tempat full booked! Ternyata karena ini hari libur, jadi banyak warga Jepang yang sedang hanami di taman Ueno. Akhirnya kami hanya jalan-jalan berkeliling taman, lalu menuju tempat belanja di Ameyayoko-cho.
Ueno Taito
Padatnya taman Ueno karena Hanami
Walaupun hujan gerimis, Hyuga kun tetap semangat keliling taman
Ueno
Ameyayoko-cho
Menyusuri lorong kaki lima di Ameyayoko-cho hujan semakin deras, akhirnya saya memutuskan untuk membeli payung seharga 350 yen. Di sini saya juga sempat membeli es krim seharga 120 yen untuk ukuran kecil. Hujan-hujan makan es krim? yah begitulah kalau bawa anak hehehe... Kami hanya berkeliling disini, tidak ada niat untuk belanja karena yang saya temui justru banyak toko pakaian untuk cowok heheh...

Lelah jalan-jalan, Fujisaki san mengajak kami bersantai di Lotteria dekat stasiun Ueno. Full booked juga rupanya disini, tapi setelah menunggu sebentar, kami dapat tempat duduk juga akhirnya... Si Hyuga sudah tertidur karena capek. HP saya sudah menunjukkan signal kritis, akhirnya saya tanya ke Fujisaki san dimana tempat beli adaptor untuk charger HP saya karena saya lupa beli di Jakarta. Di Jepang colokannya pipih tidak seperti Indonesia. Akhirnya saya dikasih charger pipih oleh Fujisaki san... Tasukarimashita!!! Senangnya hatiku... Karena sudah sore, Fujisaki san tidak bisa menemani kami ke Harajuku. Kami pun berpisah di stasiun Ueno. Beliau kembali ke Fukushima dan kami lanjut ke Harajuku, tempat impian kakak Shinji hahaha...

Harajuku
Takeshita dori
Harajuku
Padatnya Takeshita dori
Keluar dari stasiun Harajuku, langsung nampak Takeshita dori di seberang. Alamak padatnya... Setelah menyebrang dan mulai masuk ke Takeshita dori rasanya tambah semangat. Walau berdesak-desakan tetap saja kami senang...Karena HP saya sudah lowbet akhirnya saya nggak bisa foto-foto lagi hahaha... Nebeng HP kakak Shinji saja. Karena niatnya pengen belanja disni akhirnya saya beli kaos dengan gambar kucing seharga 1500 yen dan kaos kaki panjang seharga 500 yen untuk kakak Shinji. Hyuga kun dapat mainan ice krim seharga 400 yen. Si Kakak sempet-sempetnya foto bareng si penjaga toko yang nyentrik abis hahaha...
Si Penjaga toko nyentrik :)
Jalan sampai ke ujung Takeshita dori, kami lalu berbelok ke Meiji dori melewati Forever 21 store dan H&M. Diseberangnya saya melihat ada Line Friends store, pengen kesitu tapi malas jalan lagi. Bener-bener capek. Kami hanya nongkrong di tepi jalan bersama para wisatawan lainnya. Si kakak gemes sama anjing milik wanita Jepang yang kebetulan lewat, sampai pake selfie segala. Akhirnya karena lapar kami balik ke stasiun, mampir di Yoshinoya disebelah pintu masuk Takeshita dori tadi. Di depan Yoshinoya saya dan si kakak agak ragu, tapi karena bingung HP dah lowbet dan saya dengar banyak orang Indonesia yang makan di sini akhirnya saya meyakinkan si kakak untuk makan di Yoshinoya saja.

Tiba di lantai atas (saya lupa lantai 2 atau 3) sudah saya duga ada orang Indonesia ahahah... Pada pelayan restonya saya bertanya menu yang nggak pakai babi. Saya bilang bahwa kami tidak bisa makan babi, jadi adakah menu lain selain babi. Lalu dengan sigap si pelayan restoran menyodorkan menu berbahasa Inggris (sebelumnya saya ambil menu berbahasa Jepang, gubrakkk!). Jadilah kami pesan beef bowl, menu favorit orang Indonesia saat makan di Yoshinoya hahahaa... Rasanya... hmmm lumayan lah. Saat sedang asik makan, datanglah rombongan turis Indonesia, lalu duduk disebelah meja kami. Mereka lagi bingung karena menunya dalam bahasa Jepang. Si Ibu yang sedang ngotot bilang dulu dia pernah makan menu babi di Yoshinoya tapi dia nggak ingat gambar yang mana. Lalu tanpa basa basi, saya memberi menu berbahasa Inggris kepada meraka. Saya bilang "Maaf bu, ini ada menu bahasa Inggrisnya" :). Si Bapak dengan senyum ramah mengambil menunya dan bilang terima kasih. Selesai makan kami segera pulang (tak lupa bayar di kasir tentunya heheh). Saat turun, kami berpapasan lagi dengan sekelompok cewek Indonesia berjilbab yang mau makan di Yoshinoya. Tuh kan memang Yoshinoya tempat favorit orang Indonesia di Jepang hahaha...

Di depan stasiun Harajuku, saya termenung memandangi papan jalur kereta, bukan karena papannya nyentrik seperti toko-toko di Takeshita dori, tapi karena tulisannya nggak ada bahasa Inggris hiks :'( sedih hati saya pemirsah... Mana HP saya lowbet, HP kaka Shinji juga nggak nemu signal wifi... akhirnya pake insting... Karena dah hafal letak stasiun saya dari stasiun Tokyo akhirnya saya beli tiket sesuai harga yang tertera di situ saja hehhehe... Toh kalau pun kurang kan ada mesin adjusment fare. Dan pulanglah kami dengan selamat naik JR Yamanote line for Tokyo lalu transfer ke JR Sobu line ke Bakurocho.

Demikianlah petualangan kami hari ini, walaupun rencana awal pengen ke Shibuya dan Odaiba, apa daya pemirsah kaki kami sudah nggak mampu lagi melanjutkan petualangan... Semoga petualangan hari ini bisa memberikan informasi yang bermanfaat bagi pembaca sekalian. Saatnya rehat untuk petualangan hari ketiga...

Jangan lupa ya selipkan pertanyaan atau komentarnya.... (^-^)v

Saturday, April 22, 2017

Persiapan Liburan Hanami ke Jepang

Bagai mimpi, akhirnya bisa mewujudkan impian menuju negeri sakura. Dan memenuhi janji pada teman-teman di Jepang. Paspor, visa dan tiket sudah di tangan, saatnya lengkapi itinerary dan buat persiapan. Jadwal keberangkatan adalah tanggal 7-18 April 2017. Dan karena tiket promo dari JAL dapatnya hanya via Tokyo roundtrip, jadi rute saya di mulai dari Tokyo dan berakhir di Chiba. Koq di chiba? Yaiyalah... kan salah satu teman saya ada di sana heheehee...
Indahnya sakura di Matsusaka-Jo
Rencana itinerary hari pertama istirahat di hotel saja. Hari kedua saya mulai dari Asakusa, Ueno koen, Tokyo sky tree, Harajuku dan Shibuya. Hari ketiga Otemachi, Korakuen, Tokyo tower dan Odaiba. Hari keempat Fuji yama dan shinjuku. Hari kelima Toyohashi dan Okazaki. Hari keenam Nagoya dan Matsusaka. Hari ketujuh Nara. Hari kedelapan Utsubo koen. Hari kesembilan Osaka-Jo, Zoheikyou, dan Umeda Sky Building. Hari kesepuluh Sumiyoshi Taisha, Osaka Kaiyukan, Shinsaibashi dan Dotonburi. Hari kesebelas Chiba dan hari keduabelas pulang ke Indonesia. Tapi tidak semua rencana dapat terlaksana karena hari hujan dan masalah pencernaan anak saya, nanti saya jelaskan secara detail disetiap artikel.

Sekarang adalah persiapan lain yaitu pakaian. Cuaca di Tokyo masih cukup dingin bagi orang Indonesia yang biasa berada dibawah teriknya matahari. Jadi sehari sebelum berangkat ke Jepang saya dan ponakan sudah berangkat ke Jakarta dengan  penerbangan Pagi agar bisa shopping sejenak di Mangga Dua dan Arta Gading. 

Saya punya beberapa sweater dan jaket hingga hanya perlu cari jacket atau coat satu lagi saja, dan saya jumpai di Matahari Arta Gading Mall. Sisanya beli sweater dan celana anak saya di Mangga dua. Bawa juga syal dan sarung tangan karena cuaca di Tokyo pada awal April masih cukup dingin. Saya lupa bawa kedua benda ini dan akhirnya saya harus kedinginan di Kawaguchiko. Oh iya bagi yang bawa balita jangan lupa bawa susu formula yang cukup selama di jepang, karena saya tidak menjumpai susu formula di Jepang (mungkin memang tidak ada). Diapers secukupnya saja karena diapers ada di jual di seven eleven dan drug store (walau tidak semua sevel dan drugstore menyediakan). Kalau di sevel tersedia diapers isi 5 sedangkan di drugstore atau supermarket yang saya jumpai hanya tersedia kemasan besar isi 28 - 40 an saja. Bawa juga obat pencernaan dan obat yang diperlukan. Saya bawa antangin dan multivitamin. 

Persiapan berikutnya adalah uang tunai. Uang tunai di Jepang tersedia dalam bentuk uang logam dan uang kertas. Uang logam tersedia dalam pecahan 1 yen, 5 yen, 10 yen, 50 yen, 100 yen dan 500 yen. Sedangkan uang kertas tersedia dalam pecahan 1000 yen, 2000 yen, 5000 yen, dan 10000 yen. Saya diberi uang logam pecahan 1 - 500 yen dan uang kertas 1000 oleh suami jadi sedikit terbantu selama di Jepang. Selebihnya saya menukarkan uang Rupiah saya ke pecahan 10000 yen di Sahabat Valas di ITC Mangga Dua, Jakarta. 

Saya bawa uang secukupnya untuk bayar hotel dan kebutuhan selama beberapa hari di Tokyo, sisanya saya ambil di ATM seven Bank yang terdapat di hampir semua Seven Eleven menggunakan kartu BNI Debit saya berlogo Mastercard. Jangan Khawatir karena ATM Seven Bank dapat menerima kartu berlogo Visa, Plus, Mastercard, Maestro, Cirrus, Union Pay, American Express, JCB, Discover, dan Diners Club International. Salutnya lagi tersedia bahasa Indonesia hahah.. keren. Cara menggunakan ATM Seven Bank bisa dilihat di link berikut: http://www.sevenbank.co.jp/intlcard/service2.html. Selain Seven Bank, anda juga bisa menggunakan ATM Japan Post Bank. Bawa juga kartu kredit jika punya.

Persiapan yang tidak kalah penting bagi penggemar makanan pedas adalah saus sambal. Kenapa? karena di Jepang tidak ada saus sambal, kalau ada pun rasanya tidak pedas dan lebih cenderung  manis. Hanya ada saus tomat dan bubuk cabe kering. INGAT! JANGAN BAWA SAUS SAMBAL KE KABIN PESAWAT! Kenapa??? ya karena nanti akan ditahan petugas. Ponakan saya kemarin sampai manyun selama di pesawat karena botol sambal dan gel vitamin rambutnya ditahan petugas hahahha... Bawa juga abon kalau ingin hemat atau khawatir dengan makanan halal di Jepang. Di kombini (convenience store) seperti Seven Eleven, Family Mart dan Lawson ada onigiri alias nasi kepal. Isinya bisa macam-macam, ada ikan tuna, ayam, jamur dll. Ada juga yang hanya nasi saja. Biasanya saya akan bertanya kepada penjaga toko untuk memastikan isi onigiri tidak mengandung babi. Dengan bahasa Jepang seadanya saya bilang: "kore wa buta haitemasuka? yang artinya kira-kira "dalam makanan ini ada daging babi?". Kalau dia jawab "haitenai" artinya aman bisa dimakan...
Onigiri yang saya beli seharga 99 yen sudah termasuk pajak di supermarket.
Bawalah payung jika tidak keberatan karena di musim semi masih sering hujan. Saya kemarin harus beli payung di Ameyayokocho Ueno seharga 350 yen karena kehujanan. Harga payung bervariasi tergantung jenis dan modelnya, ada yang 350 yen, 500 yen bahkan 1000 yen. Belilah payung yang agak kuat menahan angin karena angin di jepang kadang sangat kencang. 

Sekian tips berlibur ke Jepang dari saya semoga bermanfaat...Jika ada yang ingin ditanyakan, silakan tinggalkan komentar. :)