Translate

Showing posts with label Liburan Jepang. Show all posts
Showing posts with label Liburan Jepang. Show all posts

Tuesday, July 11, 2017

Liburan Jepang Hari Ketujuh: Matsusaka Castle Ruins dan Nara Park

Dari Nagoya, perjalanan berlanjut ke Matsusaka untuk berjumpa dan makan malam dengan para mantan Manager di perusahaan dulu. Saya sangat bahagia bisa berjumpa dengan mereka dan bernostalgia ke masa kerja dulu. Di Matsusaka kami menginap di Hotel Ace Inn Matsusaka. Resepsionisnya ramah dan fasilitasnya lumayan lengkap meski kamarnya kecil sekali (buat naruh koper aja susah hahaha). Ada coin laundry juga yang sukses membuat saya begadang hingga jam 2 pagi 😅😅.
Dinner in matsusaka
Makan malam bersama para Manager di restoran Yajirobe Matsusaka
Pukul 10 pagi kami sudah check out dan dijemput oleh Kanetani san untuk jalan-jalan di Matsusaka Castle Ruins. Walau mata masih ngantuk tapi saya tetap semangat jalan-jalan hari ini karena bersama Kanetani san. Beliau adalah motivasi terbesar saya mengunjungi Jepang. Panjang lebar jika saya harus menceritakan tentang beliau di blog ini, jadi intinya "He means everything to me" lah pokoknya hahaha.

Oke lanjut, setelah menunggu beberapa menit di lobby Hotel, saya pun berjalan keluar dan berselfie ria di depan Hotel. Beberapa orang kakek yang lalu lalang di depan Hotel memandang saya dengan tatapan aneh hahahha... maklumlah kek beginilah tingkah orang Indonesia kalo sudah masuk urusan selfie hahhaa... Tak lama kemudian Kanetani san pun datang dan ikut senyam senyum melihat saya hehehe. Setelah meletakan bagasi di mobil, kami pun meluncur ke Matsusaka Castle Ruins. Kata Kanetani san kastil ini sudah tinggal reruntuhannya saja akibat kebakaran. Tapi masih ada rumah Samurai dan asrama prajurit samurainya. Ternyata samurai punya prajurit juga hehehe.
Matsusaka Castle ruins hanami 2017
Matsusaka Castle Ruins

Samurai House
Inilah rumah Samurainya

Begitu memasuki gerbang kastil mata saya terkagum-kagum dengan deretan pohon sakura yang menawan. waaah saya memang beruntung masih bertemu sakura sebanyak ini padahal sudah tanggal 13 April. Saat angin bertiup kencang, kelopak bunga sakura berguguran dan itu sangat indah. Saya pun  kalap dan mulai jepret sana jepret sini. Kanetani san mengajak Alban naik ke atas kastil sedangkan saya dan si kakak sibuk berselfie ria di halaman kastil.
Hanami Matsusaka 2017
Pada sibuk sendiri hehee
sakura in matsusaka hanami 2017
Cantik kan sakuranya?
Setelah puas foto-foto di halaman kastil, kami pun turun mengunjungi rumah seorang Samurai di bagian samping dan asrama para prajurit samurai tersebut yang sebagian masih di tempati oleh anak cucu mereka. Kami sempat mengunjungi salah satu rumah di asrama tersebut dan mereka menyambut kami dengan ramah. Rumahnya masih bergaya tradisional Jepang bahkan sampai peralatan dapurnya. Sayangnya saya tidak sempat memotret suasana di dalam rumah.

Selesai berkeliling, saya meminta ijin kepada Kanetani san untuk mampir ke rumah beliau dan beliau pun dengan senang hati mengajak kami ke rumahnya. Letaknya tidak begitu jauh dari kastil dan kami melewati lahan pertanian yang begitu luas. Saya sangat kagum melihatnya. Tidak ada siapa-siapa di rumah karena ibu sedang check up di Osaka. Jadi kami hanya beristirahat dan mengobrol sejenak.

Sebelum berangkat ke Nara, kami mampir makan siang di KFC sekalian nyobain KFC ala Jepang dan ternyata sama saja rasanya hahhaha. Karena sudah siang, kami pun bergegas ke Nara. Dengan mobil Kanetani san, kami melewati jalan tol menuju Nara. Mobil Kanetani san tidak berhenti dan terdengar bunyi beep saat melewati gerbang tol, canggih bener memang Jepang sudah pakai sensor semua, keren.Sepanjang perjalanan si kakak yang di kursi depan sudah pulas, sedangkan saya berusaha untuk tidak tidur dan sesekali mengobrol dengan Kanetani san. 

Setelah hampir 2 jam perjalanan dari Matsusaka, kami pun tiba di Nara. Tidak sulit mencari Oak Hostel Nara karena letaknya yang tak jauh dari Stasiun Kintetsu Nara. Setelah check in, kami pun berjalan kaki ke Stasiun Kintetsu untuk mengecek jadwal keberangkatan esok hari ke osaka. Kanetani san mengajari saya membaca rute dan jadwal kereta bahkan mengajari saya cara membeli tiket ke Osaka untuk rute transit. Di depan stasiun, ada acara promosi yang menampilkan maskot kota Nara yaitu boneka Rusa sehingga si Alban girang banget di ajak foto sama boneka rusa. Kami juga dikasih tisu wajah dan tisu basah sebagai promosi hehehe alhamdulillah😊.
Nara kintetsu stasiun
Si Alban girang lihat maskotnya
Setelah itu kami berjalan kaki ke Nara park dan Kofuku-ji yang ternyata sangat dekat dengan Stasiun Kintetsu. Maklumlah, karena sebelumnya tidak berencana ke Nara, saya jadi tidak tahu destinasi wisata di Nara secara lengkap.
Akrabnyaaa...
Di Nara Park banyak rusa-rusa jinak, saya tadinya agak takut mendekat tapi lama-lama asik juga main sama mereka. Kata Kanetani san tanduk rusanya baru dipotong tahun ini karena pada tahun kemarin masih banyak rusa yang bertanduk. Karena takut membahayakan wisatawan yang semakin banyak berdatangan, akhirnya tanduk-tanduk mereka dipotong. Kanetani san membeli beberapa bungkus makanan rusa yang di jual di sepanjang jalan menuju taman. Pohon sakura disini tidak terlalu banyak, ada yang sudah mulai rontok dan keluar daun mudanya. 
nara park
Taman sakura dekat Kofuku-ji

nara deer
Nara Park

Nara deer
si Alban girang ketemu rusa

Makan yang banyak ya, rusa...

Setelah puas bermain dengan rusa, kami pun berjalan menuju Kofuku-ji Temple disebelah Nara Park. Area kuil ini dipenuhi rombongan anak SMP yang sedang tour. Saya tertarik untuk memotret Five Storied Pagoda di Kofuku-ji Temple ini, cantik sekali. Si Alban sibuk sama kakeknya sedangkan kakak Shinji sibuk berfoto sama bule yang pakai pakaian tradisional Jepang dan segerombolan anak SMP yang super heboh hahhaha. Saya pikir anak-anak sekolah di Jepang itu kalem-kalem ternyata sama saja dengan kita, pecicilan juga hahha. Mereka main kejar-kejaran di halaman kuil sambil tertawa cekikikan. 
kofuku-ji temple
Kofuku-ji Five Storied Pagoda

Kakak Shnji ketemu bule pakai kimono hehehe

Kofuku-ji student tour
Beginilah kalau ABG ketemu genknya hahaaha
Tak jauh dari area kuil, terdapat  Sarusawa-ike (Sarusawa Pond) sebuah kolam yang cantik. Kami duduk santai sejenak menikmati tenangnya air kolam. Karena hari mulai senja, kami pun kembali ke arah Stasiun Kintetsu menyusuri  Sanjo-dori. Ada banyak toko oleh-oleh dan tempat makan di sepanjang Sanjo-dori. Saya sempat mampir membeli patung rusa kecil (saya lupa harganya heheh). Kami lalu berbelok ke Higashimuki Shopping Street yang dipenuhi drugstore, supermarket dan restoran. Bingung juga memilih tempat makan karena banyak yang mengantri. Akhirnya ketemu juga tempat makan yang sesuai selera bersama.
sarusawa ike in nara
Sarusawa-Ike

Toko oleh-oleh di sepanjang Sanjo-dori

higashimuki shopping street nara
Higashimuki Shopping
Setelah mengantar kami kembali ke hostel, Kanetani san pun kembali ke Matsusaka. Kami pun memutuskan untuk kembali ke Higashimuki setelah mandi dan beristirahat sejenak di Hostel. Saat kami kembali ternyata banyak toko yang sudah mulai tutup. Saya keluar masuk drugstore untuk mencari popok Alban. Tapi dari semua drugstore hanya satu toko yang menjual popok berbagai merek. Dan kebetulan ada merek popok yang di pakai si Alban namun hanya tersedia dalam kemasan besar. Tidak ada kemasan ekonomis yang isi 8pcs atau 20pcs. Akhirnya dengan perasaan cemas saya masuk ke Lawson, tidak ada juga ternyata. Makin depresi saya karena tidak memperhatikan hal sepele seperti ini.  Akhirnya ketemu di Seven Eleven dekat gang menuju hostel, lega rasanya. Ketemu yang kemasan ekonomis dan saya pun membeli secukupnya lalu kembali ke hostel.

Oak Hostel Nara sangat nyaman kamarnya luas dan fasilitasnya lengkap. Bersih sekali, namun saya tidak begitu suka bau toiletnya. Tapi tak masalah karena yang penting kami bisa beristirahat dengan tenang. Keesokan harinya kami sempatkan sarapan di hostel sebelum check out. Kami hanya membayar untuk rotinya saja, sedangkan kopi atau tehnya tersedia gratis. Air minum dingin dan panas juga tersedia dengan gratis. Setelah Sarapan, kami pun bersiap menuju osaka.


Monday, May 22, 2017

Liburan Hari Kelima: Toyohashi dan Higashi Okazaki

Pukul 5 pagi, bus Willer yang kami naiki tiba di stasiun Toyohashi. Saat turun dari bus, rupanya pak supir sudah menunggu di luar dan memberi hormat kepada kami sambil menunduk beliau berterima kasih dan mengucapkan salam perpisahan. Saya pun balas menunduk dan mengucapkan terima kasih. Betapa ramah dan sopannya orang Jepang, sangat menghargai orang lain. Dan ternyata penumpang yang turun di Toyohashi hanya kami bertiga 😂. 

Hari masih gelap dan hujan turun deras, udara jadi sangat dingin. Saya dan si kakak saling bertatapan dan ketawa ngakak karena nggak nyangka akan menggigil kedinginan seperti ini hahahah. Kami bergegas masuk ke stasiun kereta agar tidak kebasahan sekalian mencari petugas untuk bertanya.

Karena masih jam 5 pagi, suasana dalam stasiun sangat sepi. Horor juga sih, kebayang seandainya dari ujung lorong muncul sadako 😨. Kebetulan ada seorang bapak sepertinya petugas kebersihan, saya pun bertanya dimana letak Toyotetsu Terminal Hotel. Beliau pun tampak bingung, beliau menyarankan kepada saya untuk menuju ke sebuah pintu keluar yang terdapat pos polisi di sisi lain stasiun. Kami mampir di toilet sebentar untuk membasuh muka, aje gile baru sadar klo tampang kami benar-benar lusuh karena baru bangun tidur hahhaha.

Saat menuju pintu keluar kami bertemu lagi dengan seorang wanita petugas kebersihan, beliau mengetahui letak hotel lalu memberi kami petunjuk jalannya. Syukurlah ternyata tidak jauh dari stasiun, di dekat Family Mart. Lucunya lagi justru pelayan toko di Family Mart sendiri tidak tahu letak hotel tersebut, padahal hanya berjarak sekitar 20 meter disamping Family Mart hahaha.

Setelah ketemu gedung hotelnya, ternyata resepsionis berada di lantai 6. Saya melapor kepada resepsionis hotel bahwa saya akan check-in siang ini di hotel tersebut, namun karena belum tiba waktu check-in maka saya akan kembali lagi siang nanti. Saya juga memberitahu bahwa koper saya baru akan tiba sekitar jam 12 siang, sehingga saya meminta mereka untuk menyimpan koper saya hingga saya kembali nanti. Saya pun memperlihatkan bukti pengiriman dari Kuroneko Yamato. Pak resepsionis mengerti dan mereka bersedia menyimpan koper saya sampai saya kembali ke hotel.

Saya menghubungi teman saya Roger, mengatakan bahwa kami sudah tiba di hotel. Roger mengatakan bahwa dia pulang kerja lebih awal jadi dia akan menjemput kami lebih cepat yaitu pukul 7:30 pagi di depan Starbucks tak jauh dari hotel. Sudah pukul 6 pagi saat itu, saya pun meminta izin kepada resepsionis untuk menunggu di lobby sebentar dan beliau pun mempersilakan. Si kakak sudah tertidur di kursi lobby sambil mendekap adiknya. Saya mengambil beberapa foto stasiun dari jendela hotel. Hujan masih turun saat itu.
Suasana sekitar stasiun Toyohashi dari jendela lobby hotel
Pukul 7:20 saya memutuskan untuk turun menuju Starbucks dan menunggu Roger di sana. Keluar dari gedung hotel, angin kencang dan udara dingin langsung menerpa kami. Wow dingin sekali anginnya bbrrrr. Para pekerja lalu lalang sambil memandang kami, beberapa dari mereka ada yang sibuk rebutan payung sama angin karena payungnya hampir diterbangkan angin hahhaha... 13 menit kemudian Roger pun datang dan kami naik ke mobilnya. Saya masih tak percaya akhirnya bisa bertemu muka dengannya setelah sekian tahun kami berteman di dunia maya.

Roger mengajak kami sarapan di sebuah restoran keluarga bernama Gusto. Kami ngobrol banyak disitu, si dede yang masih belum familiar dengan Roger pada awalnya akhirnya bisa akrab juga. Setelah sarapan, kami menuju ke taman dekat stasiun kereta untuk melihat sakura. Namun sayangnya begitu tiba di taman, hujan masih cukup deras. Akhirnya kami pergi berbelanja ke supermarket saja.
Hujan deras di Taman Toyohashi
Hujan masih deras saat kami menuju supermarket

Tiba di supermarket si kakak semangat 45 mencari vitamin rambut, karena vitamin rambut yang dia bawa ditahan petugas bea cukai di Bandara Soekarno Hatta. Ternyata tidak ada merk yang biasa ada di Indonesia. Akhirnya si kakak beli yang merk Jepang saja. Swalayan di Apita juga tersedia bermacam-macam bento dan onigiri. Di lantai atas ada toko pakaian dan toko buku. Saya pun membeli jaket buat si dede seharga 5292 yen dengan diskon 60% karena sudah lewat musim dingin sehingga harganya menjadi 2116 yen. Saya juga beli syal buat kami masing-masing seharga 1080 yen.

Selesai belanja, Roger pun mengantar kami kembali ke hotel. Saya berterima kasih kepadanya karena sudah meluangkan waktu untuk mengantar kami jalan-jalan di tengah kesibukannya. Roger pun tersenyum dan menyuruh kami bergegas masuk hotel karena hujan semakin deras. Tiba di lobby hotel, saya diberitahu oleh resepsionis bahwa koper saya sudah tiba dan boleh diambil. Saya mencoba menanyakan bisakah kami check-in lebih awal karena saat itu sudah jam 11:30. Dan ternyata boleh, saya lega sekali rasanya karena jarang ada hotel yang memperbolehkan early check-in di Jepang.

Hotel ini saya pesan melalui situs booking.com. Fasilitas di hotel ini cukup lengkap, ada TV, kulkas, kursi, private bathroom, toiletries, meja rias, hair dryer, electric kettle dan teh, tapi tidak tersedia air mineral jadi saya harus membeli di vending machine seharga 110 yen per botol ukuran sedang. Harga kamar yang saya dapat saat itu adalah 8086 yen per malam untuk kamar double room. Saya dan si kakak tidak sempat tidur, kami hanya mandi dan berdandan karena harus bergegas ke Higashi Okazaki untuk bertemu Bibi Mariko (kenalan si kakak).

Sekitar jam 1 siang kami meninggalkan hotel dan menuju stasiun Toyohashi. Hujan sudah reda tapi angin masih bertiup kencang, untungnya saya sudah beli syal jadi tidak kedinginan. Kami naik kereta Meitetsu line seharga 550 yen per orang ke stasiun Higashi Okazaki, perjalanan sekitar setengah jam. Tiba di stasiun Higashi Okazaki, kami sudah disambut oleh bibi Mariko. Si kakak dengan girangnya berlari memeluk bibi Mariko. Bibi Mariko lalu menyuruh kami memakai jaket tebal yang sudah dia persiapkan karena cuaca di luar sangat dingin. Benar saja, sedang turun hujan meski tidak deras tapi suhunya dingin banget.

Bibi pun mengajak kami ke toko oleh-oleh yaitu Daiso. Daiso disini memang cukup besar seperti yang dikatakan oleh bibi Mariko. Hampir semua produk harganya 108 yen sudah termasuk pajak, kecuali beberapa produk yang harganya 300 yen. Saya sampai bingung mau beli apa hahaha... akhirnya beli kaos kaki, gantungan kunci berbentuk aneka sushi, nori, serta mainan buat si dede. Lagi-lagi pulpen shinkansen tidak saya temukan disini. susah bener ya nyari si pulpen ini. Si kakak yang paling kalap belanja oleh-olehnya, total belanjaannya sampai hampir 3000 yen😱. Saya dikasih oleh-oleh sup miso dan abon dari Bibi Mariko hehhe.

Nggak cukup cuma di Daiso, bibi Mariko pun mengajak kami ke tempat oleh-oleh lainnya yaitu 100 yen (Hyaku-en) shop dan Book Off Bazaar di Seiyu Department Store. Jaraknya tidak jauh dari Daiso, kami berjalan kaki meski hujan rintik-rintik. Di Perjalanan menuju Seiyu ketemu lagi dengan sakura. 

Si kakak dengan tas belanjaannya hahaha

Sempat-sempatnya foto sama sakura
selfie dulu sama sakura meski muka kusut hehee
Di Seiyu kami mampir di McD untuk makan siang, sayangnya bibi Mariko tidak bersedia ditraktir karena beliau sudah makan siang sebelumnya. Di Hyaku-en Shop saya membeli beberapa oleh-oleh juga. Selesai belanja, saya sempatkan berfoto dengan beliau. Hari semakin sore dan hujan semakin deras. Bibi Mariko mengantar kami ke stasiun JR Okazaki. Setelah membeli tiket kereta, saya memeluk erat beliau. Sedih rasanya berpisah dengan beliau meski baru kenal. Bibi Mariko berjanji akan datang ke Bali 1 setengah tahun lagi. Saatnya untuk pergi, kami saling melambaikan tangan. Sampai jumpa lagi Bibi, senang sekali bisa bertemu anda...

Kami kembali ke Toyohashi untuk beristirahat. Bersiap untuk petualangan esok hari menaklukkan kastil Nagoya 😄.



Friday, May 19, 2017

Liburan Jepang Gunung Fuji dan Kachi-Kachi Ropeway


Petualangan hari keempat kami adalah Fujiyama alias Fuji-san alias Gunung Fuji. Rasanya belum "afdol" kalau ke Jepang tapi tidak mengunjungi Gunung Fuji. Sebenarnya akan lebih efisien kalau perjalanan dimulai lebih pagi sekitar jam 7 pagi, karena lama perjalanan menuju ke Gunung Fuji (stasiun Kawaguchiko) dari stasiun Tokyo menggunakan kereta rapid adalah sekitar 3 jam dengan dua kali transit yaitu di Takao dan Otsuki. Tapi karena si kecil bangunnya sekitar jam 8, akhirnya kami baru bisa pergi pada jam 10 setelah membayar tiket bus willer ke Toyohashi di Family Mart, mengirimkan koper dan sarapan pagi sebentar di Seven Eleven.

Saya membeli tiket bus malam Willer Express ke Toyohashi melalui situs Willer Express. Namun sebelum bisa membeli tiket, kita diwajibkan mendaftar terlebih dahulu sebagai member. Setelah mendaftar dan memilih tiket, kita bisa melakukan pembayaran melalui Lawson atau Family Mart jika tidak memiliki kartu kredit. Panduan pembayaran bisa dilihat di situs Willer Express, sangat lengkap dan terperinci kok. 

Setelah selesai, kami pun menuju stasiun Tokyo untuk melanjutkan perjalanan ke Kawaguchiko.Dari Stasiun Tokyo kami naik JR Chuo Line rapid for Takao, dari Takao naik JR Chuo Line for Kofu ke Otsuki lalu naik Fujikyu Railway ke Kawaguchiko. Harga tiket dari stasiun Bakurocho ke Otsuki adalah 1660 yen, sedangkan dari Otsuki ke Kawaguchiko adalah 1140 yen. Ada juga kereta limited express yang lebih cepat dan tentunya lebih mahal harganya, harga dan jadwal keretanya bisa dilihat di situs HyperDia.

Di sepanjang perjalanan kami disuguhkan oleh pemandangan alam pegunungan dan pedesaan khas jepang yang sangat asri. Saya sempat memotret pohon sakura di beberapa stasiun yang kami singgahi. Keretanya juga beberapa kali melewati terowongan yang sukses bikin telinga saya seperti berada berjam-jam di atas pesawat terbang hahhaa...
Deretan bunga Sakura di sepanjang rel kereta
Sakura di stasiun Fujino
Maaf kalau yang ini saya lupa tempatnya :)
hanami
Sakura di depan stasiun Otsuki
Maaf, bukan maksud Pak Masinis menghalangi Gunung Fuji hehehe

Fujisan station
Gunung Fuji di stasiun Fujisan

Tiba di Kawaguchiko saya kedinginan karena tidak bawa syal, sarung tangan apalagi topi kupluk padahal suhu saat itu adalah 8⁰C. Kami pun mampir minum kopi di kantin stasiun Kawaguchiko, Gateway Fujiyama. Selain cappuccino seharga 450 yen, saya juga pesan tempura udon yang harganya 700 yen karena penasaran 😄. Rasanya yah lumayanlah, si dede juga suka udonnya. Si kakak lebih beruntung karena pesan caramel cappuccino yang lebih manis dari kopi saya. Meski saya sudah ambil beberapa gula sachet untuk ditambahkan ke kopi, tetap saja masih pahit hahaha... Mungkin saya ditakdirkan diet gula selama di Jepang.

Setelah makan, kami jalan-jalan sebentar disekitar stasiun lalu naik bis berkeliling Gunung Fuji. Jujur saja setelah tiba di Kawaguchiko, tiba-tiba otak saya jadi blank nggak tau mau kemana hahaha... Ditambah tidak ketemu signal wifi, saya pun pakai jurus terakhir, ikutin turis lain sajah hahahaa... Beberapa pemberhentian terlewati, saya masih belum yakin mau turun dimana, padahal dari Indonesia sudah ngebayangin foto disamping pohon sakura dengan latar Gunung Fuji 😄. Memang dasar ibu-ibu rempong kalau sudah ribet dengan anak jadi lupa tujuan awal hahaha... Akhirnya tiba di satu pemberhentian dan banyak penumpang yang turun, hampir setengah isi bus. Saya pun memberi kode ke si kakak untuk bergegas turun juga dan memang tidak mengecewakan karena kami turun di Kachi-kachi Ropeway yang terkenal itu. Jadilah kami beli tiket roundtrip untuk naik Kachi-kachi Ropeway seharga 800 yen per orang. Wow! antrian lumayan panjang, tapi nggak apa-apa karena tak lama kemudian kami sudah bisa naik. Pemandangan dari atas Ropeway cukup indah, tapi sayang karena saat itu hari sudah agak berkabut.
kachi-kachi ropeway
Danau Kawaguchi dari atas Ropeway
Hanya sekitar 3 menit naik ropeway, kami pun sampai di atas. Gunung Fuji lebih jelas terlihat dari tempat ini. Suhu juga lebih rendah sehingga tangan dan lutut saya menjadi kram. Saran saya jika anda akan berkunjung ke gunung Fuji, carilah info cuaca sebelum berkunjung dan persiapkan semua perlengkapan. Bagi yang muslim, sebaiknya membawa bekal karena agak susah menemukan menu halal. Kalaupun ada, tidak akan cukup waktu untuk wara wiri mencarinya.
Kawaguchi-ko
Gunung Fuji dari tempat Observasi
 
Gunung Fuji dan Fuji-Q Highland 
Gunung Fuji di sore hari dari stasiun Kawaguchiko
Hari menjelang malam ketika kami kembali ke stasiun Kawaguchiko. Sebelumnya saya sempat membeli oleh-oleh manisan apel dan manisan buah ume, saya suka manisan umenya. Di stasiun Kawaguchiko saya langsung membeli tiket kereta Fujikyu ke Otsuki.Tiba di Otsuki, saya bingung karena sudah jam 7 malam. Padahal saya harus tiba di Tokyo sebelum jam 10 malam karena harus naik bis ke Toyohashi. Saya bertanya ke petugas JR di loket dan rekomendasi dari petugas tersebut adalah kereta Limited Express Kaiji yang berangkat pukul 19:33 menuju Shinjuku, lalu berganti ke kereta rapid menuju Tokyo. Waktu kami hanya beberapa menit lagi sebelum kereta tersebut tiba. Saya pun setuju dan segera membeli tiket kereta tersebut. Karena mengejar waktu saya dan si kakak berlari menuju track yang sudah diberitahu oleh petugas.
Tiket Kereta Limited Express Kaiji
Di Dalam Kereta Limited Express Kaiji menuju Shinjuku
Setelah naik kereta, hati saya baru bisa lega. Si dede sudah tertidur karena kecapean, saya pun berusaha tidur karena lama perjalanan ke Shinjuku adalah 1 jam. Dari Shinjuku kami naik JR chuo line ke stasiun Tokyo. Bisa juga naik JR Yamanote line. Tiba di stasiun Tokyo sudah jam 9 malam, saya sempatkan membeli susu dan cemilan untuk si dede dan membeli kaos kaki di outlet Uniqlo. Bulan April cuaca masih dingin dan lembab, kaos kaki cepat lembab dan bau. Jadi saya sarankan membawa banyak stok kaos kaki agar kaki dan sepatu tidak bau.

Kami mencari pintu keluar South Yaesu untuk menuju ke Kajibashi parking lot, tempat bus Willer Express berada. Keluar dari stasiun saya bingung karena tidak melihat tempat parkir yang dimaksud. Akhirnya ketemu pak polisi ganteng bersepeda yang rela mengantarkan hehehe. Terima kasih pak, jasamu tidak akan terlupakan😊. Pak polisi bahkan rela menunggu saya memotret beberapa pohon sakura di tepi jalan dan mengajak saya ngobrol. Dari pintu keluar South Yaesu, tinggal belok kanan lalu lurus saja menyusuri trotoar. Setelah ketemu lampu merah, lurus lagi dan itulah Kajibashi Parking lot. Pak polisi tadi mengantarkan kami sampai di lampu merah. Sayang sekali saya lupa selfie dengan beliau hehehe.

Memasuki area parkir saya melihat petugas bus Willer sedang sibuk memberi arahan kepada calon penumpang agar masuk ke ruang tunggu yang telah tersedia agar bisa memperhatikan pengumuman bus yang akan tiba dan akan berangkat. Tapi karena ruang tunggunya tampak sesak saya memutuskan untuk menunggu diluar.

Tak lama ada seorang bule yang tidak bisa bahasa Jepang sedang bertanya kepada petugas tersebut tentang jadwal bus dan beberapa informasi lainnya. Si petugas yang juga tidak terlalu fasih berbahasa Inggris jadi bingung. Mereka berdebat cukup lama. Saya pun mendekati petugas dan membantu menjelaskan maksud si pria bule. Dengan Bahasa Jepang seadanya saya bilang bahwa si bule ingin tahu jika jadwal busnya sudah tertera di papan pengumuman, dia harus melapor kepada siapa untuk bisa naik ke bus. Si petugas akhirnya mengerti lalu mengatakan kepada saya bahwa dia hanya perlu memperhatikan nomor tempat parkir dan mendatangi bus yang parkir di nomor tersebut, supir bus akan menunggu penumpang di samping bus. Jadi dia hanya perlu melapor kepada supir bus saja. Saya lalu menerjemahkan apa yang dikatakan oleh petugas tadi kedalam bahasa Inggris kepada si bule. Si bule pun ngangguk-ngangguk tanda mengerti. Dan case closed hahaha. Si bule berterima kasih kepada saya, begitu pun petugas yang menunduk sambil bilang arigatou gozaimashita. Saya balas menunduk dan bilang iie douitashimashite.

Masih 40 menitan lagi jadwal bis saya, saya dan si kakak memutuskan untuk jalan-jalan diluar tempat parkir mencari mini market. Ketemu Lawson, karena barang yang dicari si kakak tidak ada akhirnya kami jalan-jalan saja. Ketemu beberapa pohon sakura yang cantik, saya sempatkan memotretnya.
Cantik sekali sakura di Yaesu pada waktu malam
Yaesu
Bersih sekali kota Tokyo
Setelah puas jalan-jalan, kami kembali ke Kajibashi dan mencari info kedatangan bus. Masih belum muncul di papan pengumuman. Kami pun kembali menunggu di luar, kali ini ketemu dengan orang Indonesia yang sedang membawa keluarganya liburan. Kami mengobrol panjang lebar, sampai akhirnya tiba giliran mereka naik bus. Tak lama kemudian kami pun naik bus menuju Toyohashi.

Selamat tinggal Tokyo, sampai jumpa lagi nanti ya... 

Thursday, May 18, 2017

Liburan Jepang Hari Ketiga: Shibuya

Jalan-jalan hari ketiga kami hanya ke Shibuya karena si kecil rewel dan hari itu hujan lebat disertai angin kencang. Akhirnya kami yang sudah siap-siap dari jam 9 pagi, terpaksa tetap tinggal di hostel saja. Saya pun memutuskan untuk laundry pakaian saja.

Di Planetyze Hostel terdapat coin laundry, beruntung saat itu mesin sedang menganggur jadi saya leluasa menggunakannya. Namun saya lupa beli deterjen, celingak-celinguk akhirnya nemu deterjen cair dalam bentuk pods di samping mesin cuci. Entah milik siapa, karena ada banyak saya berasumsi pasti disediakan oleh pihak hostel. Seperti yang telah saya jelaskan di artikel sebelumnya, mesin cuci koin ini tidak ribet pengoperasiannya karena sudah otomatis. Tinggal masukkan deterjen dan baju lalu masukkan koin 200 yen dan mesin pun bekerja selama 30 menit. Setelah itu saya menggunakan mesin Dryer di atasnya. Saat itulah datang dua org bule yang juga pengen laundry. Mereka mencoba membuka pintu ruang laundry yang saya sengaja kunci dari dalam :). Begitu saya buka mereka terkejut kemudian bilang sorry sorry... Saya hanya tersenyum dan menawarkan mesin cuci yang memang sudah kosong. Mereka berdua tersenyum gembira.

Setelah semua pakaian dimasukkan ke mesin si bule bingung nyari deterjen, lantas saya bilang bahwa saya menggunakan deterjen cair yang ada di samping mesin. Si cewek bule pun mengambilnya.Deterjennya harum sekali, sepertinya sudah sekaligus dengan pewangi. Si bule memasukkan koin 200 yen lalu bingung mau mencet tombol yang mana, akhirnya dia mencet tombol yang ada ikon airnya. Ternyata saat berada di Jepang, semua orang bisa kumat kekatroannya gara-gara huruf kanji dan hiragana hehhe.

Pukul 3 sore hujan sudah mulai reda, saya membangunkan si kakak yang sedang lelap tertidur. Kami bersiap menuju Shibuya. Kami naik kereta JR Sobu Line dari Stasiun Bakurocho ke Stasiun Tokyo lalu berganti ke JR Yamanote Line menuju Stasiun Shibuya. Tiba di Stasiun Shibuya ternyata ramai sekali, saya dan si kakak sibuk memperhatikan petunjuk pintu keluar Hachiko Exit. Suasana setelah keluar dari Hachiko Exit ternyata super ramai dan penuh sesak. Mata saya langsung tertuju pada Shibuya Pedestrian Cross yang terkenal itu, wow ramai sekali!
Suasana saat keluar dari Stasiun Shibuya
Saya dan si kakak jadi semangat sambil senyum-senyum kami berdua mencari si patung Hachiko, tidak sabar pengen selfie hehehe. Ternyata si Hachiko terhalang sebuah bus yang dijadikan semacam pusat informasi (maaf pemirsah saya lupa namanya heheh). Di sekeliling patung sudah banyak turis yang antri untuk berfoto, saya dan kakak Shinji terpaksa harus rela menunggu giliran.
Kakak Shinji sudah tak sabar memotret Hachiko
Si dede main serobot antrian, malah nongkrong dibawah patung hehehe
Akhirnya kesampaian juga si Kakak foto sama Hachiko
Selfie dengan sakura di depan stasiun Shibuya :)

Puas foto-foto dengan Hachiko, kami pun menyeberang ke arah Shibuya 109 lalu menyusuri jalan menuju Don Quijote Shibuya. Kenapa tidak mampir di Shibuya 109? karena perut sudah lapar sekali jadi kami menyusuri jalan mencari KFC atau McD yang menurut peta adanya di sekita situ. Yup ketemu juga akhirnya di sebuah lorong di seberang Yamada Denki LABI. Pertama kali makan di McD Jepang, pesan nasi ternyata tidak tersedia nasi, hanya ada kentang goreng, paket ayam, serta burger. Okelah kami pesan dua jenis Beef Burger, kentang goreng dan pepsi. Kami naik ke lantai dua sudah penuh kursinya, akhirnya naik lagi ke lantai tiga alhamdulillah masih ada kursi kosong. Saya menatap sekeliling tidak terlihat pelayan, lalu ada pelanggan yang telah selesai makan membawa sendiri nampannya dan membuang sisa makanan serta perlengkapan makan di tempat sampah yang sudah disediakan. Wow luar biasa tertib dan disiplinnya orang Jepang.

Selesai makan kami lanjut ke Don Quijote, toko oleh-oleh paling populer selain Daiso. Karena si kakak pengen berpencar akhirnya saya naik ke lantai atas untuk mencari oleh-oleh titipan Mr. Hubby yaitu pulpen berbentuk Shinkansen. Sibuk muter-muter, akhirnya ketemu juga tempat alat tulis. Sayang sekali, setelah bertanya kepada pelayan toko rupanya tidak ada pulpen yang dimaksud. Akhirnya beli 2 set eraser unik berbagai macam bentuk seperti pesawat, kapal dan alat-alat pemadam kebakaran. Si dede tampak girang dengan mainan barunya. Si kakak yang dari tadi muter-muter masih belum menemukan apa yang dicari. Petualangan di Don Quijote harus berakhir karena tiba-tiba si dede "pup" dan di toko itu tidak tersedia toilet.Kami pun bergegas ke sebuah Mall di seberangnya, bukan untuk belanja tapi hanya numpang ke toilet. Harga produk di mall tersebut bisa membuat saya bangkrut mendadak hahahah...

Hari semakin malam, dan kami pun berjalan kembali ke stasiun. Tapi eits, ketemu H&M saya dan si kakak pun mampir sebentar. Dan jadilah kami beli dua jaket masing-masing seharga 1999 yen. Dalam perjalanan menuju stasiun kami bertemu iring-iringan mobil cosplay Mario Bross yang sedang konvoi di Shibuya, kebetulan mereka berhenti di lampu merah sehingga suasana semakin riuh oleh para fans yang sibuk mengambil foto maupun berselfie dengan mereka. Si kakak tidak ketinggalan turut mengabadikannya.

Malam itu kami pulang dengan hati gembira walau hanya bisa pergi ke Shibuya. (^-^)


Saturday, April 22, 2017

Persiapan Liburan Hanami ke Jepang

Bagai mimpi, akhirnya bisa mewujudkan impian menuju negeri sakura. Dan memenuhi janji pada teman-teman di Jepang. Paspor, visa dan tiket sudah di tangan, saatnya lengkapi itinerary dan buat persiapan. Jadwal keberangkatan adalah tanggal 7-18 April 2017. Dan karena tiket promo dari JAL dapatnya hanya via Tokyo roundtrip, jadi rute saya di mulai dari Tokyo dan berakhir di Chiba. Koq di chiba? Yaiyalah... kan salah satu teman saya ada di sana heheehee...
Indahnya sakura di Matsusaka-Jo
Rencana itinerary hari pertama istirahat di hotel saja. Hari kedua saya mulai dari Asakusa, Ueno koen, Tokyo sky tree, Harajuku dan Shibuya. Hari ketiga Otemachi, Korakuen, Tokyo tower dan Odaiba. Hari keempat Fuji yama dan shinjuku. Hari kelima Toyohashi dan Okazaki. Hari keenam Nagoya dan Matsusaka. Hari ketujuh Nara. Hari kedelapan Utsubo koen. Hari kesembilan Osaka-Jo, Zoheikyou, dan Umeda Sky Building. Hari kesepuluh Sumiyoshi Taisha, Osaka Kaiyukan, Shinsaibashi dan Dotonburi. Hari kesebelas Chiba dan hari keduabelas pulang ke Indonesia. Tapi tidak semua rencana dapat terlaksana karena hari hujan dan masalah pencernaan anak saya, nanti saya jelaskan secara detail disetiap artikel.

Sekarang adalah persiapan lain yaitu pakaian. Cuaca di Tokyo masih cukup dingin bagi orang Indonesia yang biasa berada dibawah teriknya matahari. Jadi sehari sebelum berangkat ke Jepang saya dan ponakan sudah berangkat ke Jakarta dengan  penerbangan Pagi agar bisa shopping sejenak di Mangga Dua dan Arta Gading. 

Saya punya beberapa sweater dan jaket hingga hanya perlu cari jacket atau coat satu lagi saja, dan saya jumpai di Matahari Arta Gading Mall. Sisanya beli sweater dan celana anak saya di Mangga dua. Bawa juga syal dan sarung tangan karena cuaca di Tokyo pada awal April masih cukup dingin. Saya lupa bawa kedua benda ini dan akhirnya saya harus kedinginan di Kawaguchiko. Oh iya bagi yang bawa balita jangan lupa bawa susu formula yang cukup selama di jepang, karena saya tidak menjumpai susu formula di Jepang (mungkin memang tidak ada). Diapers secukupnya saja karena diapers ada di jual di seven eleven dan drug store (walau tidak semua sevel dan drugstore menyediakan). Kalau di sevel tersedia diapers isi 5 sedangkan di drugstore atau supermarket yang saya jumpai hanya tersedia kemasan besar isi 28 - 40 an saja. Bawa juga obat pencernaan dan obat yang diperlukan. Saya bawa antangin dan multivitamin. 

Persiapan berikutnya adalah uang tunai. Uang tunai di Jepang tersedia dalam bentuk uang logam dan uang kertas. Uang logam tersedia dalam pecahan 1 yen, 5 yen, 10 yen, 50 yen, 100 yen dan 500 yen. Sedangkan uang kertas tersedia dalam pecahan 1000 yen, 2000 yen, 5000 yen, dan 10000 yen. Saya diberi uang logam pecahan 1 - 500 yen dan uang kertas 1000 oleh suami jadi sedikit terbantu selama di Jepang. Selebihnya saya menukarkan uang Rupiah saya ke pecahan 10000 yen di Sahabat Valas di ITC Mangga Dua, Jakarta. 

Saya bawa uang secukupnya untuk bayar hotel dan kebutuhan selama beberapa hari di Tokyo, sisanya saya ambil di ATM seven Bank yang terdapat di hampir semua Seven Eleven menggunakan kartu BNI Debit saya berlogo Mastercard. Jangan Khawatir karena ATM Seven Bank dapat menerima kartu berlogo Visa, Plus, Mastercard, Maestro, Cirrus, Union Pay, American Express, JCB, Discover, dan Diners Club International. Salutnya lagi tersedia bahasa Indonesia hahah.. keren. Cara menggunakan ATM Seven Bank bisa dilihat di link berikut: http://www.sevenbank.co.jp/intlcard/service2.html. Selain Seven Bank, anda juga bisa menggunakan ATM Japan Post Bank. Bawa juga kartu kredit jika punya.

Persiapan yang tidak kalah penting bagi penggemar makanan pedas adalah saus sambal. Kenapa? karena di Jepang tidak ada saus sambal, kalau ada pun rasanya tidak pedas dan lebih cenderung  manis. Hanya ada saus tomat dan bubuk cabe kering. INGAT! JANGAN BAWA SAUS SAMBAL KE KABIN PESAWAT! Kenapa??? ya karena nanti akan ditahan petugas. Ponakan saya kemarin sampai manyun selama di pesawat karena botol sambal dan gel vitamin rambutnya ditahan petugas hahahha... Bawa juga abon kalau ingin hemat atau khawatir dengan makanan halal di Jepang. Di kombini (convenience store) seperti Seven Eleven, Family Mart dan Lawson ada onigiri alias nasi kepal. Isinya bisa macam-macam, ada ikan tuna, ayam, jamur dll. Ada juga yang hanya nasi saja. Biasanya saya akan bertanya kepada penjaga toko untuk memastikan isi onigiri tidak mengandung babi. Dengan bahasa Jepang seadanya saya bilang: "kore wa buta haitemasuka? yang artinya kira-kira "dalam makanan ini ada daging babi?". Kalau dia jawab "haitenai" artinya aman bisa dimakan...
Onigiri yang saya beli seharga 99 yen sudah termasuk pajak di supermarket.
Bawalah payung jika tidak keberatan karena di musim semi masih sering hujan. Saya kemarin harus beli payung di Ameyayokocho Ueno seharga 350 yen karena kehujanan. Harga payung bervariasi tergantung jenis dan modelnya, ada yang 350 yen, 500 yen bahkan 1000 yen. Belilah payung yang agak kuat menahan angin karena angin di jepang kadang sangat kencang. 

Sekian tips berlibur ke Jepang dari saya semoga bermanfaat...Jika ada yang ingin ditanyakan, silakan tinggalkan komentar. :)