Tuesday, June 6, 2017

Liburan Hari Keenam: Nagoya

Pagi ini, saya harus segera ke Nagoya untuk bertemu dengan "Otousan" (Kanetani san). Saya janji akan bertemu dengan beliau pada pukul 10 pagi di stasiun Nagoya di meeting point "kin no tokei". Namun ternyata saya sudah melewatkan  jadwal kereta reguler dan saya sudah pasti akan terlambat tiba di Nagoya. Saya pun mencari alternatif kereta lainnya dan alhasil saya harus naik kereta Shinkansen Kodama pada pukul 09:45 dan tiba di Nagoya pukul 10:15. Wah telat 15 menit nih nanti, jadi makin nggak enak sama Otousan deh.

Saat membeli tiket Shinkansen, petugas bertanya dalam bahasa Jepang apakah saya ingin membeli tiket rountrip? karena sedang galau dan nggak fokus, saya iyain saja hahaha. Ketika tiketnya sudah di print saya baru sadar dan merasa aneh koq tiketnya ada 4 ya? setelah petugas menjelaskan tentang tiket pulang pergi, saya baru ngeh kalau saya sudah salah kasih info hahhaha. Dengan perasaan bersalah campur malu, saya lalu meminta maaf dan menjelaskan bahwa saya bermaksud beli tiket ke Nagoya saja. Petugas pun mengerti lalu membatalkan semua tiket saya tadi dan mencetak tiket yang baru๐Ÿ˜. Maafkan saya ya pak!

Di stasiun Toyohashi ini terdapat jalur tanjakan untuk yang membawa koper sehingga kami tidak perlu menaiki tangga. Jepang memang perhatian sekali dengan faktor kenyamanan. Di jalur shinkansen saya bertanya kepada dua orang ibu-ibu tentang jalur di tiket kami apakah sudah sesuai, dan ternyata sudah benar. Saya sempat mengambil video dan foto sebuah kereta shinkansen di jalur sebelah. Tak lama keretanya pun tiba, kami bergegas naik. Akhirnya bisa ngerasain naik shinkansen walau cuma sebentar karena waktu tempuh dari Toyohashi ke Nagoya hanya 30 menit.

Kereta Shinkansen di stasiun Toyohashi

Si kakak sudah pindah ke kursi depan karena kosong
Tepat 30 menit kemudian kami sudah tiba di Nagoya. Rupanya Otousan sudah menunggu di pintu keluar shinkansen. Sebelumnya saya sudah memberitahu bahwa kami akan terlambat 15 menit karena kami naik shinkansen. Senang banget bisa bertemu lagi dengan beliau setelah 12 tahun tidak bertemu. Beliau tersenyum menyambut kami. Otousan langsung mencari loker koin untuk menyimpan koper-koper kami. Agak jauh juga tempatnya. Setelah ketemu, loker ini ternyata tipe yang pakai kunci untuk membukanya. Otousan mengatur koper dan tas agar bisa muat semua. Biaya untuk loker ukuran besar adalah 700 yen, ukuran sedang 500 yen dan ukuran kecil 300 yen.

Kami pun meninggalkan stasiun menuju ke Kastil Nagoya. Kastil Nagoya tidak terlalu jauh dari stasiun, hanya 15 menit naik taksi. Sebenarnya ke Nagoya merupakan rencana cadangan setelah berdiskusi dengan Otousan sebelumnya. Karena saya membatalkan rencana ke Kyoto, akhirnya saya pilih Nagoya sebagai gantinya. Tiba di Kastil Nagoya, kami sempatkan berfoto bersama sebelum masuk ke kastil.
Foto bareng Otousan sebelum masuk Kastil Nagoya
Sebelum masuk ke kastil, kita harus membeli tiket seharga 500 yen per orang. Rimbunnya deretan pohon sakura menyambut kami saat melewati Nishinomaru Gate yaitu pintu masuk utama Kastil Nagoya. Saya pun jadi kalap untuk foto-foto hehehe. Otousan juga sibuk mengambil foto. Cuaca hari itu sangat cerah sehingga pas sekali hari itu saya pakai jaket fleece yang tidak begitu tebal. Terkadang saya keringatan sehingga harus buka jaket. Meski begitu saat angin bertiup, suhu menjadi dingin kembali.
Selfie di depan Gerbang Nishinomaru

Deretan pohon sakura yang membuat saya kalap foto-foto hehehe
Shinji chan dan Hyuga kun
Cantiknya bunga sakura di Kastil Nagoya
Puas foto-foto di Nishinomaru area, kami pun menuju ke halaman bagian dalam kastil melewati Omote-Ninomon (Second Front Gate) atau dulunya disebut Minami Ninomon (Second South gate). Setelah melewati pintu ini, kita akan langsung melihat Honmaru Palace yaitu kediaman utama penguasa Owari. Istana aslinya telah hancur akibat bom saat perang dunia kedua dan saat ini sedang direnovasi. Otousan mengajak kami untuk masuk ke dalamnya. Sebelum masuk ke dalam istana ini, semua tas dan sepatu harus disimpan di locker yang telah disediakan. Bagian dalam Istana ini sangat indah. Saya sempat memotret beberapa bagian istana ini. Oiya, tidak diperkenankan menggunakan lampu flash saat memotret.
Beberapa foto di bagian dalam Honmaru Palace
Keluar dari Honmaru Palace, kami menuju bangunan utama yaitu Kastil Nagoya. Kastilnya sangat megah dan indah. Kami langsung memasuki bagian dalam kastil. Otousan mengajak kami menuju lantai paling atas dari kastil ini. Pemandangannya benar-benar indah, taman sakura dan kota Nagoya terlihat menakjubkan dari atas sini. Selain dimanjakan oleh pemandangan indah, di atas sini juga tersedia berbagai macam oleh-oleh khas Nagoya yang bisa di bawa pulang. Saya membeli gantungan kunci boneka jepang seharga 450 yen, gantungan kunci katana 400 yen dan sapu tangan 540 yen.
Pemandangan kota Nagoya dari atas kastil

Sangat indah, bukan?
Jika saat naik tadi kami naik lift, maka saat turun, saya pengen nyobain tangga kayunya. Turun satu lantai, kami menuju area museum. Ada miniatur Kastil, ada Kinshachi (ikan emas) yang merupakan ikon Nagoya, ada kostum Samurai, ada patung pekerja sedang membangun kastil dan beberapa lukisan.

Miniatur Kastil Nagoya

Patung Pekerja
Kinshachi

Kostum Samurai
Setelah melihat-lihat isi museum kami pun beristirahat sejenak di halaman kastil di bawah rindangnya pohon sakura sambil menikmati es krim matcha. Dari sinilah si kakak jadi ketagihan sama es krim matcha. Di area ini juga tersedia toilet dan tempat duduk untuk makan Saya sangat menikmati keindahan kastil ini. Sebenarnya ada beberapa area taman lagi yang belum kami kunjungi, tapi saya sudah lelah dan lapar. Kami pun kembali ke stasiun untuk makan siang, lalu menuju Matsusaka.
Nagoya Castle

Berfoto di halaman kastil

Selesai sudah petualangan di Kastil Nagoya. Saya sangat merekomendasikan tempat ini bagi teman-teman yang akan berkunjung ke Jepang di musim semi. Jangan lupa beri komentar untuk artikel ini ya...

Monday, May 22, 2017

Liburan Hari Kelima: Toyohashi dan Higashi Okazaki

Pukul 5 pagi, bus Willer yang kami naiki tiba di stasiun Toyohashi. Saat turun dari bus, rupanya pak supir sudah menunggu di luar dan memberi hormat kepada kami sambil menunduk beliau berterima kasih dan mengucapkan salam perpisahan. Saya pun balas menunduk dan mengucapkan terima kasih. Betapa ramah dan sopannya orang Jepang, sangat menghargai orang lain. Dan ternyata penumpang yang turun di Toyohashi hanya kami bertiga ๐Ÿ˜‚. 

Hari masih gelap dan hujan turun deras, udara jadi sangat dingin. Saya dan si kakak saling bertatapan dan ketawa ngakak karena nggak nyangka akan menggigil kedinginan seperti ini hahahah. Kami bergegas masuk ke stasiun kereta agar tidak kebasahan sekalian mencari petugas untuk bertanya.

Karena masih jam 5 pagi, suasana dalam stasiun sangat sepi. Horor juga sih, kebayang seandainya dari ujung lorong muncul sadako ๐Ÿ˜จ. Kebetulan ada seorang bapak sepertinya petugas kebersihan, saya pun bertanya dimana letak Toyotetsu Terminal Hotel. Beliau pun tampak bingung, beliau menyarankan kepada saya untuk menuju ke sebuah pintu keluar yang terdapat pos polisi di sisi lain stasiun. Kami mampir di toilet sebentar untuk membasuh muka, aje gile baru sadar klo tampang kami benar-benar lusuh karena baru bangun tidur hahhaha.

Saat menuju pintu keluar kami bertemu lagi dengan seorang wanita petugas kebersihan, beliau mengetahui letak hotel lalu memberi kami petunjuk jalannya. Syukurlah ternyata tidak jauh dari stasiun, di dekat Family Mart. Lucunya lagi justru pelayan toko di Family Mart sendiri tidak tahu letak hotel tersebut, padahal hanya berjarak sekitar 20 meter disamping Family Mart hahaha.

Setelah ketemu gedung hotelnya, ternyata resepsionis berada di lantai 6. Saya melapor kepada resepsionis hotel bahwa saya akan check-in siang ini di hotel tersebut, namun karena belum tiba waktu check-in maka saya akan kembali lagi siang nanti. Saya juga memberitahu bahwa koper saya baru akan tiba sekitar jam 12 siang, sehingga saya meminta mereka untuk menyimpan koper saya hingga saya kembali nanti. Saya pun memperlihatkan bukti pengiriman dari Kuroneko Yamato. Pak resepsionis mengerti dan mereka bersedia menyimpan koper saya sampai saya kembali ke hotel.

Saya menghubungi teman saya Roger, mengatakan bahwa kami sudah tiba di hotel. Roger mengatakan bahwa dia pulang kerja lebih awal jadi dia akan menjemput kami lebih cepat yaitu pukul 7:30 pagi di depan Starbucks tak jauh dari hotel. Sudah pukul 6 pagi saat itu, saya pun meminta izin kepada resepsionis untuk menunggu di lobby sebentar dan beliau pun mempersilakan. Si kakak sudah tertidur di kursi lobby sambil mendekap adiknya. Saya mengambil beberapa foto stasiun dari jendela hotel. Hujan masih turun saat itu.
Suasana sekitar stasiun Toyohashi dari jendela lobby hotel
Pukul 7:20 saya memutuskan untuk turun menuju Starbucks dan menunggu Roger di sana. Keluar dari gedung hotel, angin kencang dan udara dingin langsung menerpa kami. Wow dingin sekali anginnya bbrrrr. Para pekerja lalu lalang sambil memandang kami, beberapa dari mereka ada yang sibuk rebutan payung sama angin karena payungnya hampir diterbangkan angin hahhaha... 13 menit kemudian Roger pun datang dan kami naik ke mobilnya. Saya masih tak percaya akhirnya bisa bertemu muka dengannya setelah sekian tahun kami berteman di dunia maya.

Roger mengajak kami sarapan di sebuah restoran keluarga bernama Gusto. Kami ngobrol banyak disitu, si dede yang masih belum familiar dengan Roger pada awalnya akhirnya bisa akrab juga. Setelah sarapan, kami menuju ke taman dekat stasiun kereta untuk melihat sakura. Namun sayangnya begitu tiba di taman, hujan masih cukup deras. Akhirnya kami pergi berbelanja ke supermarket saja.
Hujan deras di Taman Toyohashi
Hujan masih deras saat kami menuju supermarket

Tiba di supermarket si kakak semangat 45 mencari vitamin rambut, karena vitamin rambut yang dia bawa ditahan petugas bea cukai di Bandara Soekarno Hatta. Ternyata tidak ada merk yang biasa ada di Indonesia. Akhirnya si kakak beli yang merk Jepang saja. Swalayan di Apita juga tersedia bermacam-macam bento dan onigiri. Di lantai atas ada toko pakaian dan toko buku. Saya pun membeli jaket buat si dede seharga 5292 yen dengan diskon 60% karena sudah lewat musim dingin sehingga harganya menjadi 2116 yen. Saya juga beli syal buat kami masing-masing seharga 1080 yen.

Selesai belanja, Roger pun mengantar kami kembali ke hotel. Saya berterima kasih kepadanya karena sudah meluangkan waktu untuk mengantar kami jalan-jalan di tengah kesibukannya. Roger pun tersenyum dan menyuruh kami bergegas masuk hotel karena hujan semakin deras. Tiba di lobby hotel, saya diberitahu oleh resepsionis bahwa koper saya sudah tiba dan boleh diambil. Saya mencoba menanyakan bisakah kami check-in lebih awal karena saat itu sudah jam 11:30. Dan ternyata boleh, saya lega sekali rasanya karena jarang ada hotel yang memperbolehkan early check-in di Jepang.

Hotel ini saya pesan melalui situs booking.com. Fasilitas di hotel ini cukup lengkap, ada TV, kulkas, kursi, private bathroom, toiletries, meja rias, hair dryer, electric kettle dan teh, tapi tidak tersedia air mineral jadi saya harus membeli di vending machine seharga 110 yen per botol ukuran sedang. Harga kamar yang saya dapat saat itu adalah 8086 yen per malam untuk kamar double room. Saya dan si kakak tidak sempat tidur, kami hanya mandi dan berdandan karena harus bergegas ke Higashi Okazaki untuk bertemu Bibi Mariko (kenalan si kakak).

Sekitar jam 1 siang kami meninggalkan hotel dan menuju stasiun Toyohashi. Hujan sudah reda tapi angin masih bertiup kencang, untungnya saya sudah beli syal jadi tidak kedinginan. Kami naik kereta Meitetsu line seharga 550 yen per orang ke stasiun Higashi Okazaki, perjalanan sekitar setengah jam. Tiba di stasiun Higashi Okazaki, kami sudah disambut oleh bibi Mariko. Si kakak dengan girangnya berlari memeluk bibi Mariko. Bibi Mariko lalu menyuruh kami memakai jaket tebal yang sudah dia persiapkan karena cuaca di luar sangat dingin. Benar saja, sedang turun hujan meski tidak deras tapi suhunya dingin banget.

Bibi pun mengajak kami ke toko oleh-oleh yaitu Daiso. Daiso disini memang cukup besar seperti yang dikatakan oleh bibi Mariko. Hampir semua produk harganya 108 yen sudah termasuk pajak, kecuali beberapa produk yang harganya 300 yen. Saya sampai bingung mau beli apa hahaha... akhirnya beli kaos kaki, gantungan kunci berbentuk aneka sushi, nori, serta mainan buat si dede. Lagi-lagi pulpen shinkansen tidak saya temukan disini. susah bener ya nyari si pulpen ini. Si kakak yang paling kalap belanja oleh-olehnya, total belanjaannya sampai hampir 3000 yen๐Ÿ˜ฑ. Saya dikasih oleh-oleh sup miso dan abon dari Bibi Mariko hehhe.

Nggak cukup cuma di Daiso, bibi Mariko pun mengajak kami ke tempat oleh-oleh lainnya yaitu 100 yen (Hyaku-en) shop dan Book Off Bazaar di Seiyu Department Store. Jaraknya tidak jauh dari Daiso, kami berjalan kaki meski hujan rintik-rintik. Di Perjalanan menuju Seiyu ketemu lagi dengan sakura. 

Si kakak dengan tas belanjaannya hahaha

Sempat-sempatnya foto sama sakura
selfie dulu sama sakura meski muka kusut hehee
Di Seiyu kami mampir di McD untuk makan siang, sayangnya bibi Mariko tidak bersedia ditraktir karena beliau sudah makan siang sebelumnya. Di Hyaku-en Shop saya membeli beberapa oleh-oleh juga. Selesai belanja, saya sempatkan berfoto dengan beliau. Hari semakin sore dan hujan semakin deras. Bibi Mariko mengantar kami ke stasiun JR Okazaki. Setelah membeli tiket kereta, saya memeluk erat beliau. Sedih rasanya berpisah dengan beliau meski baru kenal. Bibi Mariko berjanji akan datang ke Bali 1 setengah tahun lagi. Saatnya untuk pergi, kami saling melambaikan tangan. Sampai jumpa lagi Bibi, senang sekali bisa bertemu anda...

Kami kembali ke Toyohashi untuk beristirahat. Bersiap untuk petualangan esok hari menaklukkan kastil Nagoya ๐Ÿ˜„.



Friday, May 19, 2017

Liburan Hari Keempat: Gunung Fuji


Petualangan hari keempat kami adalah Fujiyama alias Fuji-san alias Gunung Fuji. Rasanya belum "afdol" kalau ke Jepang tapi tidak mengunjungi Gunung Fuji. Sebenarnya akan lebih efisien kalau perjalanan dimulai lebih pagi sekitar jam 7 pagi, karena lama perjalanan menuju ke Gunung Fuji (stasiun Kawaguchiko) dari stasiun Tokyo menggunakan kereta rapid adalah sekitar 3 jam dengan dua kali transit yaitu di Takao dan Otsuki. Tapi karena si kecil bangunnya sekitar jam 8, akhirnya kami baru bisa pergi pada jam 10 setelah membayar tiket bus willer ke Toyohashi di Family Mart, mengirimkan koper dan sarapan pagi sebentar di Seven Eleven.

Saya membeli tiket bus malam Willer Express ke Toyohashi melalui situs Willer Express. Namun sebelum bisa membeli tiket, kita diwajibkan mendaftar terlebih dahulu sebagai member. Setelah mendaftar dan memilih tiket, kita bisa melakukan pembayaran melalui Lawson atau Family Mart jika tidak memiliki kartu kredit. Panduan pembayaran bisa dilihat di situs Willer Express, sangat lengkap dan terperinci kok.

Karena repot geret-geret koper, akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan jasa pengiriman koper dari Kuroneko Yamato. Tadinya saya minta tolong ke pihak Hostel untuk membantu proses pengiriman namun ternyata mereka hanya bisa membantu memberikan form pengiriman dan menyarankan saya untuk membawa koper ke Seven Eleven di dekat Hostel untuk dikirim. Bingung dengan formulir pengiriman yang berisi tulisan kanji tersebut, saya akhirnya minta bantuan resepsionis untuk mengisi formulir dengan tulisan kanji hehehe. Setelah itu, saya pun ke Sevel (Seven Eleven) membawa koper dan formulir untuk dikirim. Ternyata pihak Sevel juga punya formulir sendiri, akhirnya saya diminta mengisi ulang formulir pengiriman yang diberikan oleh pihak Sevel. Dengan bahasa Jepang pas-pasan saya menjelaskan bahwa yang membantu saya mengisi formulir adalah resepsionis Hostel karena saya tidak bisa kanji. Kasir Sevel pun senyam-senyum menatap saya lalu mengangguk tanda mengerti dan menuliskan kembali isi formulir saya ๐Ÿ˜…. Total biaya pengiriman dua koper ukuran medium adalah 2408 yen. Lumayanlah...
Formulir pengiriman Kuroneko Yamato
Koper dikasih kemasan plastik dari pihak Kuroneko Yamato
Setelah selesai, kami pun menuju stasiun Tokyo untuk melanjutkan perjalanan ke Kawaguchiko.Dari Stasiun Tokyo kami naik JR Chuo Line rapid for Takao, dari Takao naik JR Chuo Line for Kofu ke Otsuki lalu naik Fujikyu Railway ke Kawaguchiko. Harga tiket dari stasiun Tokyo ke Otsuki adalah 1490 yen, sedangkan dari Otsuki ke Kawaguchiko adalah 1140 yen. Ada juga kereta limited express yang lebih cepat dan tentunya lebih mahal harganya, harga dan jadwal keretanya bisa dilihat di situs HyperDia.

Di sepanjang perjalanan kami disuguhkan oleh pemandangan alam pegunungan dan pedesaan khas jepang yang sangat asri. Saya sempat memotret pohon sakura di beberapa stasiun yang kami singgahi. Keretanya juga beberapa kali melewati terowongan yang sukses bikin telinga saya seperti berada berjam-jam di atas pesawat terbang hahhaa...
Deretan bunga Sakura di sepanjang rel kereta
Sakura di stasiun Fujino
Maaf kalau yang ini saya lupa tempatnya :)
Sakura di depan stasiun Otsuki
Maaf, bukan maksud Pak Masinis menghalangi Gunung Fuji hehehe

Gunung Fuji di stasiun Fujisan

Tiba di Kawaguchiko saya kedinginan karena tidak bawa syal, sarung tangan apalagi topi kupluk padahal suhu saat itu adalah 8⁰C. Kami pun mampir minum kopi di kantin stasiun Kawaguchiko, Gateway Fujiyama. Selain cappuccino seharga 450 yen, saya juga pesan tempura udon yang harganya 700 yen karena penasaran ๐Ÿ˜„. Rasanya yah lumayanlah, si dede juga suka udonnya. Si kakak lebih beruntung karena pesan caramel cappuccino yang lebih manis dari kopi saya. Meski saya sudah ambil beberapa gula sachet untuk ditambahkan ke kopi, tetap saja masih pahit hahaha... Mungkin saya ditakdirkan diet gula selama di Jepang.

Setelah makan, kami jalan-jalan sebentar disekitar stasiun lalu naik bis berkeliling Gunung Fuji. Jujur saja setelah tiba di Kawaguchiko, tiba-tiba otak saya jadi blank nggak tau mau kemana hahaha... Ditambah tidak ketemu signal wifi, saya pun pakai jurus terakhir, ikutin turis lain sajah hahahaa... Beberapa pemberhentian terlewati, saya masih belum yakin mau turun dimana, padahal dari Indonesia sudah ngebayangin foto disamping pohon sakura dengan latar Gunung Fuji ๐Ÿ˜„. Memang dasar ibu-ibu rempong kalau sudah ribet dengan anak jadi lupa tujuan awal hahaha... Akhirnya tiba di satu pemberhentian dan banyak penumpang yang turun, hampir setengah isi bus. Saya pun memberi kode ke si kakak untuk bergegas turun juga dan memang tidak mengecewakan karena kami turun di Kachi-kachi Ropeway yang terkenal itu. Jadilah kami beli tiket roundtrip untuk naik Kachi-kachi Ropeway seharga 800 yen per orang. Wow! antrian lumayan panjang, tapi nggak apa-apa karena tak lama kemudian kami sudah bisa naik. Pemandangan dari atas Ropeway cukup indah, tapi sayang karena saat itu hari sudah agak berkabut.
Danau Kawaguchi dari atas Ropeway
Hanya sekitar 3 menit naik ropeway, kami pun sampai di atas. Gunung Fuji lebih jelas terlihat dari tempat ini. Suhu juga lebih rendah sehingga tangan dan lutut saya menjadi kram. Saran saya jika anda akan berkunjung ke gunung Fuji, carilah info cuaca sebelum berkunjung dan persiapkan semua perlengkapan. Bagi yang muslim, sebaiknya membawa bekal karena agak susah menemukan menu halal. Kalaupun ada, tidak akan cukup waktu untuk wara wiri mencarinya.
Gunung Fuji dari tempat Observasi
 
Gunung Fuji dan Fuji-Q Highland 
Gunung Fuji di sore hari dari stasiun Kawaguchiko
Hari menjelang malam ketika kami kembali ke stasiun Kawaguchiko. Sebelumnya saya sempat membeli oleh-oleh manisan apel dan manisan buah ume, saya suka manisan umenya. Di stasiun Kawaguchiko saya langsung membeli tiket kereta Fujikyu ke Otsuki.Tiba di Otsuki, saya bingung karena sudah jam 7 malam. Padahal saya harus tiba di Tokyo sebelum jam 10 malam karena harus naik bis ke Toyohashi. Saya bertanya ke petugas JR di loket dan rekomendasi dari petugas tersebut adalah kereta Limited Express Kaiji yang berangkat pukul 19:33 menuju Shinjuku, lalu berganti ke kereta rapid menuju Tokyo. Waktu kami hanya beberapa menit lagi sebelum kereta tersebut tiba. Saya pun setuju dan segera membeli tiket kereta tersebut. Karena mengejar waktu saya dan si kakak berlari menuju track yang sudah diberitahu oleh petugas.
Tiket Kereta Limited Express Kaiji
Di Dalam Kereta Limited Express Kaiji menuju Shinjuku
Setelah naik kereta, hati saya baru bisa lega. Si dede sudah tertidur karena kecapean, saya pun berusaha tidur karena lama perjalanan ke Shinjuku adalah 1 jam. Dari Shinjuku kami naik JR chuo line ke stasiun Tokyo. Bisa juga naik JR Yamanote line. Tiba di stasiun Tokyo sudah jam 9 malam, saya sempatkan membeli susu dan cemilan untuk si dede dan membeli kaos kaki di outlet Uniqlo. Bulan April cuaca masih dingin dan lembab, kaos kaki cepat lembab dan bau. Jadi saya sarankan membawa banyak stok kaos kaki agar kaki dan sepatu tidak bau.

Kami mencari pintu keluar South Yaesu untuk menuju ke Kajibashi parking lot, tempat bus Willer Express berada. Keluar dari stasiun saya bingung karena tidak melihat tempat parkir yang dimaksud. Akhirnya ketemu pak polisi ganteng bersepeda yang rela mengantarkan hehehe. Terima kasih pak, jasamu tidak akan terlupakan๐Ÿ˜Š. Pak polisi bahkan rela menunggu saya memotret beberapa pohon sakura di tepi jalan dan mengajak saya ngobrol. Dari pintu keluar South Yaesu, tinggal belok kanan lalu lurus saja menyusuri trotoar. Setelah ketemu lampu merah, lurus lagi dan itulah Kajibashi Parking lot. Pak polisi tadi mengantarkan kami sampai di lampu merah. Sayang sekali saya lupa selfie dengan beliau hehehe.

Memasuki area parkir saya melihat petugas bus Willer sedang sibuk memberi arahan kepada calon penumpang agar masuk ke ruang tunggu yang telah tersedia agar bisa memperhatikan pengumuman bus yang akan tiba dan akan berangkat. Tapi karena ruang tunggunya tampak sesak saya memutuskan untuk menunggu diluar.

Tak lama ada seorang bule yang tidak bisa bahasa Jepang sedang bertanya kepada petugas tersebut tentang jadwal bus dan beberapa informasi lainnya. Si petugas yang juga tidak terlalu fasih berbahasa Inggris jadi bingung. Mereka berdebat cukup lama. Saya pun mendekati petugas dan membantu menjelaskan maksud si pria bule. Dengan Bahasa Jepang seadanya saya bilang bahwa si bule ingin tahu jika jadwal busnya sudah tertera di papan pengumuman, dia harus melapor kepada siapa untuk bisa naik ke bus. Si petugas akhirnya mengerti lalu mengatakan kepada saya bahwa dia hanya perlu memperhatikan nomor tempat parkir dan mendatangi bus yang parkir di nomor tersebut, supir bus akan menunggu penumpang di samping bus. Jadi dia hanya perlu melapor kepada supir bus saja. Saya lalu menerjemahkan apa yang dikatakan oleh petugas tadi kedalam bahasa Inggris kepada si bule. Si bule pun ngangguk-ngangguk tanda mengerti. Dan case closed hahaha. Si bule berterima kasih kepada saya, begitu pun petugas yang menunduk sambil bilang arigatou gozaimashita. Saya balas menunduk dan bilang iie douitashimashite.

Masih 40 menitan lagi jadwal bis saya, saya dan si kakak memutuskan untuk jalan-jalan diluar tempat parkir mencari mini market. Ketemu Lawson, karena barang yang dicari si kakak tidak ada akhirnya kami jalan-jalan saja. Ketemu beberapa pohon sakura yang cantik, saya sempatkan memotretnya.
Cantik sekali sakura di Yaesu pada waktu malam
Bersih sekali kota Tokyo
Setelah puas jalan-jalan, kami kembali ke Kajibashi dan mencari info kedatangan bus. Masih belum muncul di papan pengumuman. Kami pun kembali menunggu di luar, kali ini ketemu dengan orang Indonesia yang sedang membawa keluarganya liburan. Kami mengobrol panjang lebar, sampai akhirnya tiba giliran mereka naik bus. Tak lama kemudian kami pun naik bus menuju Toyohashi.

Selamat tinggal Tokyo, sampai jumpa lagi nanti ya... 

Thursday, May 18, 2017

Liburan Hari Ketiga: Shibuya

Jalan-jalan hari ketiga kami hanya ke Shibuya karena si kecil rewel dan hari itu hujan lebat disertai angin kencang. Akhirnya kami yang sudah siap-siap dari jam 9 pagi, terpaksa tetap tinggal di hostel saja. Saya pun memutuskan untuk laundry pakaian saja.

Di Planetyze Hostel terdapat coin laundry, beruntung saat itu mesin sedang menganggur jadi saya leluasa menggunakannya. Namun saya lupa beli deterjen, celingak-celinguk akhirnya nemu deterjen cair dalam bentuk pods di samping mesin cuci. Entah milik siapa, karena ada banyak saya berasumsi pasti disediakan oleh pihak hostel. Seperti yang telah saya jelaskan di artikel sebelumnya, mesin cuci koin ini tidak ribet pengoperasiannya karena sudah otomatis. Tinggal masukkan deterjen dan baju lalu masukkan koin 200 yen dan mesin pun bekerja selama 30 menit. Setelah itu saya menggunakan mesin Dryer di atasnya. Saat itulah datang dua org bule yang juga pengen laundry. Mereka mencoba membuka pintu ruang laundry yang saya sengaja kunci dari dalam :). Begitu saya buka mereka terkejut kemudian bilang sorry sorry... Saya hanya tersenyum dan menawarkan mesin cuci yang memang sudah kosong. Mereka berdua tersenyum gembira.

Setelah semua pakaian dimasukkan ke mesin si bule bingung nyari deterjen, lantas saya bilang bahwa saya menggunakan deterjen cair yang ada di samping mesin. Si cewek bule pun mengambilnya.Deterjennya harum sekali, sepertinya sudah sekaligus dengan pewangi. Si bule memasukkan koin 200 yen lalu bingung mau mencet tombol yang mana, akhirnya dia mencet tombol yang ada ikon airnya. Ternyata saat berada di Jepang, semua orang bisa kumat kekatroannya gara-gara huruf kanji dan hiragana hehhe.

Pukul 3 sore hujan sudah mulai reda, saya membangunkan si kakak yang sedang lelap tertidur. Kami bersiap menuju Shibuya. Kami naik kereta JR Sobu Line dari Stasiun Bakurocho ke Stasiun Tokyo lalu berganti ke JR Yamanote Line menuju Stasiun Shibuya. Tiba di Stasiun Shibuya ternyata ramai sekali, saya dan si kakak sibuk memperhatikan petunjuk pintu keluar Hachiko Exit. Suasana setelah keluar dari Hachiko Exit ternyata super ramai dan penuh sesak. Mata saya langsung tertuju pada Shibuya Pedestrian Cross yang terkenal itu, wow ramai sekali!
Suasana saat keluar dari Stasiun Shibuya
Saya dan si kakak jadi semangat sambil senyum-senyum kami berdua mencari si patung Hachiko, tidak sabar pengen selfie hehehe. Ternyata si Hachiko terhalang sebuah bus yang dijadikan semacam pusat informasi (maaf pemirsah saya lupa namanya heheh). Di sekeliling patung sudah banyak turis yang antri untuk berfoto, saya dan kakak Shinji terpaksa harus rela menunggu giliran.
Kakak Shinji sudah tak sabar memotret Hachiko
Si dede main serobot antrian, malah nongkrong dibawah patung hehehe
Akhirnya kesampaian juga si Kakak foto sama Hachiko
Selfie dengan sakura di depan stasiun Shibuya :)

Puas foto-foto dengan Hachiko, kami pun menyeberang ke arah Shibuya 109 lalu menyusuri jalan menuju Don Quijote Shibuya. Kenapa tidak mampir di Shibuya 109? karena perut sudah lapar sekali jadi kami menyusuri jalan mencari KFC atau McD yang menurut peta adanya di sekita situ. Yup ketemu juga akhirnya di sebuah lorong di seberang Yamada Denki LABI. Pertama kali makan di McD Jepang, pesan nasi ternyata tidak tersedia nasi, hanya ada kentang goreng, paket ayam, serta burger. Okelah kami pesan dua jenis Beef Burger, kentang goreng dan pepsi. Kami naik ke lantai dua sudah penuh kursinya, akhirnya naik lagi ke lantai tiga alhamdulillah masih ada kursi kosong. Saya menatap sekeliling tidak terlihat pelayan, lalu ada pelanggan yang telah selesai makan membawa sendiri nampannya dan membuang sisa makanan serta perlengkapan makan di tempat sampah yang sudah disediakan. Wow luar biasa tertib dan disiplinnya orang Jepang.

Selesai makan kami lanjut ke Don Quijote, toko oleh-oleh paling populer selain Daiso. Karena si kakak pengen berpencar akhirnya saya naik ke lantai atas untuk mencari oleh-oleh titipan Mr. Hubby yaitu pulpen berbentuk Shinkansen. Sibuk muter-muter, akhirnya ketemu juga tempat alat tulis. Sayang sekali, setelah bertanya kepada pelayan toko rupanya tidak ada pulpen yang dimaksud. Akhirnya beli 2 set eraser unik berbagai macam bentuk seperti pesawat, kapal dan alat-alat pemadam kebakaran. Si dede tampak girang dengan mainan barunya. Si kakak yang dari tadi muter-muter masih belum menemukan apa yang dicari. Petualangan di Don Quijote harus berakhir karena tiba-tiba si dede "pup" dan di toko itu tidak tersedia toilet.
Kami pun bergegas ke sebuah Mall di seberangnya, bukan untuk belanja tapi hanya numpang ke toilet. Harga produk di mall tersebut bisa membuat saya bangkrut mendadak hahahah...

Hari semakin malam, dan kami pun berjalan kembali ke stasiun. Tapi eits, ketemu H&M saya dan si kakak pun mampir sebentar. Dan jadilah kami beli dua jaket masing-masing seharga 1999 yen. Dalam perjalanan menuju stasiun kami bertemu iring-iringan mobil cosplay Mario Bross yang sedang konvoi di Shibuya, kebetulan mereka berhenti di lampu merah sehingga suasana semakin riuh oleh para fans yang sibuk mengambil foto maupun berselfie dengan mereka. Si kakak tidak ketinggalan turut mengabadikannya.

Malam itu kami pulang dengan hati gembira walau hanya bisa pergi ke Shibuya. (^-^)



Wednesday, April 26, 2017

Liburan Hari Kedua: Asakusa, Sumida River, Ueno Koen, dan Harajuku

Setelah istirahat full di hari Pertama, kami pun memulai petualangan di Jepang pada hari kedua yaitu sabtu 8 April 2017. Malam sebelumnya saya sudah janjian dengan salah satu mantan Manager saya di perusahaan dulu yaitu Fujisaki san mengenai jadwal tempat yang akan saya kunjungi agar disesuaikan dengan waktunya. Dan Jadilah kami ketemuan di Asakusa Kaminarimon Gate.

Kami pun keluar dari hostel menuju stasiun Higashi Nihombashi. Lho? kok bukan Bakurocho??? yup begitulah pemirsah, Bakurocho nggak konek ke Asakusa tapi jalurnya ke Ryogoku. Jadi saya ke Higashi Nihombashi yang langsung menuju stasiun Asakusa. Di luar hostel hujan gerimis menanti kami, tapi nggak basah kuyup kok, hanya gerimis. Jalan ke Higashi Nihombashi lumayan juga, hampir nyasar karena ketemu perenaman bukan perempatan atau simpang lima lagi tapi simpang enam ahahah.. Untunglah ada bapak-bapak gaul yang nunjukin jalan hehehe...
Foto ditengah gerimis sebelum menuju ke Stasiun Higashi Nihombashi

Di stasiun Higashi Nihombashi, kekatroan saya kumat lagi, kenapa? karena salah mencet jumlah orang di mesin tiket jadinya saya beli 2 tiket dewasa dan 1 tiket anak. ya sudah lah... Tiba di stasiun Asakusa saya bingung lagi karena nggak bisa wifi-an buka maps mo ke kaminarimon.. akhirnya ketemu papan informasi dan yup ikuti aja petunjuknya, kelihatan deh Kaminarimon Gate yang very very famous itu... sugoi! Di pintu masuk menuju kuil Senso-ji itu, sudah ramai dipadati wisatawan, saya dan Fujisaki san janjian disitu. Karena saya sampai 30 menit lebih awal, meranalah saya menunggu selama 30 menit hahaha... Daripada bengong mending kami selfie saja disitu bersama para wisatawan lain.

Selfie di Kaminarimon Gate

Orang yang ditunggu akhirnya muncul juga, Fujisaki san masih belum banyak berubah, masih seperti 12 tahun yang lalu. Setelah bersalaman kami ngobrol sejenak di Kaminarimon Gate, lalu melangkah masuk menyusuri Nakamise dori. Banyak penjual souvenir yang cantik-cantik tapi harganya juga cantik hehehe. Saya menyempatkan masuk ke salah satu toko untuk membeli kaos kaki lucu, gunting berkarakter wanita Jepang dan sarung tangan anak saya. Mendekati Hozomon Gate, berjejer pohon sakura yang sangat indah. Ada beberapa wisatawan china yang pakai kimono, lucu lihatnya.
Deretan pohon sakura di Kuil Senso-ji

Wisatawan China yang memakai kimono :)

Kemudian kami tiba di Hozomon Gate, karena belum sarapan kami ditraktir chicken karaage oleh Fujisaki san. Bentuknya seperti ayam krispi tapi bumbunya enak banget. Puas banget makannya, walaupun sambil berdiri karena memang nggak disediaiin tempat. Hanya disediain tempat sampah sisa makanan dan kemasan saja heheehee. Sayang sekali saya lupa foto ayam karaagenya, mungkin karena saking fokus menikmati kelezatannya. Tapi ada koq produk lokalnya di Indonesia, cari aja di swalayan.

Hozomon Gate Senso-ji, Asakusa

Foto bareng Fujisaki san
Saya nggak masuk ke dalam kuil Senso-ji karena ada banyak orang yang beribadah dan ada banyak wisatawan juga di dalam. Saya hanya memperhatikan halaman kuil ada satu tempat bernama Mikuji yang dipadati wisatawan, setelah bertanya pada Fujisaki san ternyata itu tempat ramalan nasib hehehe pantas saja. Diseberangnya ada tempat membeli Omamori (jimat).
Mikuji

Tempat membeli Omamori

Setelah puas melihat-lihat, kami pun meninggalkan kuil Senso-ji menuju Sekai Cafe untuk makan siang. Salah satu tempat makan Halal di Asakusa adalah Sekai Cafe. Namun sayang karena kurang info, saat tiba di Sekai Cafe, hanya tersedia Pizza halal hahaha. Saya bertanya ke pelayan cafe yang berjilbab dan wajahnya seperti orang Indonesia menggunakan bahasa Jepang, karena penasaran saya tanya juga apakah dia bisa bahasa Indonesia dan ternyata memang orang Indonesia hahhaha.. Akhirnya kami makan Pizza aja dan minum jus.

Setelah puas bersantai di Sekai Cafe, kami melanjutkan perjalanan ke Tokyo Sky Tree, menara tertinggi di Jepang. Sayangnya Sky Tree tertutup kabut jadi hanya kelihatan setengah, akhirnya kami hanya foto-foto dan menikmati sakura di Sumida river saja.
Tokyo Sky Tree yang tertutup kabut di belakang gedung Asahi Flame

Shinji chan dan Hyuga kun sedang asik sendiri
Kakak Shinji sibuk foto-foto

Ibu dan Hyuga kun juga pengen selfie di bawah pohon sakura di Sumida River
Melihat deretan pohon sakura di tepi sungai Sumida, kami pun kalap untuk foto-foto hahhaha... Mimpi saya untuk melihat sakura secara dekat pun menjadi nyata... Karena gerimisnya semakin lama semakin deras, maka setelah puas foto-foto, kami pun kembali ke stasiun asakusa untuk menuju taman Ueno (Ueno koen). Kali ini beli tiketnya dibantu Fujisaki san jadi nggak salah lagi hehehe...

Tiba di Ueno koen wisatawan tambah padat, jalan menuju taman saja harus berdesak-desakan. Di dalam taman sudah jangan ditanya lagi situasinya, semua tempat full booked! Ternyata karena ini hari libur, jadi banyak warga Jepang yang sedang hanami di taman Ueno. Akhirnya kami hanya jalan-jalan berkeliling taman, lalu menuju tempat belanja di Ameyayoko-cho.
Padatnya taman Ueno karena Hanami
Walaupun hujan gerimis, Hyuga kun tetap semangat keliling taman
Ameyayoko-cho
Menyusuri lorong kaki lima di Ameyayoko-cho hujan semakin deras, akhirnya saya memutuskan untuk membeli payung seharga 350 yen. Di sini saya juga sempat membeli es krim seharga 120 yen untuk ukuran kecil. Hujan-hujan makan es krim? yah begitulah kalau bawa anak hehehe... Kami hanya berkeliling disini, tidak ada niat untuk belanja karena yang saya temui justru banyak toko pakaian untuk cowok heheh...

Lelah jalan-jalan, Fujisaki san mengajak kami bersantai di Lotteria dekat stasiun Ueno. Full booked juga rupanya disini, tapi setelah menunggu sebentar, kami dapat tempat duduk juga akhirnya... Si Hyuga sudah tertidur karena capek. HP saya sudah menunjukkan signal kritis, akhirnya saya tanya ke Fujisaki san dimana tempat beli adaptor untuk charger HP saya karena saya lupa beli di Jakarta. Di Jepang colokannya pipih tidak seperti Indonesia. Akhirnya saya dikasih charger pipih oleh Fujisaki san... Tasukarimashita!!! Senangnya hatiku... Karena sudah sore, Fujisaki san tidak bisa menemani kami ke Harajuku. Kami pun berpisah di stasiun Ueno. Beliau kembali ke Fukushima dan kami lanjut ke Harajuku, tempat impian kakak Shinji hahaha...

Takeshita dori
Padatnya Takeshita dori
Keluar dari stasiun Harajuku, langsung nampak Takeshita dori di seberang. Alamak padatnya... Setelah menyebrang dan mulai masuk ke Takeshita dori rasanya tambah semangat. Walau berdesak-desakan tetap saja kami senang...Karena HP saya sudah lowbet akhirnya saya nggak bisa foto-foto lagi hahaha... Nebeng HP kakak Shinji saja. Karena niatnya pengen belanja disni akhirnya saya beli kaos dengan gambar kucing seharga 1500 yen dan kaos kaki panjang seharga 500 yen untuk kakak Shinji. Hyuga kun dapat mainan ice krim seharga 400 yen. Si Kakak sempet-sempetnya foto bareng si penjaga toko yang nyentrik abis hahaha...
Si Penjaga toko nyentrik :)

Jalan sampai ke ujung Takeshita dori, kami lalu berbelok ke Meiji dori melewati Forever 21 store dan H&M. Diseberangnya saya melihat ada Line Friends store, pengen kesitu tapi malas jalan lagi. Bener-bener capek. Kami hanya nongkrong di tepi jalan bersama para wisatawan lainnya. Si kakak gemes sama anjing milik wanita Jepang yang kebetulan lewat, sampai pake selfie segala. Akhirnya karena lapar kami balik ke stasiun, mampir di Yoshinoya disebelah pintu masuk Takeshita dori tadi. Di depan Yoshinoya saya dan si kakak agak ragu, tapi karena bingung HP dah lowbet dan saya dengar banyak orang Indonesia yang makan di sini akhirnya saya meyakinkan si kakak untuk makan di Yoshinoya saja.

Tiba di lantai atas (saya lupa lantai 2 atau 3) sudah saya duga ada orang Indonesia ahahah... Pada pelayan restonya saya bertanya menu yang nggak pakai babi. Saya bilang bahwa kami tidak bisa makan babi, jadi adakah menu lain selain babi. Lalu dengan sigap si pelayan restoran menyodorkan menu berbahasa Inggris (sebelumnya saya ambil menu berbahasa Jepang, gubrakkk!). Jadilah kami pesan beef bowl, menu favorit orang Indonesia saat makan di Yoshinoya hahahaa... Rasanya... hmmm lumayan lah. Saat sedang asik makan, datanglah rombongan turis Indonesia, lalu duduk disebelah meja kami. Mereka lagi bingung karena menunya dalam bahasa Jepang. Si Ibu yang sedang ngotot bilang dulu dia pernah makan menu babi di Yoshinoya tapi dia nggak ingat gambar yang mana. Lalu tanpa basa basi, saya memberi menu berbahasa Inggris kepada meraka. Saya bilang "Maaf bu, ini ada menu bahasa Inggrisnya" :). Si Bapak dengan senyum ramah mengambil menunya dan bilang terima kasih. Selesai makan kami segera pulang (tak lupa bayar di kasir tentunya heheh). Saat turun, kami berpapasan lagi dengan sekelompok cewek Indonesia berjilbab yang mau makan di Yoshinoya. Tuh kan memang Yoshinoya tempat favorit orang Indonesia di Jepang hahaha...

Di depan stasiun Harajuku, saya termenung memandangi papan jalur kereta, bukan karena papannya nyentrik seperti toko-toko di Takeshita dori, tapi karena tulisannya nggak ada bahasa Inggris hiks :'( sedih hati saya pemirsah... Mana HP saya lowbet, HP kaka Shinji juga nggak nemu signal wifi... akhirnya pake insting... Karena dah hafal letak stasiun saya dari stasiun Tokyo akhirnya saya beli tiket sesuai harga yang tertera di situ saja hehhehe... Toh kalau pun kurang kan ada mesin adjusment fare. Dan pulanglah kami dengan selamat naik JR Yamanote line for Tokyo lalu transfer ke JR Sobu line ke Bakurocho.

Demikianlah petualangan kami hari ini, walaupun rencana awal pengen ke Shibuya dan Odaiba, apa daya pemirsah kaki kami sudah nggak mampu lagi melanjutkan petualangan... Semoga petualangan hari ini bisa memberikan informasi yang bermanfaat bagi pembaca sekalian. Saatnya rehat untuk petualangan hari ketiga...

Jangan lupa ya selipkan pertanyaan atau komentarnya.... (^-^)v

Liburan Hari Keenam: Nagoya

Pagi ini, saya harus segera ke Nagoya untuk bertemu dengan "Otousan" (Kanetani san). Saya janji akan bertemu dengan beliau pada p...