Translate

Showing posts with label kereta jepang. Show all posts
Showing posts with label kereta jepang. Show all posts

Thursday, July 20, 2017

Liburan Hari Terakhir di Jepang: Narita Airport

Hari ini kami bersiap-siap untuk kembali ke Indonesia, setelah 11 hari menjelajahi Jepang. Kami membeli onigiri untuk sarapan di Family Mart dalam stasiun. Setelah Check out dari hotel pada jam 11 pagi dan menitipkan barang, kami pun menuju You!Pla Mall untuk membeli beberapa oleh-oleh. Kami berbelanja di Hyaku-en Shop Seria, tempat barang-barang seharga 100 yen. Dari barang-barang kebutuhan rumah tangga hingga pernak pernik dan mainan anak-anak tersedia disni. Setelah membeli beberapa mainan dan oleh-oleh, kami pun kembali ke hotel. 

Sambil menunggu jadwal kereta kami yang masih satu jam lagi yaitu jam 2 siang, maka kami pun bersantai di lobby hotel. Saya memanfaatkan signal Wifi hotel untuk berkomunikasi dengan keluarga di Indonesia sekaligus memesan tiket pesawat dari Jakarta ke Ternate dan Bali. Pukul 02:00pm kami pun menuju ke stasiun. Saya membeli tiket kereta dari Yukarigaoka ke Narita Airport (Bandara Narita) transit di Sakura seharga 580 yen per orang. Dari Yukarigaoka kami naik kereta Keisei Main Line Rapid for KEISEI-SAKURA ke stasiun Sakura, lalu berganti kereta Keisei Main Line Ltd. Exp. for NARITA AIRPORT menuju ke Terminal 2 Bandara Narita. 
Area Check-in di Terminal 2 Bandara Narita
Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Narita_International_Airport



Tiba di Bandara Narita kami lansung naik lift ke Departure Lobby di lantai 3 yaitu area untuk check-in. Saya dan si kakak pun mencari konter check-in untuk maskapai Japan Airlines (JAL), saya menemukan salah satu konter yang antriannya tidak terlalu panjang. Setelah check-in, kami pun naik ke lantai 4 untuk makan siang dan mencari oleh-oleh lagi hehehe. Kami makan siang di salah satu restoran yang menyajikan menu halal bernama La Toque. Restoran ini buka dari pukul 07:30-20:30. Ada rombongan turis dari Indonesia yang sedang makan juga, mereka berisik sekali. Saya memesan Meat Sauce Pasta Combo seharga 1060 yen dan Shinji memesan Curry with grilled chicken seharga 1080 yen. Rasanya lumayan enak, pantas saja banyak direkomendasikan orang.

Setelah makan siang, saya mampir berbelanja oleh-oleh di toko oleh-oleh Wamonoya Kaya yang berada di sebelah La Toque. Saya beli payung lipat motif bunga seharga 1000 yen serta 2 buah sapu tangan masing-masing seharga 600 yen dan 350 yen. Setelah membeli oleh-oleh kami pun turun kembali ke lantai 3 dan masuk ke tempat Security Check

Semua barang bawaan harus melewati pemeriksaan X-ray seperti biasanya termasuk ikat pinggang, jam tangan dan jaket. Saat kami melewati Metal Detector ternyata masih berbunyi sehingga petugas meminta kami membuka sepatu dan memberikan kami sendal khusus yang harus kami kenakan saat kembali melewati Metal Detector. Sedangkan sepatu kami kemudian diletakkan di nampan dan diperiksa di mesin X-ray. Kemudian kami diperbolehkan mengenakan kembali sepatu kami. Semua tas bawaan kami diperiksa oleh petugas. Petugas sempat meminta saya untuk membuka tutup botol air minum yang saya bawa, lalu memeriksa aromanya. 

Setelah itu kami pun langsung menuju loket imigrasi untuk mendapatkan stempel keluar. Selesai dari loket immigrasi, kami pun menuju ke Boarding Gate. Ada beberapa Duty Free Shop  yang kami temui setelah keluar dari loket immigrasi. Kami harus turun ke lantai 2 gedung utama bandara dan melewati Connecting Passageway untuk menuju ke lantai 3 gedung Satellite, tempat Boarding Gate kami berada.
Sumber: https://www.jal.co.jp/en/inter/airport/nrt/info/
Connecting Passageway menuju Satellite
Tiba di Boarding Gate, penumpang sudah sangat banyak. Kami tidak kebagian tempat duduk, akhirnya berdiri saja. Proses Boarding agak terlambat dari jadwal karena masalah teknis. Setelah agak lama menunggu, kami akhirnya bisa naik ke pesawat. Shinji menarik saya dan Alban ke depan pintu boarding sebelum pintunya dibuka, agar kami bisa naik lebih dulu. Benar saja, karena saya bawa anak kecil, kami pun dipersilakan naik terlebih dahulu sehingga kami tak perlu berdesak-desakan dengan penumpang lain. Senyum ramah dan salam dari Pramugari JAL pun menyambut kami di pintu masuk pesawat. Pramugari JAL memang terbaik!
Di depan Boarding Gate. Selamat tinggal Jepang....

Akhirnya kami pun meninggalkan Jepang dengan di malam itu dengan rasa haru sekaligus bahagia. Saya masih punya kesempatan untuk berkunjung lagi karena masa berlaku visa saya masih sampai 3 tahun kedepan😁. Saya sangat terkesan dengan Negara Jepang yang sangat disiplin, tertib, bersih, ramah dan penuh empati. Saya bersyukur masih bisa bertemu dengan para mantan manager di perusahaan dulu dan sahabat-sahabat terbaik saya di Jepang. Saya terharu dengan perhatian dan bantuan yang mereka berikan kepada saya. Terima kasih Mina san! Sampai jumpa lagi di masa mendatang. Sayonara Jepang... I'll be missing you...


Tuesday, June 6, 2017

Liburan Jepang Hari Keenam: Nagoya Castle

Pagi ini, saya harus segera ke Nagoya untuk bertemu dengan "Otousan" (Kanetani san). Saya janji akan bertemu dengan beliau pada pukul 10 pagi di stasiun Nagoya di meeting point "kin no tokei". Namun ternyata saya sudah melewatkan  jadwal kereta reguler dan saya sudah pasti akan terlambat tiba di Nagoya. Saya pun mencari alternatif kereta lainnya dan alhasil saya harus naik kereta Shinkansen Kodama pada pukul 09:45 dan tiba di Nagoya pukul 10:15. Wah telat 15 menit nih nanti, jadi makin nggak enak sama Otousan deh.

Saat membeli tiket Shinkansen, petugas bertanya dalam bahasa Jepang apakah saya ingin membeli tiket rountrip? karena sedang galau dan nggak fokus, saya iyain saja hahaha. Ketika tiketnya sudah di print saya baru sadar dan merasa aneh koq tiketnya ada 4 ya? setelah petugas menjelaskan tentang tiket pulang pergi, saya baru ngeh kalau saya sudah salah kasih info hahhaha. Dengan perasaan bersalah campur malu, saya lalu meminta maaf dan menjelaskan bahwa saya bermaksud beli tiket ke Nagoya saja. Petugas pun mengerti lalu membatalkan semua tiket saya tadi dan mencetak tiket yang baru😁. Maafkan saya ya pak!

Di stasiun Toyohashi ini terdapat jalur tanjakan untuk yang membawa koper sehingga kami tidak perlu menaiki tangga. Jepang memang perhatian sekali dengan faktor kenyamanan. Di jalur shinkansen saya bertanya kepada dua orang ibu-ibu tentang jalur di tiket kami apakah sudah sesuai, dan ternyata sudah benar. Saya sempat mengambil video dan foto sebuah kereta shinkansen di jalur sebelah. Tak lama keretanya pun tiba, kami bergegas naik. Akhirnya bisa ngerasain naik shinkansen walau cuma sebentar karena waktu tempuh dari Toyohashi ke Nagoya hanya 30 menit.

Shinkansen Kodama
Kereta Shinkansen di stasiun Toyohashi

Shinkansen Kodama
Si kakak sudah pindah ke kursi depan karena kosong
Tepat 30 menit kemudian kami sudah tiba di Nagoya. Rupanya Otousan sudah menunggu di pintu keluar shinkansen. Sebelumnya saya sudah memberitahu bahwa kami akan terlambat 15 menit karena kami naik shinkansen. Senang banget bisa bertemu lagi dengan beliau setelah 12 tahun tidak bertemu. Beliau tersenyum menyambut kami. Otousan langsung mencari loker koin untuk menyimpan koper-koper kami. Agak jauh juga tempatnya. Setelah ketemu, loker ini ternyata tipe yang pakai kunci untuk membukanya. Otousan mengatur koper dan tas agar bisa muat semua. Biaya untuk loker ukuran besar adalah 700 yen, ukuran sedang 500 yen dan ukuran kecil 300 yen.

Kami pun meninggalkan stasiun menuju ke Kastil Nagoya. Kastil Nagoya tidak terlalu jauh dari stasiun, hanya 15 menit naik taksi. Sebenarnya ke Nagoya merupakan rencana cadangan setelah berdiskusi dengan Otousan sebelumnya. Karena saya membatalkan rencana ke Kyoto, akhirnya saya pilih Nagoya sebagai gantinya. Tiba di Kastil Nagoya, kami sempatkan berfoto bersama sebelum masuk ke kastil.
Entering Nagoya Castle
Foto bareng Otousan sebelum masuk Kastil Nagoya
Sebelum masuk ke kastil, kita harus membeli tiket seharga 500 yen per orang. Rimbunnya deretan pohon sakura menyambut kami saat melewati Nishinomaru Gate yaitu pintu masuk utama Kastil Nagoya. Saya pun jadi kalap untuk foto-foto hehehe. Otousan juga sibuk mengambil foto. Cuaca hari itu sangat cerah sehingga pas sekali hari itu saya pakai jaket fleece yang tidak begitu tebal. Terkadang saya keringatan sehingga harus buka jaket. Meski begitu saat angin bertiup, suhu menjadi dingin kembali.
Nishinomaru gate nagoya castle
Nishinomaru Gate

hanami April 2017 Japan
Deretan pohon sakura yang membuat saya kalap foto-foto hehehe
Hanami April 2017 Nagoya castle
Shinji chan dan Hyuga kun
Cantiknya bunga sakura di Kastil Nagoya
Puas foto-foto di Nishinomaru area, kami pun menuju ke halaman bagian dalam kastil melewati Omote-Ninomon (Second Front Gate) atau dulunya disebut Minami Ninomon (Second South gate). Setelah melewati pintu ini, kita akan langsung melihat Honmaru Palace yaitu kediaman utama penguasa Owari. Istana aslinya telah hancur akibat bom saat perang dunia kedua dan saat ini sedang direnovasi. Otousan mengajak kami untuk masuk ke dalamnya. Sebelum masuk ke dalam istana ini, semua tas dan sepatu harus disimpan di locker yang telah disediakan. Bagian dalam Istana ini sangat indah. Saya sempat memotret beberapa bagian istana ini. Oiya, tidak diperkenankan menggunakan lampu flash saat memotret.
Honmaru Palace
Beberapa foto di bagian dalam Honmaru Palace
Keluar dari Honmaru Palace, kami menuju bangunan utama yaitu Kastil Nagoya. Kastilnya sangat megah dan indah. Kami langsung memasuki bagian dalam kastil. Otousan mengajak kami menuju lantai paling atas dari kastil ini. Pemandangannya benar-benar indah, taman sakura dan kota Nagoya terlihat menakjubkan dari atas sini. Selain dimanjakan oleh pemandangan indah, di atas sini juga tersedia berbagai macam oleh-oleh khas Nagoya yang bisa di bawa pulang. Saya membeli gantungan kunci boneka jepang seharga 450 yen, gantungan kunci katana 400 yen dan sapu tangan 540 yen.
Nagoya city
Pemandangan kota Nagoya dari atas kastil

Sangat indah, bukan?
Jika saat naik tadi kami naik lift, maka saat turun, saya pengen nyobain tangga kayunya. Turun satu lantai, kami menuju area museum. Ada miniatur Kastil, ada Kinshachi (ikan emas) yang merupakan ikon Nagoya, ada kostum Samurai, ada patung pekerja sedang membangun kastil dan beberapa lukisan.

Miniatur Kastil Nagoya

Patung Pekerja
Nagoya Castle
Kinshachi

Kostum Samurai
Setelah melihat-lihat isi museum kami pun beristirahat sejenak di halaman kastil di bawah rindangnya pohon sakura sambil menikmati es krim matcha. Dari sinilah si kakak jadi ketagihan sama es krim matcha. Di area ini juga tersedia toilet dan tempat duduk untuk makan Saya sangat menikmati keindahan kastil ini. Sebenarnya ada beberapa area taman lagi yang belum kami kunjungi, tapi saya sudah lelah dan lapar. Kami pun kembali ke stasiun untuk makan siang, lalu menuju Matsusaka.
Nagoya Castle
Ice Cream Matcha si Kakak

Nagoya
Nagoya Castle
Nagoya Castle Park
Selesai sudah petualangan di Kastil Nagoya. Saya sangat merekomendasikan tempat ini bagi teman-teman yang akan berkunjung ke Jepang di musim semi. Jangan lupa beri komentar untuk artikel ini ya...

Friday, May 19, 2017

Liburan Jepang Gunung Fuji dan Kachi-Kachi Ropeway


Petualangan hari keempat kami adalah Fujiyama alias Fuji-san alias Gunung Fuji. Rasanya belum "afdol" kalau ke Jepang tapi tidak mengunjungi Gunung Fuji. Sebenarnya akan lebih efisien kalau perjalanan dimulai lebih pagi sekitar jam 7 pagi, karena lama perjalanan menuju ke Gunung Fuji (stasiun Kawaguchiko) dari stasiun Tokyo menggunakan kereta rapid adalah sekitar 3 jam dengan dua kali transit yaitu di Takao dan Otsuki. Tapi karena si kecil bangunnya sekitar jam 8, akhirnya kami baru bisa pergi pada jam 10 setelah membayar tiket bus willer ke Toyohashi di Family Mart, mengirimkan koper dan sarapan pagi sebentar di Seven Eleven.

Saya membeli tiket bus malam Willer Express ke Toyohashi melalui situs Willer Express. Namun sebelum bisa membeli tiket, kita diwajibkan mendaftar terlebih dahulu sebagai member. Setelah mendaftar dan memilih tiket, kita bisa melakukan pembayaran melalui Lawson atau Family Mart jika tidak memiliki kartu kredit. Panduan pembayaran bisa dilihat di situs Willer Express, sangat lengkap dan terperinci kok. 

Setelah selesai, kami pun menuju stasiun Tokyo untuk melanjutkan perjalanan ke Kawaguchiko.Dari Stasiun Tokyo kami naik JR Chuo Line rapid for Takao, dari Takao naik JR Chuo Line for Kofu ke Otsuki lalu naik Fujikyu Railway ke Kawaguchiko. Harga tiket dari stasiun Bakurocho ke Otsuki adalah 1660 yen, sedangkan dari Otsuki ke Kawaguchiko adalah 1140 yen. Ada juga kereta limited express yang lebih cepat dan tentunya lebih mahal harganya, harga dan jadwal keretanya bisa dilihat di situs HyperDia.

Di sepanjang perjalanan kami disuguhkan oleh pemandangan alam pegunungan dan pedesaan khas jepang yang sangat asri. Saya sempat memotret pohon sakura di beberapa stasiun yang kami singgahi. Keretanya juga beberapa kali melewati terowongan yang sukses bikin telinga saya seperti berada berjam-jam di atas pesawat terbang hahhaa...
Deretan bunga Sakura di sepanjang rel kereta
Sakura di stasiun Fujino
Maaf kalau yang ini saya lupa tempatnya :)
hanami
Sakura di depan stasiun Otsuki
Maaf, bukan maksud Pak Masinis menghalangi Gunung Fuji hehehe

Fujisan station
Gunung Fuji di stasiun Fujisan

Tiba di Kawaguchiko saya kedinginan karena tidak bawa syal, sarung tangan apalagi topi kupluk padahal suhu saat itu adalah 8⁰C. Kami pun mampir minum kopi di kantin stasiun Kawaguchiko, Gateway Fujiyama. Selain cappuccino seharga 450 yen, saya juga pesan tempura udon yang harganya 700 yen karena penasaran 😄. Rasanya yah lumayanlah, si dede juga suka udonnya. Si kakak lebih beruntung karena pesan caramel cappuccino yang lebih manis dari kopi saya. Meski saya sudah ambil beberapa gula sachet untuk ditambahkan ke kopi, tetap saja masih pahit hahaha... Mungkin saya ditakdirkan diet gula selama di Jepang.

Setelah makan, kami jalan-jalan sebentar disekitar stasiun lalu naik bis berkeliling Gunung Fuji. Jujur saja setelah tiba di Kawaguchiko, tiba-tiba otak saya jadi blank nggak tau mau kemana hahaha... Ditambah tidak ketemu signal wifi, saya pun pakai jurus terakhir, ikutin turis lain sajah hahahaa... Beberapa pemberhentian terlewati, saya masih belum yakin mau turun dimana, padahal dari Indonesia sudah ngebayangin foto disamping pohon sakura dengan latar Gunung Fuji 😄. Memang dasar ibu-ibu rempong kalau sudah ribet dengan anak jadi lupa tujuan awal hahaha... Akhirnya tiba di satu pemberhentian dan banyak penumpang yang turun, hampir setengah isi bus. Saya pun memberi kode ke si kakak untuk bergegas turun juga dan memang tidak mengecewakan karena kami turun di Kachi-kachi Ropeway yang terkenal itu. Jadilah kami beli tiket roundtrip untuk naik Kachi-kachi Ropeway seharga 800 yen per orang. Wow! antrian lumayan panjang, tapi nggak apa-apa karena tak lama kemudian kami sudah bisa naik. Pemandangan dari atas Ropeway cukup indah, tapi sayang karena saat itu hari sudah agak berkabut.
kachi-kachi ropeway
Danau Kawaguchi dari atas Ropeway
Hanya sekitar 3 menit naik ropeway, kami pun sampai di atas. Gunung Fuji lebih jelas terlihat dari tempat ini. Suhu juga lebih rendah sehingga tangan dan lutut saya menjadi kram. Saran saya jika anda akan berkunjung ke gunung Fuji, carilah info cuaca sebelum berkunjung dan persiapkan semua perlengkapan. Bagi yang muslim, sebaiknya membawa bekal karena agak susah menemukan menu halal. Kalaupun ada, tidak akan cukup waktu untuk wara wiri mencarinya.
Kawaguchi-ko
Gunung Fuji dari tempat Observasi
 
Gunung Fuji dan Fuji-Q Highland 
Gunung Fuji di sore hari dari stasiun Kawaguchiko
Hari menjelang malam ketika kami kembali ke stasiun Kawaguchiko. Sebelumnya saya sempat membeli oleh-oleh manisan apel dan manisan buah ume, saya suka manisan umenya. Di stasiun Kawaguchiko saya langsung membeli tiket kereta Fujikyu ke Otsuki.Tiba di Otsuki, saya bingung karena sudah jam 7 malam. Padahal saya harus tiba di Tokyo sebelum jam 10 malam karena harus naik bis ke Toyohashi. Saya bertanya ke petugas JR di loket dan rekomendasi dari petugas tersebut adalah kereta Limited Express Kaiji yang berangkat pukul 19:33 menuju Shinjuku, lalu berganti ke kereta rapid menuju Tokyo. Waktu kami hanya beberapa menit lagi sebelum kereta tersebut tiba. Saya pun setuju dan segera membeli tiket kereta tersebut. Karena mengejar waktu saya dan si kakak berlari menuju track yang sudah diberitahu oleh petugas.
Tiket Kereta Limited Express Kaiji
Di Dalam Kereta Limited Express Kaiji menuju Shinjuku
Setelah naik kereta, hati saya baru bisa lega. Si dede sudah tertidur karena kecapean, saya pun berusaha tidur karena lama perjalanan ke Shinjuku adalah 1 jam. Dari Shinjuku kami naik JR chuo line ke stasiun Tokyo. Bisa juga naik JR Yamanote line. Tiba di stasiun Tokyo sudah jam 9 malam, saya sempatkan membeli susu dan cemilan untuk si dede dan membeli kaos kaki di outlet Uniqlo. Bulan April cuaca masih dingin dan lembab, kaos kaki cepat lembab dan bau. Jadi saya sarankan membawa banyak stok kaos kaki agar kaki dan sepatu tidak bau.

Kami mencari pintu keluar South Yaesu untuk menuju ke Kajibashi parking lot, tempat bus Willer Express berada. Keluar dari stasiun saya bingung karena tidak melihat tempat parkir yang dimaksud. Akhirnya ketemu pak polisi ganteng bersepeda yang rela mengantarkan hehehe. Terima kasih pak, jasamu tidak akan terlupakan😊. Pak polisi bahkan rela menunggu saya memotret beberapa pohon sakura di tepi jalan dan mengajak saya ngobrol. Dari pintu keluar South Yaesu, tinggal belok kanan lalu lurus saja menyusuri trotoar. Setelah ketemu lampu merah, lurus lagi dan itulah Kajibashi Parking lot. Pak polisi tadi mengantarkan kami sampai di lampu merah. Sayang sekali saya lupa selfie dengan beliau hehehe.

Memasuki area parkir saya melihat petugas bus Willer sedang sibuk memberi arahan kepada calon penumpang agar masuk ke ruang tunggu yang telah tersedia agar bisa memperhatikan pengumuman bus yang akan tiba dan akan berangkat. Tapi karena ruang tunggunya tampak sesak saya memutuskan untuk menunggu diluar.

Tak lama ada seorang bule yang tidak bisa bahasa Jepang sedang bertanya kepada petugas tersebut tentang jadwal bus dan beberapa informasi lainnya. Si petugas yang juga tidak terlalu fasih berbahasa Inggris jadi bingung. Mereka berdebat cukup lama. Saya pun mendekati petugas dan membantu menjelaskan maksud si pria bule. Dengan Bahasa Jepang seadanya saya bilang bahwa si bule ingin tahu jika jadwal busnya sudah tertera di papan pengumuman, dia harus melapor kepada siapa untuk bisa naik ke bus. Si petugas akhirnya mengerti lalu mengatakan kepada saya bahwa dia hanya perlu memperhatikan nomor tempat parkir dan mendatangi bus yang parkir di nomor tersebut, supir bus akan menunggu penumpang di samping bus. Jadi dia hanya perlu melapor kepada supir bus saja. Saya lalu menerjemahkan apa yang dikatakan oleh petugas tadi kedalam bahasa Inggris kepada si bule. Si bule pun ngangguk-ngangguk tanda mengerti. Dan case closed hahaha. Si bule berterima kasih kepada saya, begitu pun petugas yang menunduk sambil bilang arigatou gozaimashita. Saya balas menunduk dan bilang iie douitashimashite.

Masih 40 menitan lagi jadwal bis saya, saya dan si kakak memutuskan untuk jalan-jalan diluar tempat parkir mencari mini market. Ketemu Lawson, karena barang yang dicari si kakak tidak ada akhirnya kami jalan-jalan saja. Ketemu beberapa pohon sakura yang cantik, saya sempatkan memotretnya.
Cantik sekali sakura di Yaesu pada waktu malam
Yaesu
Bersih sekali kota Tokyo
Setelah puas jalan-jalan, kami kembali ke Kajibashi dan mencari info kedatangan bus. Masih belum muncul di papan pengumuman. Kami pun kembali menunggu di luar, kali ini ketemu dengan orang Indonesia yang sedang membawa keluarganya liburan. Kami mengobrol panjang lebar, sampai akhirnya tiba giliran mereka naik bus. Tak lama kemudian kami pun naik bus menuju Toyohashi.

Selamat tinggal Tokyo, sampai jumpa lagi nanti ya... 

Tuesday, April 25, 2017

Liburan Jepang Narita Airport & Planetyze Hostel

Pertama kali ke luar negeri membuat saya sedikit gugup dan khawatir. Karena takut telat tiba di bandara, saya ke bandara 3jam sebelum jadwal keberangkatan hahaha dan alhasil counter check-in belum dibuka. Sebelum check-in, bagasi kita akan dicek oleh petugas dengan alat khusus yang ditusuk ke dalam koper atau tas. Dan alhamdulillah bagasi saya semuanya aman. Proses pemeriksaan di Immigrasi juga berjalan lancar dan tanpa antrian panjang, mungkin karena penerbangan dini hari tidak sepadat siang hari. Petugasnya juga tidak banyak bertanya. Siapkan saja Paspor dan boarding pass saat mengantri di loket Immigrasi.

Penerbangan dengan maskapai JAL (Japan Airlines) juga lancar, hanya si kecil yang agak rewel saat akan landing. Bawalah cemilan yang membuat si kecil bisa mengunyah saat take off maupun landing agar telinganya tidak sakit. Sebagai penumpang muslim, saya tidak lupa memesan Halal Meal dan Child Meal untuk anak saya. Anak saya mendapatkan child meal yang cukup komplit.
Halal meal
Halal Meal
JAL Child Meal
Child Meal dari JAL

Tiba di bandara Narita, tempat pertama yang saya cari adalah toilet hahha.. Toilet di bandara Narita sangat bersih, dan ada banyak tombol-tombol. Ada tombol bidet buat cewek dan itu yang saya cari heheh karena di pesawat tidak ada. Setelah itu kami berjalan menuju Immigrasi untuk pengecekan paspor dan visa. Sebelumnya di pesawat telah dibagikan kartu Custom Declaration dan Disembarkation Card for Foreigner oleh pramugari. Nah kedua kartu tersebut diisi sesuai data dan tujuan anda. Tiba di loket Immigrasi Jepang antrian sudah sangat panjang, sehingga saya dan penumpang lainnya diarahkan ke loket Immigrasi lainnya di bagian Immigrasi khusus warga Jepang. Di loket Immigrasi, sidik jari dan mata kami dipindai oleh petugas lalu paspor kami distempel dan kami pun bisa turun satu lantai untuk mengambil bagasi. Setelah mengambil bagasi kami menuju bagian Custom dan menyerahkan kartu Custom Declaration tadi. Bagasi saya sudah tidak dicek lagi. Petugas hanya memeriksa kartu Custom Declaration tadi dan memperbolehkan kami keluar.

Di dekat pintu keluar terdapat Tourist Information Center dan loket pembelian tiket kereta JR dan Keisei. Saya sedikit bingung harus naik apa dari bandara ke hostel di Bakurocho, padahal sebelumnya sudah lihat di Hyperdia kalau bisa naik NEX (Narita Express) milik JR atau pun kereta Keisei Line. Loket NEX dan Keisei berdampingan, saya jadi tambah galau mau beli yang mana. Keisei main line lebih murah tapi harus transit beberapa kali. Kalau NEX hanya sekali transit di stasiun Tokyo dan berganti kereta JR Rapid ke Bakurocho. Melihat koper dan tas tentengan yang lumayan bikin ribet akhirnya saya beli tiket NEX roundtrip seharga 4000 yen/orang karena lebih murah daripada beli tiket oneway seharga 2300 yen. Celakanya saya lupa kalau saya nanti pulangnya dari Chiba jadinya saya rugi 1700 yen hahahah... Kereta NEX memang nyaman dan lega, koper kami berdua masih bisa nyelip di depan kaki. 

Tiba di stasiun Tokyo saya bingung gimana mau lanjut ke Bakurocho, penyakit kedernya kumat hahahaa... Saya lupa kalau seharusnya tadi saya beli tiket terusan ke Bakurocho jadi nggak bingung transfer kereta. Akhirnya saya menuju pintu keluar untuk kereta NEX, lalu bingung karena nggak nemu mesin tiket kereta atau loket hahahah...Akhirnya nanya ke petugas polisi dalam stasiun Tokyo, dan diantar ke loket JR (baik sekali pak polisinya hehehe).

Saya bertanya ke petugas loket gimana cara ke Bakurocho. Dia bilang silakan beli tiket JR di mesin tiket di samping loket. Jiaaah tambah bingung saya... Gimana caranya pakai mesin yang isinya huruf kanji semua itu?? Secara saya nggak lulus ujian kanji hahahha... Saya balik lagi ke loket kasih tau kalau saya nggak tahu cara pakai mesin itu, si petugas masih ngotot nyuruh saya pakai itu mesin, katanya ikuti saja petunjuknya. Ajegile, mungkin si petugas pikir karena saya ngobrol sama dia pakai bahasa Jepang, jadi saya bisa baca kanjinya hahahaa... Akhirnya saya ngintip aja orang Jepang yang sedang beli tiket. Yes! saya tahu juga caranya hahaha... Saya tidak perhatikan ternyata di pojok kanan atas ada menu bahasa Inggrisnya hahaha...
Peta jalur dan harga tiket kereta

Jadi untuk jalur dalam kota, kita bisa membeli tiket di mesin tiket. Sedangkan untuk jalur luar kota atau untuk kereta Shinkansen, belilah di konter tiket. sebelum menggunakan mesin tiket, lihatlah dulu keatas mesin tiket ada papan besar yang berisi peta jalur yang telah tertera harga tiket dan nama stasiun kereta dari masing-masing stasiun tujuan yang anda tuju, misalnya dari stasiun Tokyo ke Bakurocho harga yang tertera adalah 140 yen dan jalur yang digunakan adalah JR sobu line rapid.

Setelah membeli tiket, kami menuju pintu masuk sesuai jurusan/ line di tiket. saya mencari gate untuk JR sobu/Chuo line, masukkan tiket ke mesin di pintu masuk, tiket akan keluar di ujung mesin, ambil tiket dan masuklah, simpan tiket untuk mesin tiket di pintu keluar nanti. Saya mengikuti petunjuk yang ada platform jurusan tempat tujuan saya. Kadang kita harus turun ke bawah atau naik ke lantai atas sesuai petunjuk jurusan yang anda tuju. Lihat nomor track kereta anda, misalnya di nomor 3 maka berdirilah di jalur nomor 3, ada tulisan keterangan jurusan/ line di setiap jalur. Kereta rapid biasanya bebas naik di gerbong mana saja, jadi antrilah di garis yang telah disediakan. Selalu berdiri di belakang garis kuning demi keselamatan anda. Saya selalu bertanya kembali kepada orang yang di sekitar saya mengenai jalur/track yang benar menurut tiket saya, dan mereka selalu dengan senang hati menjelaskan.

Ketika kereta datang, tunggulah hingga semua penumpang yang turun selesai turun barulah anda boleh naik. Sopan santun di kereta wajib dijaga. Matikan suara telepon genggam anda dan jangan mengobrol di dalam kereta karena akan menggangu ketenangan orang lain. Di Tokyo kereta sangat hening, kalau pun ada yang berbicara biasanya hanya bisik-bisik. Perhatikan pengumuman stasiun tujuan yang biasa diumumkan dalam bahasa Jepang dan bahasa Inggris. Saking seringnya saya fokus dengan pengumuman hingga saya hafal pengumuman dalam bahasa Jepangnya hahahaa... Atau bisa dibaca di monitor di atas pintu kereta. Bersiaplah di depan pintu sesaat sebelum kereta tiba di stasiun tujuan. Dan turunlah ketika sampai di tujuan. Cari petunjuk pintu keluar jalur anda, jangan sampai salah keluar dari jalur seperti yang saya alami, akhirnya tiket saya keluar lagi hahaha.. Ketika keluar di pintu keluar masukkan tiket anda, tiket tidak akan keluar lagi dan pintu akan terbuka. Di stasiun ada beberapa pintu keluar dari gedung stasiun, carilah pintu terdekat ke tempat tujuan anda. Saya mencari pintu keluar C6 yang paling dekat dengan hostel saya. 
Planetyze Hostel Tokyo
Cuaca di tokyo saat saya tiba adalah 9°C, dan saya hanya pakai baju 2 lapis ditambah jaket. Anak saya juga hanya mengenakan baju dua lapis (kutang dan kaos) ditambah rompi rajut dan jaket fleece, sepertinya dia nggak menunjukkan tanda-tanda kedinginan hehe. Ketika keluar dari stasiun Bakurocho tempat hotel saya berada, angin malam berhembus kencang dan anginnya sangat sangat dingin. Memang benar yang dibilang suami saya bahwa sebenarnya yang dingin adalah anginnya. Kami bertiga kedinginan karena nggak bawa sarung tangan dan syal hahaha... akhirnya mampir di seven eleven beli roti, ayam krispi dan teh hangat karena perut sudah lapar. Teh di Jepang itu seperti iklan, nggak ada manis-manisnya gituh ahahaha... nyesel belinya karena tidak bisa saya minum hahaha...

Tiba dihostel Planetyze sudah jam 9 malam, langsung check-in dan resepsionisnya ramah banget. Kamarnya bersih dan toiletnya walaupun buat rame-rame tapi bersih dan ada bidet-nya. Ada Coin laundry di beberapa lantai, 200 yen untuk sekali mencuci dan 100 yen untuk 20menit pengering. Cara penggunaan coin laundry juga nggak ribet, tinggal masukkan pakaian dan deterjen, tutup dan masukkan koin 200 yen di tempat koin dan mesin langsung jalan. kalau mau mengunci penutup mesinnya tinggal tekan tombol yang ada di mesin saya lupa yang sebelah mana hahha.. Dryer juga begitu, masukkan baju, tutup dryernya, lalu masukkan koin 100, 200 atau 300 yen sesuai keinginan anda dan mesin akan langsung jalan. Gampang kan? Saya sih biasanya kalau pakai dryer menghabiskan 400 yen karena pakaian saya banyak hehehe...
Mesin Coin Laundry dan Dryer di Planetyze Hostel
Tersedia air minum dan air hangat gratis di lobby hostel. Lumayan karena harga air mineral di vending machine adalah 110 yen. Malam pertama di tokyo kami habiskan dengan istirahat full. Persiapan jalan-jalan besok pagi dengan Fujisaki san di Asakusa.