Translate

Tuesday, July 18, 2017

Liburan Jepang Hari kesembilan: Indahnya taman Osaka Zouheikyoku, Osaka Castle, Umeda Sky Building

Hari ini kami berencana untuk melihat bunga sakura di taman Zouheikyoku, berkunjung ke Osaka Castle, dan Umeda Sky Building. Sebenarnya saya ingin ke Tsutenkaku Tower tapi karena lokasi makan malam nanti akan lebih dekat dari Umeda Sky Building, maka acara ke Tsutenkaku saya batalkan. 

Tepat jam 10 pagi, saya sudah bersiap untuk turun ke lobby hotel dan menunggu kedatangan Tsurufuji san dan Tahara san. Saya kangen sekali dengan mereka. sudah lama sekali tidak bertemu. Tak lama kemudian Tsurufuji-san muncul dari pintu lobby. Tampak sedang membaca pesan teks di HPnya. Saya menyapa beliau dengan gembira. Tsurufuji san mengatakan bahwa Tahara san sedang berjalan menuju ke hotel ini. Kami pun duduk menunggu Tahara san di lobby hotel. Saya mengeluarkan beberapa gantungan kunci sebagai oleh-oleh dan mempersilakan Tsurufuji san untuk memilih salah satu yang disukai. Tiba-tiba muncul Tahara san dari pintu lobby dengan nafas terengah-engah. Beliau langsung protes kepada saya karena jarak dari stasiun ke hotel sangat jauh hahahha. Tahara san membawa banyak oleh-oleh untuk saya, saya senang sekali 😁.

Kami naik taksi dari hotel menuju ke taman Zouheikyoku di Temma Kita-ku. Di pintu gerbang taman antrian sudah sangat panjang. Kami berjalan menuju gerbang taman sesuai arahan pak polisi. Ramai sekali pengunjung yang datang. Pada musim semi taman ini dibuka selama 1 minggu pada pertengahan April. Beberapa larangan selama berada di taman ini adalah; kita tidak diperbolehkan untuk makan dan minum, dilarang merokok, dilarang melewati area yang dibatasi oleh tali, dilarang membawa hewan peliharaan, dan dilarang membawa sepeda atau sepeda motor ke dalam taman. Tidak tersedia tempat parkir, jadi kita sebaiknya menggunakan kendaraan umum saat datang ke tempat ini.
Pintu masuk taman Zouheikyoku

Hanami in osaka
Pak Polisi sedang mengatur pengunjung
Terdapat sekitar 350 pohon sakura dengan 134 jenis yang bisa kita nikmati di jalur sepanjang 560 meter dari pintu selatan hingga pintu utara. Meski sangat ramai, para pengunjung sangat tertib mengikuti arahan pak polisi. Bunga sakura di taman ini memang sangat cantik hampir menyerupai bunga mawar. Saya bahkan melihatnya seperti bulu domba yang sedang menempel di ranting pohon hahaha. Saya merasa beruntung bisa berkunjung ke taman ini. Jenis-jenis sakuranya bisa dilihat di link berikut http://www.mint.go.jp/enjoy-eng/sakura-eng/eng-chart-cherry.html.
Best Smile
variety of sakura
Beberapa verietas bunga Sakura
green sakura
Ada yang warna hijau juga 😍
Shidarezakura
hanami 2017
Love this place
Banyaknya varietas bunga sakura di sini membuat saya terkagum-kagum. Mendekati pintu keluar, hujan mulai gerimis. Kami bergegas meninggalkan Zouheikyoku dan mampir untuk makan siang di sebuah restoran bernama Yayoiken. Selesai makan siang, hujan masih gerimis hingga kami pun memutuskan untuk naik taksi ke Kastil Osaka.
Foto bersama di jalan masuk gerbang Otemon Kastil Osaka

Otemon gate
Otemon Gate
Kami masuk melalui Otemon Gate. Pohon sakura berukuran besar menyambut kami begitu memasuki gerbang Otemon. Kompleks Kastil Osaka ini sangat luas. Tamannya sangat asri dan cantik.Saya sangat suka suasananya. Wisatawan yang berkunjung sangat banyak. Saya juga melihat beberapa rombongan turis Indonesia.
Taman yang asri dan apik
Saya tidak sabar ingin melihat Kastil Osaka sehingga kami langsung menuju ke halaman bagian dalam. Saat memasuki halaman kastil, si kakak melihat ada yang menjual ice cream matcha. Lagi-lagi dia heboh pengen beli ice cream itu, jadi ya saya beli saja ice cream seharga 350 yen tersebut. Kini Kastil Osaka sudah tepat dihadapan saya. Tanpa menunggu lama, langsung saja saya memotret kemegahan Kastil Osaka ini. 
Istana Osaka
Osaka Castle
Mulutnya masih belepotan ice cream matcha πŸ˜‚
Sayang sekali kami tidak jadi masuk ke dalam kastil karena antrian di loket tiket sangat panjang sekali. Saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Umeda Sky Building saja. Akhirnya kami berjalan menuju stasiun terdekat melalui Yamazatomon Gate di bagian belakang kastil. Keluar dari Yamazatomon Gate, kita bisa melihat Uchibori (parit bagian dalam). Terdapat kapal wisata Gozabune Boat yang mengitari Uchibori ini.
Osaka castle gate
Yamazatomon Gate
Osaka Castle inner moat
Uchibori
Setelah dari Yamazatomon Gate, kami pun melewati Osaka Castle Hall menuju stasiun Osakajokoen. Saya sempat bercanda dengan Tahara san dan Tsurufuji san bahwa mungkin pada saat perang dulu banyak prajurit yang mati bukan disebabkan karena bertarung tapi karena kelelahan. Tahara san lalu bertanya kenapa bisa begitu? saya spontan menjawab sebab baru berjalan melewati halaman kastil ini saja saya sudah hampir mati lemas dan kehabisan nafas. Tahara san tertawa mendengar jawaban saya hahahha. Kenyataannya halaman kastil ini memang sangat luas.

Kami pun naik kereta JR rapid menuju ke stasiun Osaka, lalu berjalan kaki menuju Umeda Sky Building. Lagi-lagi dilema melanda karena Umeda Sky Building sudah kelihatan tapi ternyata untuk sampai kesana kami harus berjalan cukup jauh. Kalau naik taksi mungkin supirnya menolak karena terlalu dekat. Akhirnya dengan sisa tenaga kami pun berjalan kaki ke Umeda Sky Building. Agar tidak terasa pegalnya, kami sesekali bersenda gurai dan tertawa. 
Miniatur Umeda Sky Building
Tiba di Umeda Sky Building kami lalu mencari lift untuk naik ke lantai atas yaitu lantai 35. Dari lantai 35 kami naik mid-air escalator ke lantai 39 untuk menuju  Floating Garden Observatory.  Di lantai ini terdapat restoran dan toko oleh-oleh Shop Sky 39.
Penampakan Mid-air Escalator dari luar.
Umeda Sky Building
Mid-air escalator
Kami naik satu lantai lagi ke lantai 40 dengan eskalator biasa. Dari lantai ini kita bisa lihat kota Osaka dengan jelas serta tersedia banyak tempat duduk untuk bersantai menikmati pemandangan kota. Lalu kami naik lagi ke Roof Top untuk menikmati udara terbuka. Disini terdapat Heart Lock Fence alias pagar gembok cinta, gemboknya bisa dibeli di lantai 40 tadi. Pemandangan dari atap ini tidak kalah keren. Saya berkesempatan memotret beberapa foto.
Umeda sky building
Kota Osaka dari Floating Garden Observatory
Kota Osaka dan Sungai Yodo dari Roof Top Umeda Sky Building

Umeda Sky building
Roof Top Umeda Sky Building
Umeda sky building
Heart Lock Fence
Umeda ky Building ini buka dari jam 10:00 - 22:30. Biaya masuk untuk dewasa 1000 yen, siswa SMP dan SMA 700 yen, SD 500 yen, anak-anak 4 - 6 tahun 200 yen, lansia di atas 65 tahun 800 yen. Biaya parkir 400 yen/jam. Saya sempat mampir di lantai 39 untuk membeli oleh-oleh sapu tangan seharga 360 yen. Setelah itu kami pun meninggalkan Umeda Sky Building untuk jalan-jalan di sekitar Stasiun Osaka. Saya mampir membeli oleh-oleh buat suami di Yodobashi camera mall. Karena saya bawa paspor, saya dapat harga tax free hehehe. 


Setelah itu kami berkeliling di kawasan Umeda seperti Umeda Hankyu Main Store dan  Hanshin Department store. Setelah puas berkeliling kami pun menuju ke tempat kami janjian untuk makan malam yang telah dipesan sebelumnya oleh Furuya san. Restorannya bernama Ganko yang terletak tak jauh dari Stasiun Umeda Hankyu. Kami tiba lebih awal di restoran dan disambut oleh seorang pria yang mirip sekali dengan Furuya san, ternyata beliau adalah adik dari Furuya san yang bekerja di restoran tersebut😁.  Beliau kemudian mempersilakan kami untuk memasuki sebuah ruangan. 

Setelah Furuya san tiba kaami pun makan malam. Segala menu makanan dipesan oleh mereka untuk menjamu kami. Saya jadi bingung mau makan yang mana. Saya pesan ayam karaage untuk si Alban soalnya takut dia tidak bisa makan sushi. Karena tidak ada menu nasi, kami pun pesan kentang goreng. Malam itu saya pertama kali mencoba makan sushi, dan rasanya lumayan enak walau terasa agak aneh di lidah karena saya belum terbiasa. Malam itu kami habiskan dengan canda tawa dan obrolan ringan. Saya jadi rindu masa lalu. 
Semoga bisa bertemu lagi
Selfie di depan Restoran Ganko
Kami berfoto ria sebelum pulang ke tempat masing-masing. Furuya san mengantar kami sampai ke hotel. Saya memberikan salam perpisahan sebelum beliau pergi. Terima kasih kepada semuanya. Malam ini saya tidur sambil tersenyum.

Bagi teman-teman yang suka artikel-artikel saya jangan lupa kasih komentar ya.

Friday, July 14, 2017

Liburan Hari Kedelapan: Indahnya Hanami di Utsubo Park Osaka

Meninggalkan Oak Hostel Nara, perjalanan kami berlanjut ke Osaka. Kami naik kereta Kintetsu Line dari Nara ke Hommachi transit di Ikoma harga tiketnya 810 yen. Untuk menuju ke arah hotel, kami harus melalui pintu keluar nomor 28, dan untuk menuju pintu keluar kami harus berjalan cukup jauh. Tiba di pintu keluar saya ikuti arah di peta dan tinggal berjalan lurus ke arah hotel. Namun ternyata jarak dari stasiun ke hotel cukup jauh, apalagi dengan acara geret-geret koper itu "SESUATU" sekali hahaha. Kalau tahu akan sejauh itu saya pasti sudah naik taksi.

Saya memesan kamar di City Route Hotel ini untuk dua malam. Resepsionisnya cukup ramah dan fasih berbahasa Inggris. Kami tidak diperbolehkan untuk check-in lebih awal karena masih jam 12 jadi kami hanya check-in untuk menitipkan barang lalu pergi jalan-jalan ke taman Utsubo hingga jam 2 siang. Sebelum ke taman kami memutuskan untuk makan siang di restoran hotel karena tidak tahu tempat makan disekitar hotel. Restorannya ada di lantai dua, ada tangga naik dari depan hotel. Selesai makan, kami pun berjalan ke arah taman yang tak jauh dari hotel. 

Taman Utsubo cukup rindang dan ada taman bermain untuk anak. Alban senang banget bisa bermain sepuasnya. Ada banyak bangku untuk duduk dan bersantai, sehingga kami tidak jenuh menghabiskan waktu di taman ini. Sementara saya dan Alban asik bermain, si kakak duduk santai dan mengerjakan tugas kuliahnya. Ada banyak orang tua yang sedang menemani anaknya bermain.
Playing in utsubo park
Senangnyaaa :)
Kami berjalan ke sisi lain taman dan wow ada baaanyaak sekali bunga sakura. Wah saya jadi semangat untuk foto-foto. Banyak sekali keluarga dan remaja yang sedang berpiknik di taman ini. Mereka menggelar tikar di bawah rindangnya pohon sakura. Beberapa remaja sedang asik bermain kejar-kejaran di tengah lapangan sambil sesekali tertawa. Saya sangat suka pemandangan di taman ini. 
Hanami Utsubo park Osaka
Cantiknya sakura di Taman Utsubo
Sakura Hanami Utsubo Park Osaka
Menikmati hanami di Utsubo Park
Hanami April 2017 osaka
Alban pun menikmati hanami
Hanami osaka 2017
Kakak masih sibuk sama tugas kuliahnya :)
Puas bersantai di taman, kami pun kembali ke hotel untuk istirahat. Ada Seven Eleven di samping hotel, kami mampir untuk membeli cemilan dan air minum kemasan 2liter karena harganya jauh lebih murah hanya 108yen sudah termasuk pajak. Murah, kan? 

Malam harinya saya dan si kakak sibuk mencari tempat makan disekitar hotel melalui google maps. Dan bingo! Saya berhasil menemukan sebuah restoran  Izakaya yang menyediakan menu takoyaki. Awalnya saya sempat khawatir kalau takoyakinya menggunakan babi, namun si penjual menyakinkan saya bahwa takoyaki nya tidak menggunakan daging babi tapi daging gurita. Saya senang sekali akhirnya bisa makan takoyaki yang merupakan makanan khas Osaka. Mungkin lebih tepatnya cemilan hehehe. Satu porsi takoyaki sudah cukup membuat saya kenyang. 

Si kakak memesan yakisoba (mie goreng) yang juga sangat lezat. Saya pernah membaca bahwa Izakaya merupakan tempat makan para karyawan kantor. Tak heran jika di bagian dalam restoran sangat ramai dan berisik.  Karena di dalam sudah penuh maka kami dipersilakan duduk di meja paling depan dekat si koki. Saya bisa melihat dengan jelas betapa cekatannya si koki membuat takoyaki. Si kakak bahkan memesan satu porsi takoyaki untuk dibawa pulang ke hotel. 

Awal yang menyenangkan di Osaka. Disambut oleh taman yang rindang dan indah serta makanan yang lezat. It's perfect!! I love Osaka.

Tuesday, July 11, 2017

Liburan Jepang Hari Ketujuh: Matsusaka Castle Ruins dan Nara Park

Dari Nagoya, perjalanan berlanjut ke Matsusaka untuk berjumpa dan makan malam dengan para mantan Manager di perusahaan dulu. Saya sangat bahagia bisa berjumpa dengan mereka dan bernostalgia ke masa kerja dulu. Di Matsusaka kami menginap di Hotel Ace Inn Matsusaka. Resepsionisnya ramah dan fasilitasnya lumayan lengkap meski kamarnya kecil sekali (buat naruh koper aja susah hahaha). Ada coin laundry juga yang sukses membuat saya begadang hingga jam 2 pagi πŸ˜…πŸ˜….
Dinner in matsusaka
Makan malam bersama para Manager di restoran Yajirobe Matsusaka
Pukul 10 pagi kami sudah check out dan dijemput oleh Kanetani san untuk jalan-jalan di Matsusaka Castle Ruins. Walau mata masih ngantuk tapi saya tetap semangat jalan-jalan hari ini karena bersama Kanetani san. Beliau adalah motivasi terbesar saya mengunjungi Jepang. Panjang lebar jika saya harus menceritakan tentang beliau di blog ini, jadi intinya "He means everything to me" lah pokoknya hahaha.

Oke lanjut, setelah menunggu beberapa menit di lobby Hotel, saya pun berjalan keluar dan berselfie ria di depan Hotel. Beberapa orang kakek yang lalu lalang di depan Hotel memandang saya dengan tatapan aneh hahahha... maklumlah kek beginilah tingkah orang Indonesia kalo sudah masuk urusan selfie hahhaa... Tak lama kemudian Kanetani san pun datang dan ikut senyam senyum melihat saya hehehe. Setelah meletakan bagasi di mobil, kami pun meluncur ke Matsusaka Castle Ruins. Kata Kanetani san kastil ini sudah tinggal reruntuhannya saja akibat kebakaran. Tapi masih ada rumah Samurai dan asrama prajurit samurainya. Ternyata samurai punya prajurit juga hehehe.
Matsusaka Castle ruins hanami 2017
Matsusaka Castle Ruins

Samurai House
Inilah rumah Samurainya

Begitu memasuki gerbang kastil mata saya terkagum-kagum dengan deretan pohon sakura yang menawan. waaah saya memang beruntung masih bertemu sakura sebanyak ini padahal sudah tanggal 13 April. Saat angin bertiup kencang, kelopak bunga sakura berguguran dan itu sangat indah. Saya pun  kalap dan mulai jepret sana jepret sini. Kanetani san mengajak Alban naik ke atas kastil sedangkan saya dan si kakak sibuk berselfie ria di halaman kastil.
Hanami Matsusaka 2017
Pada sibuk sendiri hehee
sakura in matsusaka hanami 2017
Cantik kan sakuranya?
Setelah puas foto-foto di halaman kastil, kami pun turun mengunjungi rumah seorang Samurai di bagian samping dan asrama para prajurit samurai tersebut yang sebagian masih di tempati oleh anak cucu mereka. Kami sempat mengunjungi salah satu rumah di asrama tersebut dan mereka menyambut kami dengan ramah. Rumahnya masih bergaya tradisional Jepang bahkan sampai peralatan dapurnya. Sayangnya saya tidak sempat memotret suasana di dalam rumah.

Selesai berkeliling, saya meminta ijin kepada Kanetani san untuk mampir ke rumah beliau dan beliau pun dengan senang hati mengajak kami ke rumahnya. Letaknya tidak begitu jauh dari kastil dan kami melewati lahan pertanian yang begitu luas. Saya sangat kagum melihatnya. Tidak ada siapa-siapa di rumah karena ibu sedang check up di Osaka. Jadi kami hanya beristirahat dan mengobrol sejenak.

Sebelum berangkat ke Nara, kami mampir makan siang di KFC sekalian nyobain KFC ala Jepang dan ternyata sama saja rasanya hahhaha. Karena sudah siang, kami pun bergegas ke Nara. Dengan mobil Kanetani san, kami melewati jalan tol menuju Nara. Mobil Kanetani san tidak berhenti dan terdengar bunyi beep saat melewati gerbang tol, canggih bener memang Jepang sudah pakai sensor semua, keren.Sepanjang perjalanan si kakak yang di kursi depan sudah pulas, sedangkan saya berusaha untuk tidak tidur dan sesekali mengobrol dengan Kanetani san. 

Setelah hampir 2 jam perjalanan dari Matsusaka, kami pun tiba di Nara. Tidak sulit mencari Oak Hostel Nara karena letaknya yang tak jauh dari Stasiun Kintetsu Nara. Setelah check in, kami pun berjalan kaki ke Stasiun Kintetsu untuk mengecek jadwal keberangkatan esok hari ke osaka. Kanetani san mengajari saya membaca rute dan jadwal kereta bahkan mengajari saya cara membeli tiket ke Osaka untuk rute transit. Di depan stasiun, ada acara promosi yang menampilkan maskot kota Nara yaitu boneka Rusa sehingga si Alban girang banget di ajak foto sama boneka rusa. Kami juga dikasih tisu wajah dan tisu basah sebagai promosi hehehe alhamdulillah😊.
Nara kintetsu stasiun
Si Alban girang lihat maskotnya
Setelah itu kami berjalan kaki ke Nara park dan Kofuku-ji yang ternyata sangat dekat dengan Stasiun Kintetsu. Maklumlah, karena sebelumnya tidak berencana ke Nara, saya jadi tidak tahu destinasi wisata di Nara secara lengkap.
Akrabnyaaa...
Di Nara Park banyak rusa-rusa jinak, saya tadinya agak takut mendekat tapi lama-lama asik juga main sama mereka. Kata Kanetani san tanduk rusanya baru dipotong tahun ini karena pada tahun kemarin masih banyak rusa yang bertanduk. Karena takut membahayakan wisatawan yang semakin banyak berdatangan, akhirnya tanduk-tanduk mereka dipotong. Kanetani san membeli beberapa bungkus makanan rusa yang di jual di sepanjang jalan menuju taman. Pohon sakura disini tidak terlalu banyak, ada yang sudah mulai rontok dan keluar daun mudanya. 
nara park
Taman sakura dekat Kofuku-ji

nara deer
Nara Park

Nara deer
si Alban girang ketemu rusa

Makan yang banyak ya, rusa...

Setelah puas bermain dengan rusa, kami pun berjalan menuju Kofuku-ji Temple disebelah Nara Park. Area kuil ini dipenuhi rombongan anak SMP yang sedang tour. Saya tertarik untuk memotret Five Storied Pagoda di Kofuku-ji Temple ini, cantik sekali. Si Alban sibuk sama kakeknya sedangkan kakak Shinji sibuk berfoto sama bule yang pakai pakaian tradisional Jepang dan segerombolan anak SMP yang super heboh hahhaha. Saya pikir anak-anak sekolah di Jepang itu kalem-kalem ternyata sama saja dengan kita, pecicilan juga hahha. Mereka main kejar-kejaran di halaman kuil sambil tertawa cekikikan. 
kofuku-ji temple
Kofuku-ji Five Storied Pagoda

Kakak Shnji ketemu bule pakai kimono hehehe

Kofuku-ji student tour
Beginilah kalau ABG ketemu genknya hahaaha
Tak jauh dari area kuil, terdapat  Sarusawa-ike (Sarusawa Pond) sebuah kolam yang cantik. Kami duduk santai sejenak menikmati tenangnya air kolam. Karena hari mulai senja, kami pun kembali ke arah Stasiun Kintetsu menyusuri  Sanjo-dori. Ada banyak toko oleh-oleh dan tempat makan di sepanjang Sanjo-dori. Saya sempat mampir membeli patung rusa kecil (saya lupa harganya heheh). Kami lalu berbelok ke Higashimuki Shopping Street yang dipenuhi drugstore, supermarket dan restoran. Bingung juga memilih tempat makan karena banyak yang mengantri. Akhirnya ketemu juga tempat makan yang sesuai selera bersama.
sarusawa ike in nara
Sarusawa-Ike

Toko oleh-oleh di sepanjang Sanjo-dori

higashimuki shopping street nara
Higashimuki Shopping
Setelah mengantar kami kembali ke hostel, Kanetani san pun kembali ke Matsusaka. Kami pun memutuskan untuk kembali ke Higashimuki setelah mandi dan beristirahat sejenak di Hostel. Saat kami kembali ternyata banyak toko yang sudah mulai tutup. Saya keluar masuk drugstore untuk mencari popok Alban. Tapi dari semua drugstore hanya satu toko yang menjual popok berbagai merek. Dan kebetulan ada merek popok yang di pakai si Alban namun hanya tersedia dalam kemasan besar. Tidak ada kemasan ekonomis yang isi 8pcs atau 20pcs. Akhirnya dengan perasaan cemas saya masuk ke Lawson, tidak ada juga ternyata. Makin depresi saya karena tidak memperhatikan hal sepele seperti ini.  Akhirnya ketemu di Seven Eleven dekat gang menuju hostel, lega rasanya. Ketemu yang kemasan ekonomis dan saya pun membeli secukupnya lalu kembali ke hostel.

Oak Hostel Nara sangat nyaman kamarnya luas dan fasilitasnya lengkap. Bersih sekali, namun saya tidak begitu suka bau toiletnya. Tapi tak masalah karena yang penting kami bisa beristirahat dengan tenang. Keesokan harinya kami sempatkan sarapan di hostel sebelum check out. Kami hanya membayar untuk rotinya saja, sedangkan kopi atau tehnya tersedia gratis. Air minum dingin dan panas juga tersedia dengan gratis. Setelah Sarapan, kami pun bersiap menuju osaka.


Tuesday, June 6, 2017

Liburan Jepang Hari Keenam: Nagoya Castle

Pagi ini, saya harus segera ke Nagoya untuk bertemu dengan "Otousan" (Kanetani san). Saya janji akan bertemu dengan beliau pada pukul 10 pagi di stasiun Nagoya di meeting point "kin no tokei". Namun ternyata saya sudah melewatkan  jadwal kereta reguler dan saya sudah pasti akan terlambat tiba di Nagoya. Saya pun mencari alternatif kereta lainnya dan alhasil saya harus naik kereta Shinkansen Kodama pada pukul 09:45 dan tiba di Nagoya pukul 10:15. Wah telat 15 menit nih nanti, jadi makin nggak enak sama Otousan deh.

Saat membeli tiket Shinkansen, petugas bertanya dalam bahasa Jepang apakah saya ingin membeli tiket rountrip? karena sedang galau dan nggak fokus, saya iyain saja hahaha. Ketika tiketnya sudah di print saya baru sadar dan merasa aneh koq tiketnya ada 4 ya? setelah petugas menjelaskan tentang tiket pulang pergi, saya baru ngeh kalau saya sudah salah kasih info hahhaha. Dengan perasaan bersalah campur malu, saya lalu meminta maaf dan menjelaskan bahwa saya bermaksud beli tiket ke Nagoya saja. Petugas pun mengerti lalu membatalkan semua tiket saya tadi dan mencetak tiket yang baru😁. Maafkan saya ya pak!

Di stasiun Toyohashi ini terdapat jalur tanjakan untuk yang membawa koper sehingga kami tidak perlu menaiki tangga. Jepang memang perhatian sekali dengan faktor kenyamanan. Di jalur shinkansen saya bertanya kepada dua orang ibu-ibu tentang jalur di tiket kami apakah sudah sesuai, dan ternyata sudah benar. Saya sempat mengambil video dan foto sebuah kereta shinkansen di jalur sebelah. Tak lama keretanya pun tiba, kami bergegas naik. Akhirnya bisa ngerasain naik shinkansen walau cuma sebentar karena waktu tempuh dari Toyohashi ke Nagoya hanya 30 menit.

Shinkansen Kodama
Kereta Shinkansen di stasiun Toyohashi

Shinkansen Kodama
Si kakak sudah pindah ke kursi depan karena kosong
Tepat 30 menit kemudian kami sudah tiba di Nagoya. Rupanya Otousan sudah menunggu di pintu keluar shinkansen. Sebelumnya saya sudah memberitahu bahwa kami akan terlambat 15 menit karena kami naik shinkansen. Senang banget bisa bertemu lagi dengan beliau setelah 12 tahun tidak bertemu. Beliau tersenyum menyambut kami. Otousan langsung mencari loker koin untuk menyimpan koper-koper kami. Agak jauh juga tempatnya. Setelah ketemu, loker ini ternyata tipe yang pakai kunci untuk membukanya. Otousan mengatur koper dan tas agar bisa muat semua. Biaya untuk loker ukuran besar adalah 700 yen, ukuran sedang 500 yen dan ukuran kecil 300 yen.

Kami pun meninggalkan stasiun menuju ke Kastil Nagoya. Kastil Nagoya tidak terlalu jauh dari stasiun, hanya 15 menit naik taksi. Sebenarnya ke Nagoya merupakan rencana cadangan setelah berdiskusi dengan Otousan sebelumnya. Karena saya membatalkan rencana ke Kyoto, akhirnya saya pilih Nagoya sebagai gantinya. Tiba di Kastil Nagoya, kami sempatkan berfoto bersama sebelum masuk ke kastil.
Entering Nagoya Castle
Foto bareng Otousan sebelum masuk Kastil Nagoya
Sebelum masuk ke kastil, kita harus membeli tiket seharga 500 yen per orang. Rimbunnya deretan pohon sakura menyambut kami saat melewati Nishinomaru Gate yaitu pintu masuk utama Kastil Nagoya. Saya pun jadi kalap untuk foto-foto hehehe. Otousan juga sibuk mengambil foto. Cuaca hari itu sangat cerah sehingga pas sekali hari itu saya pakai jaket fleece yang tidak begitu tebal. Terkadang saya keringatan sehingga harus buka jaket. Meski begitu saat angin bertiup, suhu menjadi dingin kembali.
Nishinomaru gate nagoya castle
Nishinomaru Gate

hanami April 2017 Japan
Deretan pohon sakura yang membuat saya kalap foto-foto hehehe
Hanami April 2017 Nagoya castle
Shinji chan dan Hyuga kun
Cantiknya bunga sakura di Kastil Nagoya
Puas foto-foto di Nishinomaru area, kami pun menuju ke halaman bagian dalam kastil melewati Omote-Ninomon (Second Front Gate) atau dulunya disebut Minami Ninomon (Second South gate). Setelah melewati pintu ini, kita akan langsung melihat Honmaru Palace yaitu kediaman utama penguasa Owari. Istana aslinya telah hancur akibat bom saat perang dunia kedua dan saat ini sedang direnovasi. Otousan mengajak kami untuk masuk ke dalamnya. Sebelum masuk ke dalam istana ini, semua tas dan sepatu harus disimpan di locker yang telah disediakan. Bagian dalam Istana ini sangat indah. Saya sempat memotret beberapa bagian istana ini. Oiya, tidak diperkenankan menggunakan lampu flash saat memotret.
Honmaru Palace
Beberapa foto di bagian dalam Honmaru Palace
Keluar dari Honmaru Palace, kami menuju bangunan utama yaitu Kastil Nagoya. Kastilnya sangat megah dan indah. Kami langsung memasuki bagian dalam kastil. Otousan mengajak kami menuju lantai paling atas dari kastil ini. Pemandangannya benar-benar indah, taman sakura dan kota Nagoya terlihat menakjubkan dari atas sini. Selain dimanjakan oleh pemandangan indah, di atas sini juga tersedia berbagai macam oleh-oleh khas Nagoya yang bisa di bawa pulang. Saya membeli gantungan kunci boneka jepang seharga 450 yen, gantungan kunci katana 400 yen dan sapu tangan 540 yen.
Nagoya city
Pemandangan kota Nagoya dari atas kastil

Sangat indah, bukan?
Jika saat naik tadi kami naik lift, maka saat turun, saya pengen nyobain tangga kayunya. Turun satu lantai, kami menuju area museum. Ada miniatur Kastil, ada Kinshachi (ikan emas) yang merupakan ikon Nagoya, ada kostum Samurai, ada patung pekerja sedang membangun kastil dan beberapa lukisan.

Miniatur Kastil Nagoya

Patung Pekerja
Nagoya Castle
Kinshachi

Kostum Samurai
Setelah melihat-lihat isi museum kami pun beristirahat sejenak di halaman kastil di bawah rindangnya pohon sakura sambil menikmati es krim matcha. Dari sinilah si kakak jadi ketagihan sama es krim matcha. Di area ini juga tersedia toilet dan tempat duduk untuk makan Saya sangat menikmati keindahan kastil ini. Sebenarnya ada beberapa area taman lagi yang belum kami kunjungi, tapi saya sudah lelah dan lapar. Kami pun kembali ke stasiun untuk makan siang, lalu menuju Matsusaka.
Nagoya Castle
Ice Cream Matcha si Kakak

Nagoya
Nagoya Castle
Nagoya Castle Park
Selesai sudah petualangan di Kastil Nagoya. Saya sangat merekomendasikan tempat ini bagi teman-teman yang akan berkunjung ke Jepang di musim semi. Jangan lupa beri komentar untuk artikel ini ya...

Monday, May 22, 2017

Liburan Hari Kelima: Toyohashi dan Higashi Okazaki

Pukul 5 pagi, bus Willer yang kami naiki tiba di stasiun Toyohashi. Saat turun dari bus, rupanya pak supir sudah menunggu di luar dan memberi hormat kepada kami sambil menunduk beliau berterima kasih dan mengucapkan salam perpisahan. Saya pun balas menunduk dan mengucapkan terima kasih. Betapa ramah dan sopannya orang Jepang, sangat menghargai orang lain. Dan ternyata penumpang yang turun di Toyohashi hanya kami bertiga πŸ˜‚. 

Hari masih gelap dan hujan turun deras, udara jadi sangat dingin. Saya dan si kakak saling bertatapan dan ketawa ngakak karena nggak nyangka akan menggigil kedinginan seperti ini hahahah. Kami bergegas masuk ke stasiun kereta agar tidak kebasahan sekalian mencari petugas untuk bertanya.

Karena masih jam 5 pagi, suasana dalam stasiun sangat sepi. Horor juga sih, kebayang seandainya dari ujung lorong muncul sadako 😨. Kebetulan ada seorang bapak sepertinya petugas kebersihan, saya pun bertanya dimana letak Toyotetsu Terminal Hotel. Beliau pun tampak bingung, beliau menyarankan kepada saya untuk menuju ke sebuah pintu keluar yang terdapat pos polisi di sisi lain stasiun. Kami mampir di toilet sebentar untuk membasuh muka, aje gile baru sadar klo tampang kami benar-benar lusuh karena baru bangun tidur hahhaha.

Saat menuju pintu keluar kami bertemu lagi dengan seorang wanita petugas kebersihan, beliau mengetahui letak hotel lalu memberi kami petunjuk jalannya. Syukurlah ternyata tidak jauh dari stasiun, di dekat Family Mart. Lucunya lagi justru pelayan toko di Family Mart sendiri tidak tahu letak hotel tersebut, padahal hanya berjarak sekitar 20 meter disamping Family Mart hahaha.

Setelah ketemu gedung hotelnya, ternyata resepsionis berada di lantai 6. Saya melapor kepada resepsionis hotel bahwa saya akan check-in siang ini di hotel tersebut, namun karena belum tiba waktu check-in maka saya akan kembali lagi siang nanti. Saya juga memberitahu bahwa koper saya baru akan tiba sekitar jam 12 siang, sehingga saya meminta mereka untuk menyimpan koper saya hingga saya kembali nanti. Saya pun memperlihatkan bukti pengiriman dari Kuroneko Yamato. Pak resepsionis mengerti dan mereka bersedia menyimpan koper saya sampai saya kembali ke hotel.

Saya menghubungi teman saya Roger, mengatakan bahwa kami sudah tiba di hotel. Roger mengatakan bahwa dia pulang kerja lebih awal jadi dia akan menjemput kami lebih cepat yaitu pukul 7:30 pagi di depan Starbucks tak jauh dari hotel. Sudah pukul 6 pagi saat itu, saya pun meminta izin kepada resepsionis untuk menunggu di lobby sebentar dan beliau pun mempersilakan. Si kakak sudah tertidur di kursi lobby sambil mendekap adiknya. Saya mengambil beberapa foto stasiun dari jendela hotel. Hujan masih turun saat itu.
Suasana sekitar stasiun Toyohashi dari jendela lobby hotel
Pukul 7:20 saya memutuskan untuk turun menuju Starbucks dan menunggu Roger di sana. Keluar dari gedung hotel, angin kencang dan udara dingin langsung menerpa kami. Wow dingin sekali anginnya bbrrrr. Para pekerja lalu lalang sambil memandang kami, beberapa dari mereka ada yang sibuk rebutan payung sama angin karena payungnya hampir diterbangkan angin hahhaha... 13 menit kemudian Roger pun datang dan kami naik ke mobilnya. Saya masih tak percaya akhirnya bisa bertemu muka dengannya setelah sekian tahun kami berteman di dunia maya.

Roger mengajak kami sarapan di sebuah restoran keluarga bernama Gusto. Kami ngobrol banyak disitu, si dede yang masih belum familiar dengan Roger pada awalnya akhirnya bisa akrab juga. Setelah sarapan, kami menuju ke taman dekat stasiun kereta untuk melihat sakura. Namun sayangnya begitu tiba di taman, hujan masih cukup deras. Akhirnya kami pergi berbelanja ke supermarket saja.
Hujan deras di Taman Toyohashi
Hujan masih deras saat kami menuju supermarket

Tiba di supermarket si kakak semangat 45 mencari vitamin rambut, karena vitamin rambut yang dia bawa ditahan petugas bea cukai di Bandara Soekarno Hatta. Ternyata tidak ada merk yang biasa ada di Indonesia. Akhirnya si kakak beli yang merk Jepang saja. Swalayan di Apita juga tersedia bermacam-macam bento dan onigiri. Di lantai atas ada toko pakaian dan toko buku. Saya pun membeli jaket buat si dede seharga 5292 yen dengan diskon 60% karena sudah lewat musim dingin sehingga harganya menjadi 2116 yen. Saya juga beli syal buat kami masing-masing seharga 1080 yen.

Selesai belanja, Roger pun mengantar kami kembali ke hotel. Saya berterima kasih kepadanya karena sudah meluangkan waktu untuk mengantar kami jalan-jalan di tengah kesibukannya. Roger pun tersenyum dan menyuruh kami bergegas masuk hotel karena hujan semakin deras. Tiba di lobby hotel, saya diberitahu oleh resepsionis bahwa koper saya sudah tiba dan boleh diambil. Saya mencoba menanyakan bisakah kami check-in lebih awal karena saat itu sudah jam 11:30. Dan ternyata boleh, saya lega sekali rasanya karena jarang ada hotel yang memperbolehkan early check-in di Jepang.

Hotel ini saya pesan melalui situs booking.com. Fasilitas di hotel ini cukup lengkap, ada TV, kulkas, kursi, private bathroom, toiletries, meja rias, hair dryer, electric kettle dan teh, tapi tidak tersedia air mineral jadi saya harus membeli di vending machine seharga 110 yen per botol ukuran sedang. Harga kamar yang saya dapat saat itu adalah 8086 yen per malam untuk kamar double room. Saya dan si kakak tidak sempat tidur, kami hanya mandi dan berdandan karena harus bergegas ke Higashi Okazaki untuk bertemu Bibi Mariko (kenalan si kakak).

Sekitar jam 1 siang kami meninggalkan hotel dan menuju stasiun Toyohashi. Hujan sudah reda tapi angin masih bertiup kencang, untungnya saya sudah beli syal jadi tidak kedinginan. Kami naik kereta Meitetsu line seharga 550 yen per orang ke stasiun Higashi Okazaki, perjalanan sekitar setengah jam. Tiba di stasiun Higashi Okazaki, kami sudah disambut oleh bibi Mariko. Si kakak dengan girangnya berlari memeluk bibi Mariko. Bibi Mariko lalu menyuruh kami memakai jaket tebal yang sudah dia persiapkan karena cuaca di luar sangat dingin. Benar saja, sedang turun hujan meski tidak deras tapi suhunya dingin banget.

Bibi pun mengajak kami ke toko oleh-oleh yaitu Daiso. Daiso disini memang cukup besar seperti yang dikatakan oleh bibi Mariko. Hampir semua produk harganya 108 yen sudah termasuk pajak, kecuali beberapa produk yang harganya 300 yen. Saya sampai bingung mau beli apa hahaha... akhirnya beli kaos kaki, gantungan kunci berbentuk aneka sushi, nori, serta mainan buat si dede. Lagi-lagi pulpen shinkansen tidak saya temukan disini. susah bener ya nyari si pulpen ini. Si kakak yang paling kalap belanja oleh-olehnya, total belanjaannya sampai hampir 3000 yen😱. Saya dikasih oleh-oleh sup miso dan abon dari Bibi Mariko hehhe.

Nggak cukup cuma di Daiso, bibi Mariko pun mengajak kami ke tempat oleh-oleh lainnya yaitu 100 yen (Hyaku-en) shop dan Book Off Bazaar di Seiyu Department Store. Jaraknya tidak jauh dari Daiso, kami berjalan kaki meski hujan rintik-rintik. Di Perjalanan menuju Seiyu ketemu lagi dengan sakura. 

Si kakak dengan tas belanjaannya hahaha

Sempat-sempatnya foto sama sakura
selfie dulu sama sakura meski muka kusut hehee
Di Seiyu kami mampir di McD untuk makan siang, sayangnya bibi Mariko tidak bersedia ditraktir karena beliau sudah makan siang sebelumnya. Di Hyaku-en Shop saya membeli beberapa oleh-oleh juga. Selesai belanja, saya sempatkan berfoto dengan beliau. Hari semakin sore dan hujan semakin deras. Bibi Mariko mengantar kami ke stasiun JR Okazaki. Setelah membeli tiket kereta, saya memeluk erat beliau. Sedih rasanya berpisah dengan beliau meski baru kenal. Bibi Mariko berjanji akan datang ke Bali 1 setengah tahun lagi. Saatnya untuk pergi, kami saling melambaikan tangan. Sampai jumpa lagi Bibi, senang sekali bisa bertemu anda...

Kami kembali ke Toyohashi untuk beristirahat. Bersiap untuk petualangan esok hari menaklukkan kastil Nagoya πŸ˜„.